Roadshow G2S (GenRe and GATI Goes to School) di Kapanewon Tepus Sasar 4 Sekolah



Oleh: Dwi Lestyandari, AMd Gizi, SIKom (PKB Tepus)

TEPUS | Di tengah derasnya arus informasi yang begitu cepat mengalir ke ruang-ruang kehidupan remaja, isu tentang masa depan generasi muda tidak lagi bisa dipandang sebagai urusan yang jauh di depan. Ia hadir hari ini, di ruang kelas, di percakapan sehari-hari, bahkan di cara remaja memaknai masa depannya sendiri. Dari kegelisahan itulah Kegiatan Inovasi G2S (Generasi Berencana Goes to School) lahir, sebuah inisiatif yang digagas oleh Penyuluh KB Kapanewon Tepus, Dwi Lestiyandari, SIKom, MAP.

Gagasan ini berangkat dari analisis lapangan yang menunjukkan masih tingginya angka pernikahan dini serta kehamilan tidak diinginkan (KTD) pada usia sekolah. Fakta ini bukan sekadar angka statistik, melainkan potret nyata tentang masih adanya celah dalam pemahaman remaja mengenai kesehatan reproduksi dan perencanaan masa depan. Karena itu, diperlukan upaya pencegahan yang tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga edukatif dan menyentuh kesadaran.

Melalui pendekatan tersebut, G2S hadir dengan membawa pesan penting: remaja bukan sekadar fase transisi, tetapi masa penentuan arah hidup. Materi yang disampaikan mencakup generasi berencana, kesehatan reproduksi remaja, pencegahan stunting sejak dini, pendewasaan usia perkawinan, hingga penyiapan peran remaja putra sebagai calon ayah yang bertanggung jawab di masa depan. Semua itu dikemas dalam bahasa yang lebih dekat dengan dunia remaja agar tidak terasa menggurui, tetapi justru mengajak untuk berpikir bersama.

Salah satu strategi utama yang dilakukan adalah melalui roadshow ke sekolah-sekolah tingkat SLTP dan SLTA di Kapanewon Tepus. Kegiatan ini tidak hanya menjadi agenda sosialisasi, tetapi juga ruang dialog antara penyuluh dan peserta didik. Di sinilah pendidikan mengambil bentuk yang lebih hidup: bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan proses saling memahami.

Respons dari pihak sekolah pun terbilang sangat positif. Banyak sekolah yang memberikan dukungan penuh dengan menyediakan waktu khusus bagi pelaksanaan kegiatan, bahkan di beberapa tempat kegiatan dapat dilakukan lebih dari satu kali pertemuan. Hal ini menunjukkan bahwa isu yang diangkat G2S memang relevan dengan kebutuhan pendidikan karakter di lingkungan sekolah, khususnya dalam membekali siswa menghadapi realitas sosial yang semakin kompleks.

Dalam pelaksanaannya, Penyuluh KB lebih menekankan metode diskusi dua arah. Pendekatan ini memungkinkan terjadinya interaksi yang lebih terbuka, di mana siswa tidak hanya menjadi pendengar, tetapi juga pengungkap pengalaman, pertanyaan, dan pandangan mereka sendiri. Dari proses inilah terlihat bahwa sebagian remaja sebenarnya memiliki rasa ingin tahu yang besar, namun belum mendapatkan ruang yang aman dan tepat untuk membicarakan isu-isu kesehatan reproduksi dan masa depan keluarga.

Tujuan utama dari kegiatan roadshow G2S ini adalah membentuk kesadaran remaja agar memiliki perencanaan hidup yang lebih matang, sehingga tidak terjebak dalam risiko pernikahan dini maupun kehamilan tidak diinginkan. Lebih jauh lagi, khusus bagi remaja putra, kegiatan ini juga menekankan pentingnya kesiapan menjadi calon ayah yang tangguh, bukan hanya secara biologis, tetapi juga secara emosional, sosial, dan tanggung jawab peran.

Hingga bulan Mei 2026, kegiatan roadshow G2S telah menyasar empat sekolah, yaitu SMK Negeri 1 Tepus, SMP Negeri 3 Tepus, SMP Muhammadiyah 1 Tepus, dan SMP Negeri 1 Tepus. Capaian ini menjadi langkah awal yang penting, sekaligus membuka jalan untuk perluasan jangkauan ke seluruh sekolah tingkat SLTP dan SLTA di Kapanewon Tepus pada bulan-bulan berikutnya.

Di balik program ini, ada harapan yang tidak sederhana: bahwa remaja tidak hanya tumbuh menjadi generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga matang dalam memahami dirinya, tubuhnya, dan masa depannya. Sebab pada akhirnya, masa depan tidak dibentuk oleh kebetulan, melainkan oleh keputusan-keputusan kecil yang mulai dipahami sejak hari ini—di ruang kelas, di obrolan ringan, dan di keberanian untuk bertanya.

G2S, dalam konteks ini, bukan sekadar program. Ia adalah ruang pengingat bahwa setiap remaja berhak mendapatkan informasi yang benar, kesempatan untuk berdialog, dan pendampingan untuk tumbuh menjadi generasi yang lebih siap menghadapi kehidupan. Dan mungkin, dari ruang-ruang kecil di sekolah itulah, masa depan yang lebih terencana mulai dibangun pelan-pelan.(*)
0 Viewers

Post a Comment

0 Comments

The Magazine