Oleh: Rizki Anjasmoro, AMd (PKB Kapanewon Semanu)
SEMANU | Besarnya jumlah populasi anak dan remaja yang hampir sepertiga dari total penduduk di Kalurahan Pacarejo menciptakan urgensi akan pola asuh yang ideal dan membutuhkan kehadiran sosok ayah yang tidak hanya berperan sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendamping, pelindung, dan teladan dalam tumbuh kembang mereka.Melihat pentingnya peran ayah dalam keluarga, diperlukan upaya nyata untuk mendorong keterlibatan ayah secara lebih aktif dan berkualitas. Oleh karena itu, Kalurahan Pacarejo melalui program DEKAT (Desa/Kelurahan Ayah Teladan) menghadirkan inovasi penguatan peran ayah melalui kegiatan Sekolah Ayah Jalu Mituhu.
Sekolah Ayah Jalu Mituhu Pacarejo terpilih sebagai salah satu dari tiga implementasi Program DEKAT dengan Praktik Terbaik (Best Practice). Menanggapi hal tersebut, dilaksanakan presentasi mengenai pelaksanaan dan keberhasilan Sekolah Ayah Jalu Mituhu sebagai bentuk inovasi penguatan peran ayah di tingkat kalurahan, yang disampaikan langsung oleh Sumaryadi, SPd, selaku Kamituwa Kalurahan Pacarejo sekaligus Kepala Sekolah Ayah Jalu Mituhu.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Suhadi, SAP, selaku Lurah Kalurahan Pacarejo, Dr Mustikaningtyas, SPsi, MPH, sebagai Perwakilan BKKBN DIY, Mohammad Ali Mas’udi, SKM, MPH, selaku Kepala Bidang KB dan Dalduk DPMKPPKB Kabupaten Gunungkidul, serta Koordinator BPKB Semanu, Asar Janjang Lestari, SPsi, MAP.
“Penamaan Jalu Mituhu diambil dari salah satu
falsafah Jawa. Jalu melambangkan sosok laki-laki atau ayah yang kuat dan kokoh,
sedangkan Mituhu mencerminkan sifat setia, patuh pada amanah, serta penuh
tanggung jawab dalam menjalankan perannya”, ungkap Sumaryadi,
Kamituwa Pacarejo sekaligus Kepala Sekolah Ayah Jalu Mituhu.
Kegiatan ini menyasar para dukuh dan pamong kalurahan sebagai figur yang tidak hanya berperan dalam pemerintahan, tetapi juga diharapkan menjadi teladan dalam keluarga dan lingkungan masyarakat. Dukuh merupakan tokoh kunci yang paling dekat dan didengar oleh warga, sehingga memiliki peran strategis dalam menyampaikan nilai-nilai pengasuhan kepada masyarakat.
Dengan melibatkan dan melatih para dukuh, program ini tidak hanya berhenti di ruang kelas, tetapi dapat terdistribusi secara luas hingga ke seluruh pelosok kalurahan. Melalui Sekolah Ayah, peserta dibekali pemahaman mengenai pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan, komunikasi yang efektif dalam keluarga, serta peran ayah dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Kegiatan Sekolah Ayah Jalu Mituhu dilaksanakan melalui koordinasi dengan berbagai mitra, antara lain Penyuluh KB Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul, serta Komunitas Penggiat Ayah Teladan (KOMPAK TENAN) “Rumah Besar Semanu”.
Dalam proses pengembangannya, telah dilakukan rangkaian kegiatan penyusunan kurikulum Sekolah Ayah yang bekerja sama dengan Kampung KB Kalurahan Pacarejo, KOMPAK TENAN “Rumah Besar Semanu”, Tim Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada (UGM), Penyuluh KB Kapanewon Semanu, serta Perwakilan BKKBN DIY. Kegiatan ini berlangsung pada tanggal 22 Mei hingga 25 Juli 2025. Adapun rangkaian kegiatan yang dilakukan meliputi penelaahan profil 5.002 anak dan remaja di Kalurahan Pacarejo, diskusi penamaan Sekolah Ayah yang disesuaikan dengan nilai-nilai lokal, penyusunan draf kurikulum, hingga pelaksanaan uji publik dan pembahasan kurikulum Sekolah Ayah
Sekolah Ayah Jalu Mituhu Resmi Dibuka
Sekolah Ayah Jalu Mituhu resmi diluncurkan pada tanggal
23 Juli 2025, bertepatan dengan Peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas)
ke-32 Kabupaten Gunungkidul Tahun 2025 yang diselenggarakan di Pendopo
Kapanewon Semanu, Kabupaten Gunungkidul. Peresmian kegiatan ini ditandai dengan
pengalungan tanda identitas kepada warga belajar Sekolah Ayah oleh Wakil Bupati
Gunungkidul, Joko Parwoto, SE, MM, serta Sekretaris Perwakilan BKKBN Daerah
Istimewa Yogyakarta, Rohdhiana Sumariati, SSos, MSc.
Kelas pertama Sekolah Ayah Jalu Mituhu dilaksanakan pada tanggal 4 September 2024. Kegiatan diawali dengan penandatanganan komitmen bersama dan kontrak belajar, dilanjutkan dengan pemberian materi, “Pola Asuh & Fatherless”, oleh tim Fakultas Psikologi UGM, serta pelaksanaan post-test untuk mengukur pemahaman warga belajar. Kegiatan ini dibuka oleh Sekretaris Kemendukbangga/BKKBN Perwakilan DIY, didampingi oleh Kepala Dinas PMKPPKB Kabupaten Gunungkidul, Komunitas Ayah Rumah Besar Semanu, Panewu Semanu, serta Lurah Kalurahan Pacarejo.
Aplikasi Materi kepada Masyarakat dan Capaian Program
Setelah 1 (satu) Semester mendapatkan materi, para warga
belajar yang merupakan Dukuh melakukan Sosialisasi dan edukasi GATI kepada
komunitas Bapak-Bapak di lingkungannya masing-masing.
“Penyampaiannya dapat melalui kegiatan kumpul bersama, seperti pertemuan padukuhan, pertemuan RT/ selapanan, arisan bapak bapak, jamaah pengajian, atau kumpul lain” ujar Sumaryadi.
Melalui peran aktif tersebut, sebanyak 28 dukuh dan
pamong kalurahan di Kalurahan Pacarejo berkomitmen memastikan seluruh kepala
keluarga di wilayahnya mendapatkan literasi pengasuhan ayah serta pemahaman
mengenai Program GATI. Upaya ini diharapkan mampu menjangkau potensi 5.736
kepala keluarga dan memberikan dampak positif dalam perlindungan serta
pengasuhan terhadap 5.002 anak dan remaja di Kalurahan Pacarejo.
Keberadaan Sekolah Ayah Jalu Mituhu di Kampung KB Kalurahan Pacarejo juga
memberikan dampak yang lebih luas. Hal ini terlihat dari adanya beberapa
wilayah yang telah melakukan studi tiru dan mulai mereplikasi kegiatan Sekolah
Ayah di daerahnya masing-masing. Inisiatif tersebut menunjukkan bahwa program
ini tidak hanya bermanfaat di tingkat lokal, tetapi juga memiliki potensi untuk
dikembangkan dan diterapkan secara lebih luas sebagai upaya penguatan peran
ayah dalam keluarga.
Dengan berbagai upaya yang telah dilakukan, Sekolah Ayah Jalu Mituhu menjadi langkah nyata dalam memperkuat peran ayah di tingkat masyarakat. Program ini tidak hanya meningkatkan pemahaman, tetapi juga mendorong perubahan perilaku menuju pola pengasuhan yang lebih positif, responsif, dan bertanggung jawab. Diharapkan inisiatif ini dapat terus berkembang dan menjadi inspirasi bagi wilayah lain dalam mewujudkan keluarga yang harmonis serta generasi yang sehat, berkualitas, dan berdaya saing.[]
0 Comments