PATUK | Suasana Balai Kalurahan Putat, Kapanewon Patuk, pada Sabtu, 25/4, tampak lebih hidup dari biasanya. Sejumlah remaja yang tergabung dalam PIK-R Tunas Harapan hadir bersama para orang tua mereka untuk mengikuti kegiatan pengabdian masyarakat yang diselenggarakan oleh Duta Generasi Berencana (GenRe) dari STIKES Notokusumo Yogyakarta. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari koordinasi yang sebelumnya dilakukan bersama Balai Penyuluhan Keluarga Berencana (BPKB) Kapanewon Patuk.
Program tersebut menjadi bagian dari rangkaian pengabdian masyarakat Duta GenRe DIY Tahun 2026 yang bertujuan meningkatkan pemahaman remaja dan keluarga tentang berbagai persoalan yang kini semakin dekat dengan kehidupan generasi muda, khususnya kesehatan mental dan pencegahan kekerasan seksual berbasis elektronik.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kamituwa Kalurahan Putat, Sri Wahyuni beserta staf kalurahan, Santi, serta pengurus dan anggota PIK-R Tunas Harapan sebagai peserta utama. Sementara itu, materi disampaikan oleh Hamdan Nurohman, Finalis Duta GenRe DIY Tahun 2026 dari STIKES Notokusumo, dengan pendampingan dan fasilitasi kegiatan oleh Juvita Putri Maharani, mahasiswi STIKES Notokusumo.
Program tersebut menjadi bagian dari rangkaian pengabdian masyarakat Duta GenRe DIY Tahun 2026 yang bertujuan meningkatkan pemahaman remaja dan keluarga tentang berbagai persoalan yang kini semakin dekat dengan kehidupan generasi muda, khususnya kesehatan mental dan pencegahan kekerasan seksual berbasis elektronik.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kamituwa Kalurahan Putat, Sri Wahyuni beserta staf kalurahan, Santi, serta pengurus dan anggota PIK-R Tunas Harapan sebagai peserta utama. Sementara itu, materi disampaikan oleh Hamdan Nurohman, Finalis Duta GenRe DIY Tahun 2026 dari STIKES Notokusumo, dengan pendampingan dan fasilitasi kegiatan oleh Juvita Putri Maharani, mahasiswi STIKES Notokusumo.
Remaja dan Tantangan Zaman yang Terus Berubah
Masa remaja merupakan periode yang penuh dinamika. Pada fase ini seseorang tidak lagi dianggap anak-anak, tetapi juga belum sepenuhnya memasuki dunia dewasa. Perubahan fisik, emosi, pola pikir, lingkungan pergaulan, hingga tuntutan akademik sering kali datang secara bersamaan. Tidak mengherankan apabila banyak remaja mengalami kebingungan dalam memahami diri sendiri maupun menghadapi berbagai tekanan yang muncul.
Dalam pemaparannya, Hamdan Nurohman menjelaskan bahwa kesehatan mental merupakan kondisi kesejahteraan psikologis yang memungkinkan seseorang mengenali potensi dirinya, mampu mengelola emosi, menjalin hubungan sosial yang sehat, serta dapat menghadapi berbagai tantangan kehidupan secara positif.
“Kesehatan mental bukan hanya tentang tidak adanya gangguan kejiwaan, tetapi tentang bagaimana seseorang mampu berfungsi dengan baik dalam kehidupannya sehari-hari,” ungkap Hamdan.
Menurutnya, kesehatan mental remaja dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling berkaitan. Faktor biologis seperti kondisi kesehatan dan perubahan hormon memiliki pengaruh terhadap kestabilan emosi. Selain itu terdapat faktor psikologis yang berkaitan dengan kepribadian, kemampuan mengelola stres, serta pengalaman hidup yang dialami seseorang. Faktor sosial juga menjadi aspek penting, mulai dari lingkungan keluarga, pergaulan teman sebaya, kondisi sekolah, hingga pengaruh media sosial yang kini menjadi bagian tidak terpisahkan dari kehidupan remaja.
Ketika Tekanan Menjadi Beban
Di era digital saat ini, remaja menghadapi tantangan yang jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Persaingan akademik yang tinggi, tuntutan untuk selalu tampil sempurna di media sosial, serta kebutuhan untuk diterima dalam lingkungan pergaulan sering kali menjadi sumber tekanan tersendiri.
Beberapa masalah kesehatan mental yang umum dialami remaja antara lain stres akademik, kecemasan berlebihan, depresi, hingga gangguan perilaku. Jika tidak mendapatkan perhatian dan pendampingan yang tepat, kondisi tersebut dapat memengaruhi prestasi belajar, hubungan sosial, bahkan kualitas hidup remaja secara keseluruhan.
Media sosial yang seharusnya menjadi sarana komunikasi dan pengembangan diri, pada kenyataannya juga dapat menimbulkan dampak negatif apabila digunakan secara tidak bijak. Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, paparan komentar negatif, hingga perundungan daring dapat menurunkan rasa percaya diri dan kesejahteraan psikologis remaja.
Karena itulah, kesehatan mental tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga memerlukan dukungan dari lingkungan terdekat, terutama keluarga.
Di era digital saat ini, remaja menghadapi tantangan yang jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Persaingan akademik yang tinggi, tuntutan untuk selalu tampil sempurna di media sosial, serta kebutuhan untuk diterima dalam lingkungan pergaulan sering kali menjadi sumber tekanan tersendiri.
Beberapa masalah kesehatan mental yang umum dialami remaja antara lain stres akademik, kecemasan berlebihan, depresi, hingga gangguan perilaku. Jika tidak mendapatkan perhatian dan pendampingan yang tepat, kondisi tersebut dapat memengaruhi prestasi belajar, hubungan sosial, bahkan kualitas hidup remaja secara keseluruhan.
Media sosial yang seharusnya menjadi sarana komunikasi dan pengembangan diri, pada kenyataannya juga dapat menimbulkan dampak negatif apabila digunakan secara tidak bijak. Kebiasaan membandingkan diri dengan orang lain, paparan komentar negatif, hingga perundungan daring dapat menurunkan rasa percaya diri dan kesejahteraan psikologis remaja.
Karena itulah, kesehatan mental tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga memerlukan dukungan dari lingkungan terdekat, terutama keluarga.
Orang Tua Sebagai Tempat Pulang yang Aman
Menariknya, dalam kegiatan ini para orang tua dan remaja mendapatkan materi yang berbeda sesuai kebutuhan masing-masing. Jika para remaja memperoleh materi mengenai perlindungan diri di ruang digital, para orang tua diajak memahami peran penting mereka dalam menjaga kesehatan mental anak.
Materi yang disampaikan menekankan pentingnya komunikasi suportif dalam keluarga. Komunikasi suportif adalah bentuk komunikasi yang memberikan dukungan emosional, rasa aman, penghargaan, dan kesempatan bagi anak untuk menyampaikan pikiran maupun perasaannya tanpa takut dihakimi.
Masa remaja adalah masa pencarian jati diri. Pada periode ini anak sering kali mengalami perubahan suasana hati, lebih sensitif terhadap kritik, dan membutuhkan ruang untuk didengarkan. Tidak sedikit remaja yang sebenarnya ingin bercerita, tetapi merasa khawatir tidak dipahami oleh orang tuanya.
Melalui sesi diskusi yang berlangsung hangat, para peserta diajak merefleksikan kembali hubungan antara orang tua dan anak di rumah. Banyak persoalan yang sebenarnya dapat dicegah apabila komunikasi dibangun dengan baik sejak dini.
Dalam kesempatan tersebut, disampaikan tiga peran utama orang tua dalam mendukung kesehatan mental remaja.
Pertama, menjadi tempat aman untuk bercerita. Anak perlu merasakan bahwa rumah adalah tempat yang nyaman untuk mengungkapkan perasaan, kegagalan, maupun masalah yang sedang dihadapi tanpa takut dimarahi atau dihakimi.
Kedua, meluangkan waktu untuk mengobrol bersama. Kesibukan pekerjaan maupun aktivitas sehari-hari sering kali membuat komunikasi dalam keluarga menjadi terbatas. Padahal percakapan sederhana saat makan bersama atau menjelang tidur dapat menjadi jembatan penting untuk memahami kondisi anak.
Ketiga, menunjukkan kasih sayang secara nyata. Perhatian, dukungan, dan penghargaan terhadap usaha yang dilakukan anak merupakan bentuk kasih sayang yang mampu memperkuat ketahanan mental mereka.
Pesan yang terus ditekankan dalam kegiatan tersebut adalah bahwa anak yang merasa didengar akan lebih terbuka dalam menyampaikan masalah. Sebaliknya, anak yang merasa diabaikan cenderung menyimpan persoalan sendiri dan berisiko mengalami tekanan psikologis yang lebih berat.
Menariknya, dalam kegiatan ini para orang tua dan remaja mendapatkan materi yang berbeda sesuai kebutuhan masing-masing. Jika para remaja memperoleh materi mengenai perlindungan diri di ruang digital, para orang tua diajak memahami peran penting mereka dalam menjaga kesehatan mental anak.
Materi yang disampaikan menekankan pentingnya komunikasi suportif dalam keluarga. Komunikasi suportif adalah bentuk komunikasi yang memberikan dukungan emosional, rasa aman, penghargaan, dan kesempatan bagi anak untuk menyampaikan pikiran maupun perasaannya tanpa takut dihakimi.
Masa remaja adalah masa pencarian jati diri. Pada periode ini anak sering kali mengalami perubahan suasana hati, lebih sensitif terhadap kritik, dan membutuhkan ruang untuk didengarkan. Tidak sedikit remaja yang sebenarnya ingin bercerita, tetapi merasa khawatir tidak dipahami oleh orang tuanya.
Melalui sesi diskusi yang berlangsung hangat, para peserta diajak merefleksikan kembali hubungan antara orang tua dan anak di rumah. Banyak persoalan yang sebenarnya dapat dicegah apabila komunikasi dibangun dengan baik sejak dini.
Dalam kesempatan tersebut, disampaikan tiga peran utama orang tua dalam mendukung kesehatan mental remaja.
Pertama, menjadi tempat aman untuk bercerita. Anak perlu merasakan bahwa rumah adalah tempat yang nyaman untuk mengungkapkan perasaan, kegagalan, maupun masalah yang sedang dihadapi tanpa takut dimarahi atau dihakimi.
Kedua, meluangkan waktu untuk mengobrol bersama. Kesibukan pekerjaan maupun aktivitas sehari-hari sering kali membuat komunikasi dalam keluarga menjadi terbatas. Padahal percakapan sederhana saat makan bersama atau menjelang tidur dapat menjadi jembatan penting untuk memahami kondisi anak.
Ketiga, menunjukkan kasih sayang secara nyata. Perhatian, dukungan, dan penghargaan terhadap usaha yang dilakukan anak merupakan bentuk kasih sayang yang mampu memperkuat ketahanan mental mereka.
Pesan yang terus ditekankan dalam kegiatan tersebut adalah bahwa anak yang merasa didengar akan lebih terbuka dalam menyampaikan masalah. Sebaliknya, anak yang merasa diabaikan cenderung menyimpan persoalan sendiri dan berisiko mengalami tekanan psikologis yang lebih berat.
Mengenal Bahaya Kekerasan Seksual Berbasis Elektronik
Sementara itu, para remaja mendapatkan materi mengenai pencegahan Kekerasan Seksual Berbasis Elektronik (KSBE), sebuah isu yang semakin relevan di tengah perkembangan teknologi informasi.
Kemajuan teknologi digital memang membawa banyak manfaat. Namun di sisi lain, ruang digital juga dapat menjadi tempat terjadinya berbagai bentuk kekerasan yang merugikan remaja apabila tidak digunakan secara bijak.
Dalam pemaparannya, Hamdan menjelaskan beberapa bentuk KSBE yang perlu diketahui dan diwaspadai oleh remaja.
Salah satunya adalah perekaman atau pengambilan gambar intim tanpa persetujuan. Tindakan ini mencakup pengambilan foto, video, maupun tangkapan layar yang bersifat pribadi tanpa izin dari pihak yang bersangkutan.
Bentuk lainnya adalah penyebaran konten intim, yaitu mengirimkan atau menyebarluaskan foto dan video pribadi seseorang dengan tujuan mempermalukan, mengancam, atau merugikan korban.
Peserta juga dikenalkan dengan istilah sextortion atau pemerasan seksual. Dalam kasus ini pelaku mengancam akan menyebarkan foto atau video pribadi korban apabila korban tidak memenuhi keinginan tertentu yang bersifat seksual maupun nonseksual.
Selain itu terdapat pelecehan seksual daring, seperti pengiriman pesan vulgar, komentar tidak pantas, maupun perilaku yang dikenal sebagai cat calling melalui media sosial.
Tidak kalah penting adalah cyberstalking atau penguntitan digital. Perilaku ini dilakukan dengan memanfaatkan media sosial atau perangkat elektronik untuk memantau, mengintimidasi, atau mengganggu seseorang secara terus-menerus.
Melalui contoh-contoh kasus yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, para remaja diajak memahami bahwa dunia maya bukanlah ruang tanpa risiko. Mereka perlu berhati-hati dalam membagikan informasi pribadi, menjaga privasi akun media sosial, serta berani melapor apabila mengalami atau menyaksikan tindakan yang mengarah pada kekerasan seksual berbasis elektronik.
Sementara itu, para remaja mendapatkan materi mengenai pencegahan Kekerasan Seksual Berbasis Elektronik (KSBE), sebuah isu yang semakin relevan di tengah perkembangan teknologi informasi.
Kemajuan teknologi digital memang membawa banyak manfaat. Namun di sisi lain, ruang digital juga dapat menjadi tempat terjadinya berbagai bentuk kekerasan yang merugikan remaja apabila tidak digunakan secara bijak.
Dalam pemaparannya, Hamdan menjelaskan beberapa bentuk KSBE yang perlu diketahui dan diwaspadai oleh remaja.
Salah satunya adalah perekaman atau pengambilan gambar intim tanpa persetujuan. Tindakan ini mencakup pengambilan foto, video, maupun tangkapan layar yang bersifat pribadi tanpa izin dari pihak yang bersangkutan.
Bentuk lainnya adalah penyebaran konten intim, yaitu mengirimkan atau menyebarluaskan foto dan video pribadi seseorang dengan tujuan mempermalukan, mengancam, atau merugikan korban.
Peserta juga dikenalkan dengan istilah sextortion atau pemerasan seksual. Dalam kasus ini pelaku mengancam akan menyebarkan foto atau video pribadi korban apabila korban tidak memenuhi keinginan tertentu yang bersifat seksual maupun nonseksual.
Selain itu terdapat pelecehan seksual daring, seperti pengiriman pesan vulgar, komentar tidak pantas, maupun perilaku yang dikenal sebagai cat calling melalui media sosial.
Tidak kalah penting adalah cyberstalking atau penguntitan digital. Perilaku ini dilakukan dengan memanfaatkan media sosial atau perangkat elektronik untuk memantau, mengintimidasi, atau mengganggu seseorang secara terus-menerus.
Melalui contoh-contoh kasus yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, para remaja diajak memahami bahwa dunia maya bukanlah ruang tanpa risiko. Mereka perlu berhati-hati dalam membagikan informasi pribadi, menjaga privasi akun media sosial, serta berani melapor apabila mengalami atau menyaksikan tindakan yang mengarah pada kekerasan seksual berbasis elektronik.
Peran PIK-R dalam Membangun Generasi Tangguh
Kegiatan ini juga memperlihatkan pentingnya keberadaan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) sebagai wadah pembinaan generasi muda di tingkat desa atau kalurahan.
Sebagai kelompok kegiatan yang berada di bawah Program Generasi Berencana (GenRe), PIK-R memiliki peran strategis dalam memberikan informasi, edukasi, dan konseling kepada remaja mengenai berbagai isu kehidupan remaja, mulai dari kesehatan reproduksi, perencanaan masa depan, ketahanan keluarga, hingga kesehatan mental.
Melalui kegiatan seperti ini, anggota PIK-R tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga memperoleh bekal untuk menjadi agen perubahan di lingkungan sekitarnya. Mereka diharapkan mampu menyebarluaskan informasi yang benar kepada teman sebaya sekaligus menjadi contoh dalam menerapkan perilaku yang sehat dan bertanggung jawab.
Kegiatan ini juga memperlihatkan pentingnya keberadaan Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) sebagai wadah pembinaan generasi muda di tingkat desa atau kalurahan.
Sebagai kelompok kegiatan yang berada di bawah Program Generasi Berencana (GenRe), PIK-R memiliki peran strategis dalam memberikan informasi, edukasi, dan konseling kepada remaja mengenai berbagai isu kehidupan remaja, mulai dari kesehatan reproduksi, perencanaan masa depan, ketahanan keluarga, hingga kesehatan mental.
Melalui kegiatan seperti ini, anggota PIK-R tidak hanya mendapatkan pengetahuan baru, tetapi juga memperoleh bekal untuk menjadi agen perubahan di lingkungan sekitarnya. Mereka diharapkan mampu menyebarluaskan informasi yang benar kepada teman sebaya sekaligus menjadi contoh dalam menerapkan perilaku yang sehat dan bertanggung jawab.
Menyiapkan Generasi Emas Indonesia
Di akhir kegiatan, peserta diajak memahami bahwa membangun generasi yang berkualitas tidak hanya dilakukan melalui pendidikan formal semata. Kesehatan mental yang baik, hubungan keluarga yang harmonis, serta kemampuan menggunakan teknologi secara bijak merupakan bagian penting dalam menyiapkan Generasi Emas Indonesia di masa depan.
Bagi orang tua, pendampingan emosional dan komunikasi yang hangat menjadi investasi jangka panjang bagi tumbuh kembang anak. Sementara bagi remaja, kemampuan menjaga diri dari berbagai risiko di dunia digital menjadi keterampilan hidup yang semakin penting di era modern.
Pesan yang mengemuka sepanjang kegiatan tersebut sederhana namun sangat bermakna: jadilah remaja yang sehat, cerdas, berkarakter, dan komunikatif. Bangun hubungan yang baik dengan orang tua, guru, maupun teman sebaya. Jangan ragu mencari bantuan ketika menghadapi masalah, dan gunakan teknologi sebagai sarana untuk berkembang, bukan untuk menyakiti diri sendiri maupun orang lain.
Semangat inilah yang menjadi ruh Program Generasi Berencana. Sebuah gerakan yang mengajak remaja Indonesia untuk merencanakan masa depan secara matang, mengembangkan potensi diri, serta tumbuh menjadi generasi yang siap menghadapi tantangan zaman.
Karena pada akhirnya, remaja yang berencana hari ini adalah fondasi utama bagi terwujudnya Generasi Emas Indonesia di masa mendatang.(*)
Di akhir kegiatan, peserta diajak memahami bahwa membangun generasi yang berkualitas tidak hanya dilakukan melalui pendidikan formal semata. Kesehatan mental yang baik, hubungan keluarga yang harmonis, serta kemampuan menggunakan teknologi secara bijak merupakan bagian penting dalam menyiapkan Generasi Emas Indonesia di masa depan.
Bagi orang tua, pendampingan emosional dan komunikasi yang hangat menjadi investasi jangka panjang bagi tumbuh kembang anak. Sementara bagi remaja, kemampuan menjaga diri dari berbagai risiko di dunia digital menjadi keterampilan hidup yang semakin penting di era modern.
Pesan yang mengemuka sepanjang kegiatan tersebut sederhana namun sangat bermakna: jadilah remaja yang sehat, cerdas, berkarakter, dan komunikatif. Bangun hubungan yang baik dengan orang tua, guru, maupun teman sebaya. Jangan ragu mencari bantuan ketika menghadapi masalah, dan gunakan teknologi sebagai sarana untuk berkembang, bukan untuk menyakiti diri sendiri maupun orang lain.
Semangat inilah yang menjadi ruh Program Generasi Berencana. Sebuah gerakan yang mengajak remaja Indonesia untuk merencanakan masa depan secara matang, mengembangkan potensi diri, serta tumbuh menjadi generasi yang siap menghadapi tantangan zaman.
Karena pada akhirnya, remaja yang berencana hari ini adalah fondasi utama bagi terwujudnya Generasi Emas Indonesia di masa mendatang.(*)
0 Comments