Program KB untuk Pencegahan Stunting

Oleh: Sabrur Rohim, SAg, MSI (pemred Cahaya Keluarga)

GUNUNGKIDUL - Istilah stunting mungkin masih terdengar asing di telinga sebagian orang. Padahal, masalah kesehatan satu ini tidak hanya menjadi fenomena yang mendunia, akan tetapi juga cukup umum terjadi di Indonesia. Bahkan, stunting sendiri pernah menjadi masalah yang mendapat perhatian khusus dari Kementerian Kesehatan lewat kampanye bertajuk ‘Melawan Stunting’ beberapa waktu lalu. Wilayah-wilayah yang kita kenal identik dengan angka stunting yang cukup tinggi adalah di NTT dan Jawa Tengah.

Secara umum, stunting adalah salah satu penyakit kronis yang memengaruhi faktor pertumbuhan anak-anak. Lantas, penyakit seperti apa stunting itu dan apa penyebabnya? Kita juga akan cari tahu juga beberapa cara pencegahannya di laporan kali ini.


Apa itu Stunting?

Stunting adalah masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang sehingga mengakibatkan terganggunya pertumbuhan pada anak. Stunting juga menjadi salah satu penyebab tinggi badan anak terhambat, sehingga lebih rendah dibandingkan anak-anak seusianya. Maka salah satu cara melihat sesorang anak itu mengalami stunting atau tidak adalah dengan mengukur tinggi badannya, lalu membandingkannya dengan anak seusianya, meski juga harus dipahami terlebi dulu bahwa pendek bukan berarti stunting.

Tidak jarang masyarakat menganggap kondisi tubuh pendek merupakan faktor genetika dan tidak ada kaitannya dengan masalah kesehatan. Faktanya, faktor genetika memiliki pengaruh kecil terhadap kondisi kesehatan seseorang dibandingkan dengan faktor lingkungan dan pelayanan kesehatan. 

Biasanya, stunting mulai terjadi saat anak masih berada dalam kandungan dan terlihat saat mereka memasuki usia dua tahun (1000 hari pertama kehidupan). 

Stunting memiliki gejala-gejala yang bisa kita kenali, misalnya sbb: 
1. Wajah tampak lebih muda dari anak seusianya
2. Pertumbuhan tubuh dan gigi yang terlambat
3. Memiliki kemampuan fokus dan memori belajar yang buruk
4. Pubertas yang lambat
5. Saat menginjak usia 8-10 tahun, anak cenderung lebih pendiam dan tidak banyak melakukan kontak mata dengan orang sekitarnya
6. Berat badan lebih ringan untuk anak seusianya

Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas masyarakat Indonesia tidak hanya sekarang, tetapi utamanya adalah di masa depan. Bukan hanya mengganggu pertumbuhan fisik sehingga umumnya anak-anak stunting secara fisik lebih pendek (masyarakat menyebutnya cebol), anak-anak juga mengalami gangguan perkembangan otak yang akan memengaruhi kemampuan dan prestasi mereka, sehingga secara akademis rerata mereka rendah ketimbang anak-anak yang tidak stunting. Selain itu, anak yang menderita stunting akan memiliki riwayat kesehatan buruk karena daya tahan tubuh yang juga buruk; di usia-usia tuanya (40 tahun ke atas) mereka akan mengalami obesitas dan mudah terkena penyakit degeneratif. Celakanya pula, stunting juga bisa menurun ke generasi berikutnya bila tidak ditangani dengan serius.


Faktor-faktor Penyebab Stunting

Mengingat stunting adalah salah satu masalah kesehatan yang cukup membahayakan, memahami faktor penyebab stunting sangat penting untuk dilakukan. Hanya dengan cara itu, kita bisa melakukan langkah-langkah preventif untuk menghindari, mengatasi, atau menanganinya dengan baik. Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab stunting, antara lain:


1. Kurang Gizi dalam Waktu Lama

Tanpa kita sadari, penyebab stunting pada dasarnya sudah bisa terjadi sejak anak berada di dalam kandungan. Jadi ini sejak terjadinya kehamilan. Harus diketahui, bahwa sejak di dalam kandungan, anak bisa jadi mengalami masalah kurang gizi. Penyebabnya adalah karena sang ibu tidak memiliki akses terhadap makanan sehat dan bergizi, sehingga menyebabkan buah hatinya turut kekurangan nutrisi. Selain itu, rendahnya asupan vitamin dan mineral yang dikonsumsi ibu juga bisa ikut memengaruhi kondisi malnutrisi janin. Kekurangan gizi sejak dalam kandungan inilah yang juga bisa menjadi penyebab terbesar kondisi stunting pada anak. 

Kondisi seperti ini umumnya jelas terjadi pada ibu hamil dari keluarga miskin, atau secara pendidikan rendah, sehingga kurang memiliki informasi yang baik tentang kesehatan dan terutama bagaimana menjalani kehamilan yang sehat.

Maka penting dalam hal ini peran para kader KPM (kader pembangunan manusia) di lapangan (kalurahan/desa) dalam memberikan KIE (komunikasi, informasi, dan edukasi) kepada keluarga berisiko stunting. Di tahun 2022 sampai 2024 ini, ada tenaga tambahan juga yang dibentuk oleh BKKBN, yakni kader TPK (tim pendamping keluarga) yang terdiri atas bidan/tenaga medis, kader KB, dan kader PKK di setiap desa/kalurahan. Jumlah TPK minimal 1 per kalurahan, atau bisa lebi banyak tergantung komposisi penduduk/KK di kalurahan/desa ybs.


2. Pola Asuh Kurang Efektif

Pola asuh yang kurang efektif juga menjadi salah satu penyebab stunting pada anak. Pola asuh di sini berkaitan dengan perilaku dan praktik pemberian makanan kepada anak. Bila orang tua tidak memberikan asupan gizi yang baik, maka anak bisa mengalami stunting. Selain itu, faktor ibu yang masa remaja dan kehamilannya kurang nutrisi serta masa laktasi yang kurang baik juga dapat memengaruhi pertumbuhan dan otak anak.

Maka dalam hal ini memang penting mengedukasi kepada remaja putri, calon bumil, untuk merencanakan pernikahan dan kehamilannya dengan sebaik-baiknya. Pengetahuan pola asuh yang minim biasanya terjadi pada ibu-ibu hamil yang melakukan nikah dini, sehingga kemungkinan besar mereka belum benar-benar siap menjalani kehamilan, persalinan, ataupun pengasuhan buah hatinya. Di sinilah pentingnya kita menyadarkan remaja tentang pentingnya pendewasaan usia perkawinan (PUP), agar bukan saja mereka sudah matang secara fisik, tetapi secara mental juga siap untuk menjadi orangtua yang baik dalam mengasuh anak-anaknya. 

Yang juga tak kalah pentingnya adalah edukasi kepada remaja untuk mengasup nutrisi dan gizi yang cukup di masa remajanya (sebelum/pranikah). Sebab, asupan gizi dan nutrizi semasa remaja jelas sangat menentukan kualitas kehamilan, persalinan, dan pengasuhannya di kemudian hari, yang akan mempengaruhi kondisi kesehatan tidak hanya ibu, tetapi juga janin yang ada di dalam kandungannya.



3. Pola Makan

Rendahnya akses terhadap makanan dengan nilai gizi tinggi serta menu makanan yang tidak seimbang dapat memengaruhi pertumbuhan anak dan meningkatkan risiko stunting. Hal ini dikarenakan ibu kurang mengerti tentang konsep gizi sebelum, saat, dan setelah melahirkan.

Rendahnya pengetahuan ibu tentang gizi disebabkan minimnya edukasi. Maka di sinilah peran penting kader pembangunan manusia (KPM) di setiap desa/kalurahan memberikan penyuluhan, dan sekarang (tahun 2022) dibantu oleh kader tim pendamping keluarga (bidan, kader KB, kader PKK) tentang gizi dan nutrisi, tidak hanya kepada ibu hamil, ibu nifas, tetapi bahkan lebih penting lagi kepada calon ibu atau remaja pranikah sehingga mereka jauh-jauh hari sudah menyiapkan diri untuk menjadi ibu.  


4. Tidak Melakukan Perawatan Pasca Melahirkan

Setelah bayi lahir, sebaiknya ibu dan bayi menerima perawatan pasca melahirkan. Sangat dianjurkan juga bagi bayi untuk langsung menerima asupan ASI agar dapat memperkuat sistem imunitasnya. Perawatan pasca melahirkan dianggap perlu untuk mendeteksi gangguan yang mungkin dialami ibu dan anak pasca persalinan.

5. Gangguan Mental dan Hipertensi Pada Ibu

Saat kehamilan, seorang ibu tidak boleh mengalami tekanan mental karena akan berpengaruh pada kondisi kesehatan anak yang dikandung. Jika seorang ibu mengalami gangguan mental dan hipertensi dalam masa kehamilan, risiko anak menderita stunting juga semakin tinggi.

6. Sakit Infeksi yang Berulang

Sakit infeksi yang berulang pada anak disebabkan oleh sistem imunitas tubuh yang tidak bekerja secara maksimal. Saat imunitas tubuh anak tidak berfungsi baik, maka risiko terkena berbagai jenis gangguan kesehatan, termasuk stunting, menjadi lebih tinggi. Karena stunting adalah penyakit yang rentan menyerang anak, ada baiknya Anda selalu memastikan imunitas buah hati terjaga sehingga terhindar dari infeksi.

7. Faktor Sanitasi

Sanitasi yang buruk serta keterbatasan akses pada air bersih akan mempertinggi risiko stunting pada anak. Bila anak tumbuh di lingkungan dengan sanitasi dan kondisi air yang tidak layak, hal ini dapat memengaruhi pertumbuhannya. Rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan juga merupakan salah satu faktor penyebab stunting.
0 Viewers

Post a Comment

0 Comments

The Magazine