Panewu, KUA, UPT Puskesmas dan TPK Bersiap Percepat Penurunan Stunting di Girisubo

Kontributor: Sabrur Rohim, SAg, MSI (penyuluh KB Girisubo)

GIRISUBO | Dalam rangka meningkatkan

persiapan dan kapasitas tim pendamping keluarga (TPK) se Kapanewon Girisubo, Panewu Girisubo, Slamet Winarno, SSos, MM, mengundang segenap TPK Kapanewon Girisubo. Kegiatan dilaksanakan di aula Kapanewon Girisubo, Senin (4/4), jam 13.00 WIB - selesai.

Hadir dalam acara tsb Panewu Girisubo, Slamet Winarno, SSos, MM, Kepala KUA Girisubo, Hernawan, SHI, Koordinator PKB Girisubo, Hudoyo, SSos beserta PKB lainnya: Sabrur Rohim, SAg, MSI & Prasetyohadi, SPd, pramusaji Rudi Purwanto, 11 bidan se-Kapanewon Girisubo, 11 kader PKK dan 11 kader KB se Kapanewon Girisubo. Semua hadir lengkap. "Kegiatan diadakan sore hari mengingat kesibukan para bidan dan beberapa kader," kata bikor KIA-KB UPT Puskesmas Girisubo, Debora Apriliani, AMd Keb.

Acara dibuka dengan doa, dipimpin oleh pembawa acara, Sabrur Rohim, SAg, MSI, dilanjutkan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya serta Mars KB. Selanjutnya acara sambutan yang disampaikan oleh koordinator PKB Hudoyo, SSos. Dalam sambutannya Hudoyo berterimakasih kepada segenap pihak yang beratensi untuk kesuksesan acara ini. Dikatakan bahwa acara ini untuk memastikan kesiapan para kader TPK sebagai komponen utama dalam TPPS (tim percepatan penurunan stunting tingkat kecamatan) yang SK-nya baru-baru ini sudah ditandatangani oleh Panewu Girisubo.

Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Panewu Girisubo, Slamet Winarno, SSos, MM. Dalam sambutannya Slamet menekankan pentingnya peran kader di garda depan di dalam mengedukasi masyarakat di wilayah binaannya. Kader KB dan kader PKK selama ini sudah memegang peran penting dalam membina warga binaannya, terutama para keluarga, di dalam mendukung program pemerintah. 

Slamet berharap TPK yang terdiri atas bidan, kader KB dan kader PKK benar-benar bisa bekerjasama di dalam program percepatan penurunan stunting di wilayah Girisubo. 

Dalam kesempatan tsb Slamet memberikan apresiasi berupa tambahan uang transport kepada peserta rapat (bidan dan kader) yang datang lebih awal dan menandatangani daftar hadir. 

Setelah sambutan Panewu, disampaikan materi oleh Kepala KUA Girisubo, Hernawan, SHI. Hernawan memaparkan bahwa angka pernikahan relatif tinggi di Girisubo, dan kasus pernikahan dini juga angkanya lumayan banyak. Perceraian juga masih tetap ada kasusnya di Girisubo. "Yang memprihatinkan adalah masih banyaknya angka pernikahan dini, karena nikah dini akan berdampak pada kondisi rumah tangga dari remaja yang bersangkutan di masa depannya," ungkap Hernawan.

Dalam kaitannya dengan program percepatan penurunan stunting, Hernawan secara tegas menyatakan siap berkomitmen dan berkontribusi dalam menekan angka stunting di Girisubo, tetapi tentu sesuai lingkup dan tupoksi di KUA.  Misalnya, lanjut Hernawan, ketika catin mengurus persyaratan ke KUA, maka pihak KUA akan menekankan kepada catin agar mendonlot aplikasi Elsimil di peranhkat android serta menginput data diri ke aplikasi tsb untuk mengukur kesiapan dan kondisi menjelang pernikahan khususnya terkait dengan pencegahan stunting.

Materi lain juga disampaikan oleh bidan KIA KB UPT Puskesmas Debora Apriliani, AMd Keb, Sunarti, AMd Keb, serta nakes dari KKB Assalam Tileng, dr Jatuwarih Pintautami. 

Poin yang disampaikan Debora dan Sunarti lebih kepada kesiapan skill para kader TPK dalam pendampingan catin berbasis android, karena ini sebagai syarat untuk pelaksanaan tugas di lapangan. Yang tidak kalah penting adalah data basis keluarga sasaran di wilayah masing-masing yang butuh pencermatan agar hasilnya betul-betul maksimal dan sesuai harapan ke depannya. 

Di sisi lain, Jatuwarih menekankan pentingnya aspek ketahanan pangan di lingkungan keluarga sasaran stunting segmen remaja dengan mengandalkan bahan atau produk lokal di sekitar tempat tinggal. Aspek ini yang sering diabaikan, padahal sangat penting dalam pencegahan, sementara di sisi lain kita fokus pada 1000 HPK. Dengan penyiapan remaja yang sehat secara fisik, maka ke depannya ketika mereka masuk ke jenjang pernikahan, maka risiko stunting bisa banyak berkurang. "Fokus pada 1000 HPK tentu saja penting, tetapi lebih penting pencegahan secara dini," kata Jatu.(*)  
0 Viewers

Post a Comment

0 Comments

The Magazine