Mekop Lini Lapangan Program Bangga Kencana Kapanewon Nglipar, Korbid Adpin Perwakilan BKKBN DIY: "Hasil PK21 Akan Dipublis Akhir September Ini"

Kontributor: Sabrur Rohim, SAg (penyuluh KB Girisubo)

NGLIPAR | Rabu (8/9) pagi, bertempat di aula Kapanewon Nglipar, telah berlangsung acara Mekanisme Operasional Program Bangga Kencana tingkat Kapanewon Nglipar. Acara dimulai jam 08.30 WIB sd selesai. Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran PKB dan pramusaji di BPKB Nglipar, Forkompim Kapanewon Nglipar, lintas sektor terkait, kader IMP se-Nglipar, serta sejumlah pengurus DPC IPeKB Gunungkidul. 


Yang menarik, acara tersebut juga dihadiri oleh Korbid Adpin Perwakilan BKKBN DIY, Kanthi Aryekti, beserta jajarannya. Kehadiran Bidang Adpin di acara tersebut, menurut Kanti, dalam rangka fasilitasi, karena kegiatan pagi tersebut juga terkonesksi dengan Direktorat Bidang Lini Lapangan BKKBN Pusat. Bu Kanthi sendiri, pagi itu, membawa sejumlah personil ahli IT yang menjadi teknis dalam acara yang diselenggarakan juga melalui fasilitas zoom meeting.   

Host acara tersebut adalah Dwi Arti Novitasari, SH, penyuluh KB Wonosari, dibuka dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars KB secara bersama-sama. Setelah itu dilanjutkan sambutan pengarahan yang disampaikan oleh Panewu Nglipar, yang dalam hal ini diwakili oleh Jawatan Praja, Kuncara Ari Wibawa, SH, MM. 

Dalam sambutannya Panewu mengucapkan terimakasih dan apresiasi kepada segenap peserta rapat yang telah memenuhi undangan dari Kapanewon Nglipar. Dikatakan oleh Kuncara bahwa pertemuan kali ini adalah dalam rangka koordinasi program pembangunan keluarga, kependudukan, dan keluarga berencana (Bangga Kencana), di mana dalam hal ini membutuhkan kontribusi dan partisipasi dari segenap lintas sektor di Kapanewon Nglipar. Inti kegiatan hari ini, kata Panewu, adalah dalam rangka mengevaluasi dan memonitoring hasil dari program-program yang sudah dilaksanakan serta merancang bagaimana format atau bentuk program yang akan dilaksanakan ke depan. Panewu sangat berharap semua peserta bisa memberikan saran, masukan, pendapat sebagai bahan untuk merumuskan kegiatan yang tepat dalam program Bangga Kencana di Kapanewon Nglipar.


Paparan Koordinator PKB

Selepas sambutan Panewu, acara dilanjutkan pemaparan kondisi program Bangga Kencana di Kapanewon Nglipar, yang disampaikan oleh koordinator PKB Nglipar, Ir Sulistyana. Dalam presentasinya, Sulis, sapaan akrabnya, memaparkan kondisi riil wilayahnya, di Kapanewon Nglipar, terkait potensi wilayahnya (geografis, demografis, SDM), peluang-peluangnya, tantangan-tantangannya, permasalahan-permasalahan yang muncul. Secara khusus Sulis menyorot soal program pencegahan stunting, capaian peserta KB baru, serta unmet need. Sulis berharap para peserta rapat bisa memberi kritik, saran, dan masukan di dalam rangka monitoring dan evaluasi program Bangga Kencana serta sebagai bahan untuk merumuskan program-program ke depannya.


Tanggapan Lintas Sektor

Atas paparan Sulis, beberapa tanggapan dikemukakan. Yang pertama dari Pujiyati, SE, Ketua Forum IMP Kapanewon Nglipar. Pujiati menyatakan kesiapannya untuk membantu pemerintah, dalam hal ini BPKB Nglipar, untuk meningkatkan capaian kesertaan KB di Kapanewon Nglipar, khususnya yang MKJP (metode kontrasepsi jangka panjang). Pujiati yang juga kader pendata PK21 berharap hasil pendataan keluarga 2021 (PK21) bisa dimanfaatkan di tingkat kalurahan.

Tanggapan selanjutnya dari UPT Puskesmas Nglipar I, yang dalam hal ini diwakili oleh dr Nurul HR. Dikatakan oleh Nurul bahwa sejauh ini sudah banyak yang diupayakan oleh Puskesmas, bekerjasama dengan lintas sektor, untuk mendewasakan usia perkawinan serta mencegah munculnya kasus stunting. Misalnya, para remaja putri usia SMP dan SMA di wilayah UPT Puskesmas Nglipar I sudah rutin menerima tablet penambah darah, dengan tujuan agar ketika nanti mereka hamil tidak mengalami KEK, anemia, dan semacamnya. 

Selain itu, lanjut Nurul, kepada para calon pengantin juga dilakukan cek kesehatan general, untuk mengetahui ada tidaknya penyakit atau gangguan kesehatan di dalam tubuhnya yang ke depannya akan berpotensi menimbulkan stunting pada anak-anaknya, dsb. Remaja juga dibekali materi tentang kesehatan reproduksi serta tidak lupa seputar metode kontrasepsi yang sebaiknya mereka pilih ketika memasuki kehidupan rumah tangga.

Nurul juga mengharapkan kepada segenap lintas sektor agar bisa bersama-sama memberi kontribusi dalam meningkatkan peran posyandu di dusun-dusun. Tenaga teknis di Puskesmas sangat terbatas, sehingga tidak setiap posyandu bisa dikunjungi. Oleh karena itu, Nurul berharap sektor-sektor lain bisa juga mengunjungi posyandu untuk memberi semangat kepada kader-kader di lapangan, bisa dari penyuluh KB, babinsa, babinkamtibmas, UPT Dikpora, KUA, dan sebagainya, bisa memberikan materi apa saja yang bermanfaat. "Sebab, bagaimana pun juga, peran posyandu ini sangat penting untuk meningkatkan peran masyarakat dalam mencegah stunting dan gizi buruk yang angkanya masih saja ada di beberapa titik," pungkas Nurul.

Tanggapan lainnya muncul dari KUA Kapanewon Nglipar, yang diwakili oleh salah satu penyuluh agama Islam, Dwi Wahyuni, SAg. Dwi menyinggung soal stunting yang kemudian dilihatnya dalam perspektif keagamaan. Pertama-tama, dikatakan oleh Dwi bahwa tujuan perkawinan adalah membentuk keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah, atau yang dalam bahasa BKKBN memiliki ketahanan keluarga yang kuat. Dalam rangka mewujudkan keluarga seperti itu, maka secara periodik KUA selalu mengadakan kegiatan bimbingan perkawinan, yang dalam hal ini bekerjasama dengan BPKB dan UPT Puskesmas. Dari pihak Puskesmas menyampaikan materi KRR, dari BPKB menyampaikan materi KB dan ketahanan keluarga, sedangkan dari KUA memberikan bekal keagamaan, juga teknis prosedural pengurusan legal-formal pernikahan.  

Dalam sudut pandangn agama, keluarga dengan kasus stunting adalah "keluarga yang lemah" (dzurriyyah dli'af), baik lemah secara ekonomi, secara fisik, secara psikis, bahkan juga secara sosial. 

Harapan Dwi, kerjasama yang telah dilakukan antara KUA dengan Puskesmas dan BPKB bisa terus berlangsung, bisa terus saling membantu dan memberi manfaat satu sama lain demi mensukseskan program Bangga Kencana di Kapanewon Nglipar.


Tanggapan Korbid Adpin Perwakilan BKKBN DIY

Tanggapan dari Perwakilan BKKBN DIY dalam hal ini diwakili oleh Korbid Adpin, Dra Ita Suryani, MKes. Pertama-tama Ita, sapaan akrabnya, menyampaikan apresiasi dan terimakasih kepada segenap pihak yang telah hadir, terlebih lagi kegiatan hari itu dilaksanakan terkoneksi dengan BKKBN Pusat dan Perwakilan BKKBN DIY. Disampaikan Ita bahwa inti dari kegiatan rapat koordinasi Bangga Kencana adalah evaluasi program yang sudah berjalan, menemukan masalah-masalah yang muncul, dan selanjutnya bagaimana rencana aksi ke depannya untuk menyelesaikan masalah-masalah tersebut.

Ita sangat mengapresiasi atas prestasi Gunungkidul dalam pendataan keluarga tahun 2021 (PK21) yang telah menjadi terdepan dalam menyelesaikan input data secara nasional. Ini tentu sesuatu yang membanggakan, kata Ita, karena awalnya diduga Gunungkidul akan mengalami kendala di dalam proses input karena masalah geografisnya. Akan tetapi, ternyata melalui pelbagai inovasi dan kreasi dari penyuluh dan kader, justru prosesnya di luar dugaan lebih cepat ketimbang wilayah kabupaten/kota lain. Ita menginformasikan bahwa hasil PK21 secara nasional insya Allah akan dipublis pada akhir September 2021 dan harapannya semoga bisa dimanfaat oleh segenap pihak yang berkepentingan.

Tentang capain kesertaan KB baru dan unmet need, dikatakan oleh Ita bahwa kondisinya belum menggembirakan. Sampai sejauh ini, antara ideal yang diharapkan dengan kenyataan/realitas di lapangan masih ada kesenjangan, bahkan kesenjangan tsb makin melebar. Oleh karena itu, diperlukan kerja keras semua pihak, baik penyuluh maupun bidan, kader, dan lintas sektor lainnya yang terkait untuk mengurangi kesenjangan tersebut, yakni meningkatkan capaian PB serta mengurangi unmet need di wilayahnya. 

"Saya minta apa yang disepakati di forum rakor kapanewon ini ditindaklanjuti lebih tajam lagi di forum rakorkal. Itu angka-angka dilihat lagi, diperinci lagi, berapa PUS-nya, berapa unmet need-nya, untuk kemudian dirumuskan rencana aksinya di tingkat wilayah dusun dan bahkan RT," pungkas Ita.


Tanggapan BKKBN Pusat

Tanggapan BKKBN Pusat diwakili oleh pejabat yang terkait, yakni Kasubdir Mekanisme Operasional BKKBN Pusat, Ridwan Fajri Nur, SE. Fajri sangat mengapresiasi para peserta yang telah hadir dalam mekop kali ini, yang terdiri dari banyak sektor di kapanewon atau kabupaten. 

Fajri juga berharap, sesuai dengan pengertian atau definisi mekanisme operasional ini, maka seyogianya kegiatan ini dapat menjadi wahana tersampaikannya informasi-informasi terkini tentang program Bangga Kencana di wiayah (kapanewon), kemudian selanjutnya lahir kesepakatan untuk hasil evaluasi serta rencana aksi ke depannya, serta yang tak kalah penting lagi bahwa mekanisme operasional ini hatus dilaksanakan secara terencana, terstruktur, terus menerus, serta melibatkan banyak pihak yang tentunya sangat berkepentingan dengan suksesnya program Bangga Kencana di wilayahnya.

Ditekankan oleh Fajri, bahwa mekanisme operasional ini siklusnya sebulan sekali di tingkat kapanewon, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan dalam skup lebih kecil di kalurahan, lalu lebih kecil lagi di tingkat dusun, dan diteruskan pembinaan, pembekalan, dan bimbingan kepada kader IMP. Langkah selanjutnya adalah kegiatan pelayanan dan terakhir adalah pencatatan dan pelaporan atas hasil-hasil yang sudah dicapai.

Namun demikian, yang harus diingat, kata Fajri, implementasi kegiatannya di lapangan, pada ranah tertentu, harus disingkronkan dengan puskesmas di wilayahnya masing-masing, misalnya terkait dengan kegiatan posyandu, pelayanan KB, pencegahan stunting, dsb. Oleh karena itu, penting bagi para penyuluh untuk berkoordinasi dengan puskesmas untuk mengetahui kapan jadwal lokakarya mini dan diharapkan penyuluh dan kader juga ikut kegiatan tersebut.


Kesepakatan

Setelah menampung banyak saran dan masukan, akhir rakor program Bangga Kencana Kapanewon Nglipar pada hari ini menyepakati beberapa poin penting:

1. Meningkatkan peran penyuluh KB dalam penyuluhan, penggerakan, pelayanan, dan pengemban program Bangga Kencana di wilaayah Kapanewon Nglipar;

2. Meningkatkan komunikasi, informasi, edukasi, dan konseling kepada para calon peserta KB baru;

3. Meningkatkan komunikasi, infromasi, edukasi, dan konseling kepada para akseptor KB aktif agar tetap setia dalam pemakaian alat kontrasepsi;

4. Meningkatkan peran kader di dalam kegiatan pendampingan keluarga di wilayahnya;

5. Meningkatkan peran pemerintah kalurahan di dalam fasilitasi kader KB serta  pelaksanaan progam Bangga Kencana sesuai kewenangannya;

6. Meningkatkan peran lintas sektor di dalam fasilitasi, pendampingan kepada kelompok kegiatan, kader, dan keluarga di dalam pelaksanaan program Bangga Kencana sesuai kewenangannya.(*)  

 


  

0 Viewers

Post a Comment

0 Comments

The Magazine