Pembinaan BKB-HI Bulurejo Kepek Saptosari; "Bahaya Gadget bagi Anak Usia Dini"

Rabu (16/10) kader BKB Posyandu Bulurejo mengadakan pertemuan Posyandu Balita dan pembinaan BKB. Acara tersebut terselenggara di Balai Dusun Bulurejo, Kepek, Saptosari yang dihadiri oleh Ahmad Harwanto, SSos, PKB Kecamatan Saptosari selaku pembina wilayah dan anggota kelompok BKB Posyanyu Bulurejo. Acara tersebut diawali dengan pengukuran berat badan balita dan pengukuran tinggi balita oleh kader kemudian dilanjutkan pembinaan BKB oleh PKB Kecamatan Saptosari. Pak Har, begitu sapaan akrabnya, menjelaskan mengenai bahaya gadget/ smartphone bagi anak usia dini. Sebelum pemaparan materi ibu-ibu anggota BKB diputarkan video dari Elly Risman, pemerhati parenting. Dalam video tersebut Ibu Elly, sapaan akrabnya, menjelaskan mengenai bahaya akan paparan smartphone bagi anak usia dini atau balita, jika sudah kecanduan maka anak akan sulit lepas dengan smartphone-nya.

Kesimpulan dari video tersebut dijelaskan oleh Pak Har  dengan poin-poin sebagai berikut:

1. Sebaiknya jangan memberikan HP/smartphone kepada anak usia balita. Kebanyakan para orangtua memberikan HP kepada anak usia dini agar anak menjadi anteng dan tidak rewel, namun itu adalah sikap atau tindakan yang salah besar. Hal tersebut akan memicu anak kecanduan dengan HP yang akan mengakibatkan penyusutan otak depan sebesar 4,4%.

2. Peran pengasuhan ayah sangat dibutuhkan didalam mengasuh anak sejak usia balita. Karena menurut Naomi Soetikno, MPd,  psikolog dan staf pengajarjar Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara, ada empat unsur peran ayah, yaitu: structure, warm, accessibility dan playing. Naomi menjelaskan rumah tangga akan lemah arahnya jika tidak memiliki kepala keluarga yang tegas menetapkan aturan bagi anak-anaknya. Tetapi perlu diimbangi dengan ayah yang memberi "warm" kepada anak-anak di mana ayah dapat menjadi penampung curahan hati bagi anak-anaknya. Yang ketiga, ayah harus mudah diakses oleh anak disela-sela pekerjaannya.hal ini membuat sang anak akan selalu merasa aman dan terlindungi walaupun ayah harus termotivasi untuk bermain bersama anak-anaknya. Anak yang banyak bermain bersama ayahnya logika berpikir akan lebih jalan, mereka akan lebih mudah bersosialisasi, sedangkan anak yang lebih dekat dengan ibunya akan menjadi anak yang lebih hangat disebabkan sifat ibu yang lebih 'ngemong' . Tentunya akan sangat baik jika anak dekat secara emosional dengan kedua orangtuanya.  Ada sederet manfaat dari kelekatan ayah dan anak, di antaranya mampu meminimalisir perilaku yang bermasalah pada anak, memperluas lingkungan sosial, meningkatkan kualitas dari interaksi dengan teman sebaya, fungsi kognitif tertinggi anaknya, anak menunjukkan kemampuan pemecahan masalah yang optimal, berkembangnya kompetensi sosial-emosional pada akhir masa anak dan remaja, anak yang antusias memberi salam atau kesantunan, anak lebih mencari kedekatan atau kepedulian pada orangtuanya, memiliki kesehatan mental yang baik di saat dewasa, minimnya perilaku bermasalah pada akhir masa anak, memiliki sikap positif pada sekolah di masa remaja, meningkatkan prestasi ekonomi dan akademik di masa dewasa.

3. Kebanyakan orangtua tidak mendidik anak untuk mempersiapkan anak menjadi oragtua dan anak menjadi istri atau suami orang. Cara mendidik anak untuk siap menjadi orangtua nantinya adalah dengan memberikan contoh perilaku yang baik terhadap anak sejak usia dini, contoh: berperilaku sopan istri terhadap suami yang ditunjukkan di hadapan anak, maka pola pikir anak akan tertanam bahwasanya besok ketika dewasa akan melakukan hal yang sama, sehingga ada pepatah, "satu keteladanan lebih baik daripada seribu guru".

Acara ditutup dengan diskusi bersama.(*) [Ahmad Harwanto, SSos & Ervina Budiati, PKB dan Pramusaji Kecamatan Saptosari]
0 Viewers

Post a comment

0 Comments

The Magazine