Wabup Gunungkidul: Menekan Stunting Harus Dimulai dari Penguatan Ekonomi dan Pendidikan

Oleh: Sabrur Rohim, SAg, MSI (PKB Nglipar)

NGLIPAR, GUNUNGKIDUL — Persoalan stunting di Kabupaten Gunungkidul tidak cukup diselesaikan hanya dengan berbicara tentang gizi dan kesehatan anak. Di balik persoalan tumbuh kembang anak, terdapat mata rantai yang jauh lebih panjang, mulai dari kondisi ekonomi keluarga, tingkat pendidikan, kualitas pernikahan, hingga kesehatan ibu sebelum dan selama kehamilan.

Hal tersebut disampaikan Wakil Bupati Gunungkidul, Joko Parwoto, SE, MM, saat memberikan pembinaan kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kapanewon Nglipar, Kamis, 24 September 2026, di Aula Kantor Kapanewon Nglipar.

Dalam kesempatan tersebut, Joko menekankan bahwa upaya menurunkan angka stunting membutuhkan cara pandang yang lebih menyeluruh. Menurutnya, persoalan stunting tidak berdiri sendiri, melainkan memiliki keterkaitan erat dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat.

“Kalau ekonomi bagus, pendidikan meningkat. Kalau pendidikan meningkat, orang akan menjalani pernikahan dan kehamilan secara sehat. Dengan sendirinya, stunting akan berkurang,” ungkap Joko dalam pembinaan tersebut.

Pernyataan itu menempatkan persoalan stunting bukan sekadar sebagai urusan bagaimana memenuhi kebutuhan makanan bergizi bagi anak. Lebih jauh, pencegahan stunting harus dimulai sejak jauh sebelum seorang anak lahir, bahkan sejak keluarga mempersiapkan kehidupan rumah tangganya.


Stunting dan Mata Rantai Kehidupan Keluarga

Bagi Joko, pembangunan manusia harus dilihat sebagai sebuah mata rantai yang saling berkaitan. Kondisi ekonomi keluarga berpengaruh terhadap akses pendidikan. Pendidikan turut membentuk pengetahuan dan cara pandang seseorang dalam mengambil keputusan kehidupan, termasuk ketika memasuki jenjang pernikahan dan merencanakan kehamilan.

Karena itu, menurutnya, upaya penanganan stunting membutuhkan keterlibatan berbagai pihak. ASN yang bersentuhan langsung dengan masyarakat memiliki posisi penting untuk ikut mengawal berbagai program pembangunan agar benar-benar memberikan manfaat bagi keluarga.

“Persoalannya jangan hanya dilihat ketika anak sudah lahir dan mengalami stunting. Kita harus melihat dari hulunya,” menjadi pesan penting yang mengemuka dalam pembinaan tersebut.

Pendekatan dari hulu inilah yang membuat persoalan pendidikan, ekonomi, pernikahan, kesehatan reproduksi, serta perencanaan keluarga menjadi bagian penting dalam membangun generasi yang sehat.

Keluarga yang memiliki ketahanan ekonomi lebih baik memiliki peluang lebih besar untuk memenuhi kebutuhan dasar. Pendidikan yang baik juga memungkinkan masyarakat memperoleh pengetahuan yang lebih memadai dalam mengambil keputusan, termasuk mengenai kesehatan ibu dan anak.

Pada titik inilah, pencegahan stunting menjadi bagian dari pekerjaan besar membangun kualitas keluarga.


ASN Jangan Berhenti Belajar

Selain berbicara mengenai stunting dan pembangunan masyarakat, Joko juga mengingatkan para ASN agar tidak berhenti belajar. Perubahan zaman, terutama perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), berlangsung begitu cepat sehingga aparatur pemerintah dituntut untuk terus mengembangkan kapasitas diri.

Ia mengingatkan ASN agar tidak merasa cukup hanya dengan pengetahuan dan kemampuan yang telah dimiliki saat ini.

“Jangan sampai kita kalah dengan anak-anak kita,” pesan Joko kepada para ASN Nglipar.

Menurutnya, generasi muda tumbuh dalam lingkungan teknologi yang berkembang sangat cepat. Karena itu, ASN sebagai pelayan masyarakat juga harus mampu mengikuti perkembangan tersebut.

Era kecerdasan buatan menghadirkan perubahan dalam berbagai bidang pekerjaan. Cara orang memperoleh informasi, mengolah data, berkomunikasi, hingga memberikan pelayanan kepada masyarakat mengalami perubahan yang cukup cepat.

Dalam situasi tersebut, ASN tidak cukup hanya bekerja berdasarkan kebiasaan lama. Aparatur dituntut memiliki kemauan untuk belajar, beradaptasi, dan memahami teknologi yang berkembang.

Joko bahkan memberikan contoh dari dirinya sendiri. Di tengah kesibukannya sebagai Wakil Bupati Gunungkidul, ia mengaku masih menjalani pendidikan doktoral dengan mengambil studi S3 Kebijakan Publik di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Pesan tersebut menjadi refleksi bahwa proses belajar tidak mengenal batas usia maupun jabatan. Menjadi pejabat pemerintahan bukan alasan untuk berhenti memperbarui pengetahuan.

Sebaliknya, semakin besar tanggung jawab yang diemban, semakin besar pula kebutuhan untuk terus belajar.


Profesional, Berintegritas, Melayani dengan Hati

Pembinaan ASN di Kapanewon Nglipar mengusung tema “ASN Profesional, Berintegritas, Melayani dengan Hati, Hadir untuk Masyarakat.”

Tema tersebut menjadi penekanan bahwa ASN pada akhirnya tidak hanya dituntut menyelesaikan pekerjaan administratif, tetapi juga harus mampu menghadirkan pelayanan yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Profesionalitas berkaitan dengan kemampuan menjalankan tugas sesuai ketentuan dan standar yang berlaku. Integritas menyangkut kejujuran dan konsistensi dalam menjalankan amanah. Sementara itu, melayani dengan hati mengandung pesan bahwa masyarakat bukan sekadar objek pelayanan, melainkan manusia yang memiliki kebutuhan, harapan, dan persoalan yang harus dipahami.

Karena itu, kehadiran ASN di tengah masyarakat semestinya tidak berhenti pada urusan administrasi pemerintahan.

Berbagai persoalan masyarakat, termasuk kemiskinan, pendidikan, kesehatan, keluarga, hingga stunting, membutuhkan aparatur yang mampu melihat persoalan secara utuh.

Dalam konteks inilah, ASN di tingkat kapanewon memiliki peran strategis. Mereka berada relatif dekat dengan masyarakat dan bersentuhan langsung dengan berbagai persoalan yang terjadi di tingkat keluarga dan kalurahan.


Pembinaan Rutin Keliling 18 Kapanewon

Pembinaan ASN yang dilakukan di Nglipar merupakan bagian dari agenda rutin Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. Kegiatan tersebut digelar setidaknya satu kali dalam sebulan dengan lokasi yang bergiliran di 18 kapanewon yang ada di Kabupaten Gunungkidul.

Pola pembinaan secara keliling tersebut memungkinkan pimpinan daerah bertemu secara langsung dengan aparatur di wilayah. Pertemuan tidak hanya menjadi forum penyampaian kebijakan, tetapi juga menjadi ruang komunikasi untuk mendengarkan berbagai persoalan yang dihadapi aparatur maupun masyarakat.

Di Nglipar, kegiatan diikuti oleh sebanyak 39 ASN di lingkungan Kapanewon Nglipar. Hadir pula Wakil Bupati Gunungkidul Joko Parwoto, Panewu Nglipar, serta Panewu Anom Nglipar.

Kegiatan diawali dengan pembukaan, dilanjutkan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Setelah itu, Panewu Nglipar Sugito, SH, MH, memberikan sambutan.

Dalam sambutannya, Panewu Nglipar Sugito, SH, MH, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas kehadiran Wakil Bupati Gunungkidul, Joko Parwoto, di Kapanewon Nglipar. Menurutnya, kehadiran langsung pimpinan daerah di tengah jajaran ASN menjadi kesempatan penting untuk mendapatkan arahan sekaligus memperkuat semangat dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat. 

Sugito juga menyampaikan kondisi kelembagaan di lingkungan Kantor Kapanewon Nglipar, khususnya masih adanya kekosongan jabatan pada dua posisi yang cukup berpengaruh terhadap kelancaran pelaksanaan tugas pemerintahan. Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi salah satu tantangan yang harus dihadapi bersama agar pelayanan kepada masyarakat tetap berjalan secara optimal. Di tengah keterbatasan tersebut, ia berharap seluruh ASN tetap mampu menjalankan tugas dan tanggung jawab secara profesional, saling mendukung, serta menjaga kualitas pelayanan. 

“Kami berharap melalui pembinaan ini kami mendapatkan bimbingan dan arahan dari Bapak Wakil Bupati, sehingga seluruh ASN di Kapanewon Nglipar dapat bekerja dengan lebih baik, memahami tugas dan tanggung jawab masing-masing, serta mampu memberikan pelayanan yang sebaik-baiknya kepada masyarakat,” ujar Sugito, sembari juga menekankan bahwa pembinaan tersebut kiranya bisa menjadi momentum untuk memperkuat koordinasi dan kekompakan seluruh jajaran di lingkungan Kapanewon Nglipar.

Sesi pembinaan oleh Wabup berlangsung interaktif dan dilanjutkan dengan tanya jawab. Para peserta memperoleh kesempatan menyampaikan pertanyaan sekaligus berdiskusi mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan tugas pemerintahan dan pelayanan masyarakat.

Kegiatan kemudian ditutup dan diakhiri dengan sesi foto bersama.


Dari Ruang Pembinaan ke Ruang Kehidupan Masyarakat

Ada satu benang merah yang dapat ditarik dari pesan Wabup Joko Parwoto dalam pembinaan tersebut: bahwa tugas ASN pada akhirnya bermuara pada manusia.

Stunting, misalnya, bukan hanya angka dalam laporan pembangunan. Di balik angka tersebut terdapat anak-anak yang sedang tumbuh, keluarga yang sedang berjuang memenuhi kebutuhan hidup, serta orang tua yang berharap anaknya dapat tumbuh sehat dan memiliki masa depan yang lebih baik.

Karena itu, ketika berbicara mengenai stunting, yang sesungguhnya dibicarakan adalah masa depan keluarga dan generasi.

Begitu pula ketika ASN diminta untuk terus belajar. Pesan tersebut bukan semata-mata agar aparatur mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi agar kualitas pelayanan publik juga terus berkembang mengikuti kebutuhan masyarakat.

ASN yang terus belajar diharapkan tidak terjebak dalam rutinitas. Ia mampu melihat perubahan, memahami persoalan baru, dan mencari cara yang lebih baik dalam memberikan pelayanan.

Sementara itu, pesan tentang ekonomi dan pendidikan mengingatkan bahwa pembangunan keluarga tidak dapat dilakukan secara parsial. Kesehatan, pendidikan, ekonomi, kependudukan, dan pembangunan keluarga saling berkelindan.

Keluarga yang kuat membutuhkan lebih dari sekadar bantuan sesaat. Mereka membutuhkan kesempatan untuk tumbuh, mendapatkan pendidikan, memperoleh penghidupan yang layak, serta memiliki pengetahuan yang cukup untuk membuat keputusan penting dalam kehidupan keluarga.

Dari sinilah pencegahan stunting dapat dimulai: bukan ketika persoalan sudah terjadi, melainkan jauh sebelumnya.


Hadir untuk Masyarakat

Pembinaan ASN di Kapanewon Nglipar akhirnya menjadi lebih dari sekadar agenda rutin pemerintahan. Di dalamnya terdapat pesan tentang pentingnya aparatur untuk terus bertumbuh, sekaligus memahami persoalan masyarakat secara lebih utuh.

Tema “ASN Profesional, Berintegritas, Melayani dengan Hati, Hadir untuk Masyarakat” menjadi pengingat bahwa keberadaan aparatur pemerintah pada hakikatnya adalah untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Ketika seorang ASN bekerja dengan profesionalitas, integritas, dan empati, pekerjaan administratif yang dilakukan setiap hari sesungguhnya memiliki dampak yang lebih besar. Ia menjadi bagian dari upaya membangun keluarga, meningkatkan kualitas manusia, dan pada akhirnya membangun daerah.

Dan ketika persoalan stunting dibicarakan dari sisi ekonomi, pendidikan, pernikahan, hingga kesehatan, pesan yang muncul menjadi semakin jelas: membangun anak yang sehat tidak dimulai ketika anak itu lahir.

Ia dimulai dari keluarga. Dari pendidikan. Dari kondisi ekonomi yang memungkinkan keluarga hidup lebih layak. Dari keputusan untuk merencanakan pernikahan dan kehamilan secara sehat. Dan dari hadirnya negara melalui aparatur yang benar-benar mau belajar, bekerja dengan integritas, serta hadir di tengah masyarakat dengan hati.

Sebab pada akhirnya, ukuran keberhasilan pelayanan publik bukan hanya seberapa banyak program yang selesai dilaksanakan, tetapi seberapa jauh kehadiran pemerintah mampu membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih baik.(*)
0 Viewers

Post a Comment

0 Comments

The Magazine