Kelas AMAN: Menguatkan Peran Ayah Sejak Bayi Hadir di Tengah Keluarga

Oleh: Ir Sulistyana (Koord. PKB Karangmojo) 


Keluarga Adalah Sekolah Pertama bagi Anak

Keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama bagi pertumbuhan, perkembangan, serta pembentukan karakter anak. Dalam keluarga, ayah dan ibu memiliki peran yang saling melengkapi dalam memenuhi kebutuhan anak, menjaga kesehatan keluarga, memberikan kasih sayang, serta menciptakan lingkungan yang aman dan mendukung tumbuh kembang anak. Peran tersebut menjadi semakin penting setelah kelahiran seorang anak karena keluarga memasuki tahap kehidupan baru yang membutuhkan penyesuaian dari seluruh anggota keluarga.

Masa pascasalin merupakan masa yang membutuhkan perhatian khusus. Setelah melalui proses kehamilan dan persalinan, ibu membutuhkan waktu untuk memulihkan kondisi fisik sekaligus menyesuaikan diri dengan peran barunya sebagai seorang ibu. Di sisi lain, bayi membutuhkan perhatian, perawatan, pemenuhan kebutuhan gizi, kasih sayang, perlindungan, serta stimulasi yang sesuai dengan tahapan perkembangannya. Kondisi tersebut membutuhkan dukungan dari pasangan dan keluarga agar ibu tidak menjalani seluruh tanggung jawab pengasuhan seorang diri.

Ayah memiliki posisi yang sangat penting dalam memberikan dukungan kepada ibu dan anak. Keterlibatan ayah bukan hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi keluarga, tetapi juga mencakup dukungan emosional, keterlibatan dalam pengasuhan, membantu pekerjaan rumah tangga, mendampingi ibu dan bayi mendapatkan pelayanan kesehatan, serta terlibat dalam pengambilan keputusan mengenai perencanaan keluarga.


1.000 HPK, Saat Peran Ayah Tak Bisa Diabaikan

Periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (1.000 HPK) juga menjadi periode penting yang perlu mendapatkan perhatian dari kedua orang tua. Pada periode tersebut, anak membutuhkan dukungan yang menyeluruh, meliputi pemenuhan kebutuhan gizi, kesehatan, pengasuhan, kasih sayang, perlindungan, serta stimulasi. Oleh karena itu, ayah dan ibu perlu memahami bahwa pengasuhan anak merupakan tanggung jawab bersama.

Selain pengasuhan, pasangan pascasalin juga perlu memperoleh informasi yang memadai mengenai kesehatan reproduksi dan perencanaan keluarga. Setelah persalinan, pasangan perlu mempertimbangkan rencana kehamilan berikutnya serta menentukan metode kontrasepsi yang sesuai dengan kondisi kesehatan dan kebutuhan keluarga. Pemilihan kontrasepsi secara rasional membutuhkan informasi yang benar, komunikasi antara suami dan istri, serta konsultasi dengan tenaga kesehatan.

Sebagai salah satu upaya untuk memberikan edukasi kepada keluarga pascasalin, telah dilaksanakan kegiatan Kelas AMAN (Ayah Idaman) bagi Keluarga Ibu Pascasalin di PMB Rismintarti Sulastinah, SST, Bdn, Banyubening 1, Bejiharjo, Karangmojo. Kegiatan ini diikuti oleh lima pasangan suami istri pascasalin serta dihadiri oleh bidan dan Penyuluh Keluarga Berencana (PKB).

Kegiatan dilaksanakan pada Minggu, 20 September 2026, pukul 07.30–10.00 WIB. Narasumber dalam kegiatan ini adalah Rismintarti Sulastinah, SST, Bdn, dengan materi “Kesehatan Reproduksi dan Kontrasepsi Rasional”, serta Ir Sulistiyana, PKB Karangmojo, dengan materi “Peran Ayah dalam Optimalisasi 1.000 HPK”.


Belajar Bersama agar Ayah dan Ibu Tak Berjalan Sendiri

Kegiatan Kelas AMAN dilaksanakan dengan maksud memberikan ruang edukasi dan diskusi bagi pasangan suami istri pascasalin agar memperoleh pengetahuan yang memadai mengenai kesehatan reproduksi, kontrasepsi, serta peran ayah dalam mendukung kesehatan dan tumbuh kembang anak.

Adapun tujuan kegiatan meliputi:

  1. Meningkatkan pengetahuan pasangan suami istri mengenai kesehatan reproduksi pada masa pascasalin.
  2. Memberikan pemahaman mengenai pentingnya perencanaan keluarga setelah persalinan.
  3. Memberikan informasi mengenai pemilihan kontrasepsi secara rasional sesuai dengan kondisi dan kebutuhan pasangan.
  4. Meningkatkan keterlibatan ayah dalam mendukung kesehatan ibu setelah persalinan.
  5. Meningkatkan pemahaman ayah mengenai perannya dalam pengasuhan anak.
  6. Meningkatkan pemahaman mengenai pentingnya peran ayah dalam optimalisasi 1.000 HPK.
  7. Mendorong komunikasi dan kerja sama antara suami dan istri dalam menjalankan peran keluarga.
  8. Mendorong terbentuknya keluarga yang sehat, harmonis, dan mampu memberikan pengasuhan yang optimal bagi anak.

Lima Pasangan, Satu Ruang untuk Berbagi

Kegiatan Kelas AMAN dilaksanakan pada Minggu, 20 September 2026, pukul 07.30–10.00 WIB, bertempat di PMB Rismintarti Sulastinah, S.ST., Bdn., Banyubening 1, Bejiharjo, Karangmojo.

Peserta kegiatan terdiri atas lima pasangan suami istri pascasalin. Kegiatan juga dihadiri oleh bidan dan PKB Karangmojo.


Dari Edukasi hingga Ruang Diskusi

Rangkaian kegiatan Kelas AMAN dilaksanakan dengan susunan acara sebagai berikut:

  1. Pembukaan.
  2. Sambutan PMB/Bidan Rismintarti Sulastinah, SST, Bdn.
  3. Penyampaian materi Kesehatan Reproduksi dan Kontrasepsi Rasional.
  4. Penyampaian materi Peran Ayah dalam Optimalisasi 1.000 HPK.
  5. Tanggapan dan diskusi.
  6. Penutup.


Membuka Kelas dengan Kesadaran tentang Peran Bersama

Kegiatan dimulai pada pukul 07.30 WIB dengan pembukaan oleh pembawa acara. Peserta yang terdiri atas lima pasangan suami istri pascasalin mengikuti kegiatan dalam suasana kekeluargaan. Pada awal kegiatan, peserta diberikan penjelasan mengenai maksud dan tujuan pelaksanaan Kelas AMAN.

Disampaikan bahwa Kelas AMAN merupakan sarana pembelajaran bagi ayah dan ibu untuk meningkatkan pengetahuan serta membangun kesadaran bahwa kesehatan ibu dan anak merupakan tanggung jawab bersama. Peserta diharapkan tidak hanya menerima informasi, tetapi juga aktif berdiskusi dan menyampaikan berbagai pertanyaan maupun pengalaman yang berkaitan dengan kondisi keluarga setelah kelahiran anak.

Pada sesi pembukaan juga disampaikan gambaran umum materi yang akan diberikan, yaitu kesehatan reproduksi dan kontrasepsi rasional serta peran ayah dalam optimalisasi 1.000 HPK. Peserta diarahkan untuk mengikuti kegiatan sampai selesai agar memperoleh pemahaman secara utuh.


Saat Ibu Pulih, Ayah Hadir Memberi Dukungan

Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Rismintarti Sulastinah, SST, Bdn, selaku bidan sekaligus pemilik tempat pelaksanaan kegiatan.

Dalam sambutannya disampaikan bahwa masa setelah persalinan merupakan masa yang penting bagi ibu dan bayi. Ibu masih membutuhkan waktu untuk memulihkan kondisi tubuh setelah proses kehamilan dan persalinan, sementara bayi membutuhkan perawatan dan perhatian yang intensif.


Dalam situasi tersebut, dukungan suami menjadi hal yang sangat penting. Ayah diharapkan dapat membantu ibu dalam berbagai kegiatan, seperti membantu pekerjaan rumah tangga, merawat bayi, mendampingi ibu dalam melakukan pemeriksaan kesehatan, memberikan dukungan emosional, serta membantu menciptakan suasana rumah yang nyaman.

Bidan juga menyampaikan pentingnya komunikasi antara suami dan istri dalam menentukan perencanaan keluarga. Setelah memiliki anak, pasangan perlu mendiskusikan rencana kehamilan berikutnya serta pilihan kontrasepsi yang sesuai. Pengambilan keputusan tersebut hendaknya dilakukan secara bersama-sama dengan memperhatikan kondisi kesehatan ibu dan kebutuhan keluarga.


Menjaga Kesehatan Ibu, Merencanakan Keluarga

Materi pertama disampaikan oleh Rismintarti Sulastinah, SST, Bdn, dengan tema “Kesehatan Reproduksi dan Kontrasepsi Rasional”.

Materi memberikan pemahaman kepada peserta mengenai pentingnya menjaga kesehatan reproduksi pada masa setelah persalinan. Kondisi ibu setelah melahirkan perlu mendapatkan perhatian, termasuk pemulihan fisik, pemenuhan kebutuhan nutrisi, istirahat, kebersihan diri, serta pemantauan terhadap keluhan yang muncul.

Peserta diberikan pemahaman bahwa perawatan kesehatan ibu setelah persalinan tidak hanya menjadi tanggung jawab ibu sendiri. Suami memiliki peran dalam membantu memastikan ibu mendapatkan dukungan yang diperlukan. Dukungan dapat berupa membantu pekerjaan rumah tangga, memberikan kesempatan kepada ibu untuk beristirahat, membantu perawatan bayi, maupun mendampingi ibu ketika membutuhkan pelayanan kesehatan.

Pembahasan kemudian diarahkan pada kontrasepsi rasional. Peserta diberikan pemahaman bahwa kontrasepsi merupakan bagian dari perencanaan keluarga. Pemilihan kontrasepsi perlu mempertimbangkan berbagai aspek, antara lain kondisi kesehatan ibu, efektivitas metode, kemungkinan efek samping, kenyamanan, lama perlindungan, serta rencana kehamilan berikutnya.

Peserta juga diberikan pemahaman bahwa setiap pasangan memiliki kondisi dan kebutuhan yang berbeda. Oleh karena itu, metode kontrasepsi yang dipilih perlu didiskusikan dengan tenaga kesehatan agar pasangan memperoleh informasi yang sesuai.

Peran suami juga ditekankan dalam pembahasan ini. Suami diharapkan ikut terlibat dalam proses pengambilan keputusan, tidak hanya menyerahkan pilihan kontrasepsi kepada istri. Komunikasi yang baik antara suami dan istri diharapkan dapat membantu pasangan menentukan perencanaan keluarga secara lebih matang dan bertanggung jawab.


Ayah dan 1.000 HPK: Hadir Sejak Awal Kehidupan

Materi kedua disampaikan oleh Ir Sulistiyana, PKB Karangmojo, dengan tema “Peran Ayah dalam Optimalisasi 1.000 HPK”.

Dalam penyampaian materi dijelaskan bahwa periode 1.000 HPK merupakan periode yang sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan anak. Periode tersebut dimulai sejak masa kehamilan sampai anak berusia dua tahun.

Pada periode ini, anak membutuhkan pemenuhan kebutuhan secara menyeluruh. Selain kebutuhan gizi dan kesehatan, anak membutuhkan kasih sayang, perhatian, perlindungan, pengasuhan, serta stimulasi. Karena itu, keterlibatan kedua orang tua sangat diperlukan.

Ayah memiliki banyak kesempatan untuk berperan dalam optimalisasi 1.000 HPK. Peran tersebut dapat dilakukan melalui kegiatan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Ayah dapat membantu ibu, mendampingi ibu dalam merawat bayi, membantu pekerjaan rumah tangga, memberikan dukungan emosional, serta ikut memperhatikan kebutuhan kesehatan dan gizi keluarga.

Ayah juga dapat terlibat langsung dalam pengasuhan anak. Kegiatan seperti mengajak anak berbicara, tersenyum, bermain, memeluk, membacakan cerita, dan memberikan perhatian merupakan bentuk interaksi yang dapat membangun kedekatan antara ayah dan anak.

Dalam materi juga ditekankan bahwa pengasuhan bukan hanya pekerjaan ibu. Ayah memiliki kesempatan yang sama untuk berperan dalam membangun hubungan emosional dengan anak. Keterlibatan ayah juga dapat membantu menciptakan pembagian peran yang lebih seimbang dalam keluarga.

Selain itu, ayah dapat mendukung keluarga dengan memperhatikan lingkungan rumah agar tetap sehat dan aman, mendukung pemenuhan kebutuhan gizi, serta memastikan anak mendapatkan pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan.


Bertanya, Berbagi Pengalaman, dan Menemukan Jawaban

Setelah penyampaian kedua materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanggapan dan diskusi. Peserta diberikan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan maupun pengalaman terkait kehidupan keluarga setelah kelahiran anak.

Diskusi membahas berbagai hal yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi pascasalin, perencanaan kehamilan, kontrasepsi, pembagian peran antara suami dan istri, serta bentuk keterlibatan ayah dalam pengasuhan anak.

Peserta diberikan kesempatan untuk mengklarifikasi informasi yang belum dipahami. Narasumber memberikan penjelasan sesuai dengan bidang masing-masing sehingga peserta memperoleh informasi yang lebih jelas dan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sesi diskusi juga menjadi sarana untuk mendorong pasangan agar lebih terbuka dalam berkomunikasi mengenai kebutuhan ibu dan bayi. Suami diharapkan dapat memahami bahwa dukungan kepada ibu tidak hanya diberikan ketika terdapat masalah, tetapi dilakukan secara konsisten dalam kehidupan sehari-hari.


Menutup Kegiatan, Membawa Pesan ke Rumah

Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, kegiatan ditutup dengan penyampaian kesimpulan. Disampaikan kembali bahwa kesehatan ibu dan anak merupakan tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu.

Ayah diharapkan semakin aktif memberikan dukungan kepada ibu, terlibat dalam perawatan dan pengasuhan bayi, serta ikut mengambil bagian dalam perencanaan keluarga. Sementara itu, ibu dan ayah diharapkan dapat membangun komunikasi yang baik sehingga setiap keputusan yang berkaitan dengan kesehatan dan keluarga dapat dilakukan secara bersama-sama.

Kegiatan ditutup dengan harapan agar pengetahuan yang telah diperoleh dapat diterapkan dalam kehidupan keluarga sehari-hari dan memberikan manfaat bagi ibu, ayah, serta anak.
Dari Kelas Menuju Kebiasaan Positif di Rumah

Pelaksanaan Kelas AMAN memberikan kesempatan kepada lima pasangan suami istri pascasalin untuk memperoleh informasi mengenai kesehatan reproduksi, kontrasepsi rasional, serta peran ayah dalam optimalisasi 1.000 HPK.

Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan memahami bahwa masa pascasalin membutuhkan dukungan bersama. Ibu membutuhkan dukungan untuk pemulihan dan pengasuhan, sedangkan bayi membutuhkan perawatan dan stimulasi yang sesuai.

Peserta juga memperoleh pemahaman bahwa pemilihan kontrasepsi perlu dilakukan berdasarkan informasi yang tepat dan kondisi pasangan. Perencanaan keluarga diharapkan menjadi bagian dari komunikasi antara suami dan istri.

Dari sisi peran ayah, peserta mendapatkan pemahaman bahwa ayah dapat terlibat secara langsung dalam berbagai aktivitas pengasuhan. Keterlibatan tersebut dapat dilakukan melalui dukungan kepada ibu, perawatan bayi, pemenuhan kebutuhan keluarga, serta interaksi langsung dengan anak.


Pengetahuan yang Perlu Diteruskan dalam Kehidupan Sehari-hari

Sebagai tindak lanjut kegiatan, pasangan peserta diharapkan menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. Ayah diharapkan meningkatkan keterlibatan dalam pengasuhan dan memberikan dukungan kepada ibu, sedangkan pasangan secara bersama-sama dapat melakukan perencanaan keluarga sesuai dengan kondisi dan kebutuhan.

Peserta juga diharapkan melakukan konsultasi dengan bidan atau tenaga kesehatan apabila membutuhkan informasi lebih lanjut mengenai kesehatan reproduksi dan kontrasepsi.

PKB bersama tenaga kesehatan diharapkan dapat terus memberikan edukasi dan pendampingan kepada keluarga sesuai dengan kebutuhan, sehingga pesan-pesan yang disampaikan dalam Kelas AMAN dapat diterapkan secara berkelanjutan.


Ketika Ayah dan Ibu Berjalan Bersama

Kegiatan Kelas AMAN (Ayah Idaman) bagi Keluarga Ibu Pascasalin telah dilaksanakan pada Minggu, 20 September 2026, pukul 07.30–10.00 WIB, bertempat di PMB Rismintarti Sulastinah, S.ST., Bdn., Banyubening 1, Bejiharjo, Karangmojo, dengan sasaran lima pasangan suami istri pascasalin.

Kegiatan menghadirkan dua narasumber, yaitu Rismintarti Sulastinah, SST, Bdn, dengan materi Kesehatan Reproduksi dan Kontrasepsi Rasional serta Ir Sulistiyana, PKB Karangmojo, dengan materi Peran Ayah dalam Optimalisasi 1.000 HPK.

Kegiatan berjalan dengan baik dan peserta mengikuti rangkaian kegiatan secara aktif. Melalui Kelas AMAN, diharapkan terjadi peningkatan pemahaman keluarga mengenai pentingnya menjaga kesehatan ibu setelah persalinan, melakukan perencanaan keluarga, serta meningkatkan keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan tumbuh kembang anak.

Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan penyampaian informasi, tetapi juga menjadi langkah awal dalam membangun kebiasaan positif di dalam keluarga. Dengan adanya kerja sama antara ayah dan ibu, diharapkan kebutuhan ibu dan anak dapat terpenuhi secara lebih optimal serta tercipta keluarga yang sehat, harmonis, dan berkualitas.


Khatimah

Kelas AMAN (Ayah Idaman) bagi keluarga ibu pascasalin menjadi salah satu ruang pembelajaran untuk memperkuat pemahaman pasangan mengenai kesehatan ibu dan anak, perencanaan keluarga, serta pentingnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan dan optimalisasi 1.000 HPK.

Harapannya, pesan yang disampaikan dalam kegiatan tidak berhenti di ruang kelas, tetapi berlanjut menjadi praktik nyata di rumah: ayah dan ibu saling mendukung, berbagi peran, berkomunikasi, dan bersama-sama memberikan pengasuhan terbaik bagi buah hati.(*)

0 Viewers

Post a Comment

0 Comments

The Magazine