GUNUNGKIDUL — Ada yang berbeda dari peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-19 Ikatan Penyuluh KB Indonesia (IPeKB) tahun 2026 di Kabupaten Gunungkidul. Peringatan yang mengusung tema “IPeKB untuk Keluarga Indonesia” itu tidak sekadar menjadi seremoni tahunan, tetapi juga momentum untuk merefleksikan perjalanan dan peran Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) sekaligus mempererat kebersamaan di antara para penyuluh.
Kegiatan digelar pada Selasa, 28/7, pukul 08.00–12.00 WIB, bertempat di kompleks objek wisata (obwis) Telaga Jonge, Pacarejo, Semanu, Gunungkidul. Rangkaian seremoni berlangsung di aula joglo kompleks wisata tersebut, kemudian dilanjutkan dengan kegiatan fun games dan outbound yang melibatkan para penyuluh KB.
Peringatan HUT IPeKB tahun ini menjadi pengingat bahwa organisasi profesi tersebut lahir pada 26 Juli 2007. Setelah 19 tahun eksis, momentum ulang tahun menjadi kesempatan bagi para penyuluh untuk kembali melihat perjalanan yang telah ditempuh sekaligus meneguhkan komitmen terhadap tugas pendampingan keluarga di tengah dinamika pembangunan kependudukan dan keluarga berencana.
Selain refleksi, kegiatan juga dirancang sebagai ruang penyegaran bagi para PKB. Melalui permainan dan aktivitas outbound, para penyuluh diajak melepaskan sejenak rutinitas pekerjaan sekaligus membangun kembali energi, semangat, dan kekompakan.
Dihadiri Lintas Unsur
Peringatan HUT ke-19 IPeKB Gunungkidul dihadiri berbagai unsur yang selama ini menjadi mitra dalam pelaksanaan program kependudukan, keluarga berencana, dan pembangunan keluarga.
Hadir mewakili Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Kalurahan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPMKPPKB) Kabupaten Gunungkidul, M Ali Mas’udi, SKM, MPH, selaku Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana beserta jajaran.
Turut hadir Panewu Semanu Anik Suprihatin, SIP, MAP, Lurah Pacarejo, Suhadi, SAP, jajaran pengurus DPC IPeKB Indonesia Kabupaten Gunungkidul, perwakilan kader KB/Institusi Masyarakat Pedesaan (IMP) tingkat kabupaten, perwakilan pengurus DPD IPeKB Indonesia DIY, perwakilan DPC IPeKB kabupaten/kota se-DIY, serta perwakilan Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Gunungkidul.
Seluruh Penyuluh KB Kabupaten Gunungkidul juga hadir dalam kegiatan tersebut. Tidak kalah penting, hadir pula lima keluarga risiko stunting (KRS) dari Kapanewon Semanu yang menerima bantuan sembako hasil donasi dari para penyuluh KB Gunungkidul.
Kehadiran lintas unsur tersebut memperlihatkan bahwa kerja pendampingan keluarga tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, penyuluh, kader, tenaga kesehatan, pemerintah kalurahan, serta berbagai unsur masyarakat agar upaya membangun keluarga berkualitas dapat berjalan secara berkelanjutan.
Diawali Lagu Kebangsaan dan Mars IPeKB
Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan, dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, Mars KB, dan Mars IPeKB Indonesia. Suasana kemudian dilanjutkan dengan doa yang dipimpin oleh Sabrur Rohim, SAg, MSI, Penyuluh KB Kapanewon Nglipar.
Setelah itu, Ketua Panitia Penyelenggara HUT ke-19 IPeKB Gunungkidul, Purwadi, SHI, menyampaikan sambutannya.
Purwadi mengapresiasi semangat dan motivasi seluruh pengurus serta anggota IPeKB Gunungkidul yang telah berpartisipasi dalam mempersiapkan dan melaksanakan rangkaian kegiatan. Menurutnya, terselenggaranya kegiatan tersebut merupakan buah dari kebersamaan dan komitmen para penyuluh.
Ia berharap seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat bagi para peserta. Dalam kesempatan tersebut, Purwadi juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama proses persiapan maupun pelaksanaan kegiatan terdapat kekhilafan dan kekurangan.
“Salam IPeKB!” Menggema di Telaga Jonge
Suasana semakin semarak ketika Ketua Umum DPC IPeKB Indonesia Kabupaten Gunungkidul, Ahmad Harwanto, S.Sos., menyampaikan sambutan.
Alih-alih langsung menyampaikan pidato formal, Harwanto terlebih dahulu mengajak seluruh Penyuluh KB meneriakkan salam khas IPeKB. Suara lantang pun menggema di aula joglo Telaga Jonge.
“Salam IPeKB!”
“Kerja Cerdas, Sejahtera!”
“IPeKB DIY!”
“Ubet, Greget, Ora Ruwet!”
“IPeKB Gunungkidul!”
“Guyub Rukun, Sing Penting Gayeng!”
Seruan tersebut bukan sekadar yel-yel untuk membangkitkan suasana. Di dalamnya terkandung semangat dan identitas yang hendak terus dipelihara dalam kehidupan organisasi maupun pelaksanaan tugas para penyuluh di lapangan.
Dalam sambutannya, Harwanto menegaskan bahwa tema “IPeKB untuk Keluarga Indonesia” merupakan pengingat bagi seluruh penyuluh untuk terus hadir dan berkiprah dengan penuh dedikasi dalam mendampingi keluarga.
Menurutnya, tugas penyuluh bukan hanya menyampaikan informasi mengenai program Bangga Kencana, tetapi juga hadir di tengah keluarga, memahami persoalan yang dihadapi, membangun komunikasi, dan menghubungkan keluarga dengan berbagai sumber daya serta layanan yang dibutuhkan.
Harwanto juga menegaskan bahwa peringatan HUT IPeKB ke-19 tidak semata-mata diwujudkan dalam bentuk seremoni. Berbagai kegiatan telah dilaksanakan sebagai bagian dari rangkaian peringatan, antara lain pelatihan pembuatan konten media sosial, bakti sosial, fun games dan outbound bagi PLKB, serta anjangsana kepada para mantan Penyuluh KB.
Rangkaian kegiatan tersebut sekaligus menjadi upaya untuk menjaga hubungan antarpengurus dan anggota IPeKB, memperkuat kapasitas, serta merawat ikatan emosional di antara para penyuluh.
Potong Tumpeng, Simbol Syukur dan Kebersamaan
Suasana peringatan kemudian memasuki salah satu prosesi yang menjadi simbol khas perayaan ulang tahun, yakni pemotongan tumpeng.
Ketua Umum DPC IPeKB Gunungkidul, Ahmad Harwanto, melakukan pemotongan tumpeng. Dua potongan tumpeng kemudian diserahkan kepada dua tokoh yang hadir dalam kegiatan tersebut, yakni Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana DPMKPPKB Gunungkidul, M. Ali Mas’udi, dan Panewu Semanu, Anik Suprihatin.
Potong tumpeng menjadi simbol rasa syukur atas perjalanan IPeKB yang telah memasuki usia 19 tahun. Lebih dari itu, prosesi tersebut juga menjadi simbol harapan agar organisasi dan para penyuluh KB semakin solid dalam menjalankan amanah pendampingan keluarga.
Dari Penyuluh untuk Keluarga Berisiko Stunting
Semangat kebersamaan dalam peringatan HUT IPeKB tidak berhenti pada kegiatan internal organisasi. Kepedulian terhadap keluarga juga diwujudkan melalui pemberian bantuan sembako kepada lima keluarga risiko stunting (KRS) di Kapanewon Semanu.
Bantuan tersebut berasal dari donasi yang dikumpulkan oleh para Penyuluh KB Gunungkidul. Penyerahan dilakukan secara bersama-sama oleh Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan KB, Panewu Semanu, Ketua Umum DPC IPeKB Gunungkidul, Ketua DPD IPeKB Indonesia DIY, serta perwakilan IBI Gunungkidul.
Bagi keluarga penerima, bantuan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, di balik paket sembako terdapat pesan yang jauh lebih besar: bahwa keluarga yang sedang menghadapi berbagai persoalan tidak berjalan sendirian.
Inilah salah satu bentuk nyata dari tema “IPeKB untuk Keluarga Indonesia”. Peran penyuluh tidak hanya hadir melalui penyuluhan dan pendampingan administratif, tetapi juga melalui kepedulian sosial dan keberpihakan terhadap keluarga yang membutuhkan.
Di Tengah Efisiensi Anggaran, Semangat Tidak Boleh Surut
Sambutan berikutnya disampaikan oleh M. Ali Mas’udi, SKM., MPH., selaku Kepala Bidang Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana DPMKPPKB Gunungkidul.
Mengawali sambutannya, Ali menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran Kepala DPMKPPKB Gunungkidul karena harus menjalankan berbagai agenda kegiatan lainnya.
Ia kemudian menyampaikan ucapan selamat atas HUT ke-19 IPeKB sekaligus memberikan apresiasi terhadap kiprah para penyuluh KB di Kabupaten Gunungkidul.
Dalam situasi kebijakan efisiensi anggaran pemerintah, Ali mengajak para penyuluh untuk tetap menjaga kekompakan dan semangat dalam menjalankan tugas. Menurutnya, keterbatasan anggaran tidak semestinya menjadi alasan untuk menurunkan kualitas pengabdian di lapangan.
“Modal bekerja di lapangan bukan hanya anggaran, tetapi juga semangat dan koordinasi lintas sektor,” demikian semangat yang disampaikan dalam sambutannya.
Pesan tersebut menjadi relevan karena sebagian besar pekerjaan penyuluh KB justru bertumpu pada kekuatan jejaring. Pendampingan keluarga, penanganan keluarga berisiko stunting, penguatan program KB, hingga edukasi pembangunan keluarga membutuhkan kerja bersama dengan pemerintah kapanewon, kalurahan, kader, tenaga kesehatan, serta berbagai pihak lainnya.
Apresiasi atas Capaian TFR Gunungkidul
Dalam kesempatan tersebut, Ali juga memberikan apresiasi terhadap hasil kerja para Penyuluh KB Gunungkidul. Salah satu capaian yang disoroti adalah angka Total Fertility Rate (TFR) Gunungkidul yang berada di angka 1,8.
Capaian tersebut bahkan telah melampaui target TFR Daerah Istimewa Yogyakarta yang berada pada angka 2,1.
Angka tersebut bukan sekadar statistik kependudukan. Di baliknya terdapat rangkaian kerja panjang para penyuluh yang hadir di tengah masyarakat: melakukan komunikasi, memberikan edukasi, mendampingi pasangan usia subur, menguatkan kesadaran keluarga mengenai perencanaan kehidupan berkeluarga, serta membangun koordinasi dengan berbagai pihak.
Karena itu, capaian tersebut layak menjadi sumber kebanggaan sekaligus motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan dan pendampingan.
Bagi para penyuluh, angka 1,8 tersebut menjadi salah satu bukti bahwa kerja-kerja yang dilakukan di lapangan, meskipun sering kali berlangsung sunyi dan tidak selalu terlihat, pada akhirnya memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan kependudukan dan keluarga di Kabupaten Gunungkidul. Meski begitu, ujar Ali Mas'udi, bukan berarti PKB kemudian tidak bekerja lagi. Justru sebaliknya, PKB harus terus bekerja dan berkarya dalam pendampingan keluarga, khususnya dalam bidang penguatan ketahanan keluarga.
Meneguhkan Kembali Makna “IPeKB untuk Keluarga Indonesia”
Peringatan HUT ke-19 IPeKB di Telaga Jonge pada akhirnya bukan hanya tentang bertambahnya usia sebuah organisasi. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menjadi ruang untuk mengingat kembali alasan mengapa IPeKB didirikan, merefleksikan perjalanan pengabdian para Penyuluh KB, sekaligus menyegarkan kembali semangat kebersamaan.
Setelah sesi seremoni, para penyuluh kemudian mengikuti kegiatan fun games dan outbound. Aktivitas tersebut menjadi ruang untuk tertawa, bermain, bekerja sama, dan membangun kembali kedekatan di antara para penyuluh yang sehari-hari disibukkan oleh tugas masing-masing di wilayah kerja.
Di tengah berbagai tantangan, termasuk keterbatasan sumber daya dan tuntutan pekerjaan yang semakin kompleks, kebersamaan menjadi modal penting. Sebab, pendampingan keluarga bukan pekerjaan yang dapat diselesaikan seorang diri.
Tema “IPeKB untuk Keluarga Indonesia” dengan demikian bukan sekadar slogan ulang tahun. Ia merupakan pengingat bahwa di balik setiap program, setiap angka capaian, dan setiap kegiatan penyuluhan, terdapat keluarga-keluarga yang membutuhkan kehadiran, pendampingan, dan perhatian.
Dan di sanalah para Penyuluh KB mengambil peran: hadir, mendampingi, menguatkan, serta terus bekerja untuk mewujudkan keluarga Indonesia yang berkualitas.
Selamat HUT ke-19 IPeKB Indonesia.
IPeKB untuk Keluarga Indonesia.(*)

0 Comments