Oleh: Purwadi, SHI (PKB Saptosari)
SAPTOSARI | Senin, 29/6, di RM Bale Raos Kemantren Kraton Yogyakarta, Kementrian Kependudukan dan Keluarga Berencana/BKKBN menyelenggarakan acara Ratri Anugraha dalam rangkaian Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke – 33 tahun 2026, yang merupakan malam puncak apresiasi dan penghargaan yang diberikan kepada Tenaga Lini Lapangan (TLL) terbaik se Daerah Istimewa Yogyakarta yang dihadiri langsung oleh Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga, Dr H Wihaji, SAg, MPd, dan didampingi oleh Wakil Menteri Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka. Hadir pula dalam acara tersebut jajaran Deputi dan Direktur Kementrian Kependudukan dan Pembangungan Keluarga, Wali Kota Yogyakarta dan Kepala OPD KB Kabupaten/Kota se Daerah Istimewa Yogyakarta dan pihak-pihak yang konsen dalam bidang Kependudukan dan Pembangunan Keluarga.Dalam kesempatan tersebut, Tim Pendamping Keluarga (TPK) Kalurahan Kanigoro Kapanewon Saptosari Gunungkidul menjadi yang terbaik se DIY dalam ajang Apresiasi Tenaga Lini Lapangan (ATLL) tahun 2026. Ada 6 Kategori yang dilombakan dalam ajang ATLL tahun 2026 kali ini, dan Gunungkidul sukses mendapat 2 kategori penghargaan terbaik. Selengkapnya adalah sebagai berikut:
1. Tim Pendamping Keluarga (TPK) Terbaik: Oky Fatmasari, AMd Keb, SKM, Wahyu Sri Purwanti, SPd, Suprapti (Kapanewon
Saptosari, Kabupaten Gunungkidul)
2. Penyuluh KB/PLKB ASN Terbaik: Dwi
Lestiyandari, SIKom, MAP (Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungkidul)
3. Kader IMP Terbaik: Jamil Jaziyah IMP
Girimulyo (Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo)
4. Kampung Keluarga Berkualitas Terbaik
Kampung KB Poncosari (Kapanewon Srandakan, Kabupaten Bantul)
5. Apresiasi Rumah DataKu Terbaik: Rumah
Dataku Kelurahan GIWANGAN (Kemantren Umbulharjo, Kota Yogyakarta)
6. Pasangan KB Lestari 20 tahun: Bapak Saryanto-Ibu Suprihatin (Kemantren Mergangsan, Kota Yogyakarta)
Dalam sambutannya, Menteri Kemendukbangga Wihaji
menyampaikan bahwa, “Tujuan dari acara Ratri Anugraha dalam rangkaian Harganas
ke-33 adalah untuk mengapresiasi dedikasi para petugas di lini lapangan dalam
melayani Masyarakat terkait program kependudukan, pembanguan keluarga dan
penurunan stunting di wilayahnya.” Lebih lanjut, tegas beliau,
“Harapannya apresiasi ini bisa mendorong semangat para kader agar lebih aktif
mengedukasi keluarga sasaran terkait penanganan stunting dan ketahanan
keluarga.”
Kegiatan ini sasaran utamanya adalah ayah balita dan suami ibu hamil, karena peran ayah sangat penting dalam menciptakan lingkungan keluarga yang sehat dalam rangka pencegahan stunting. Program ini memberikan KIE (komunikasi, informasi dan edukasi) pada keluarga sasaran mengenai bahaya asap rokok bagi ibu hamil, bayi, dan balita, serta kaitannya dengan risiko stunting dan gangguan kesehatan lainnya. Melalui perubahan perilaku sederhana seperti tidak merokok di dalam rumah, diharapkan tercipta lingkungan yang lebih sehat, nyaman, dan mendukung tumbuh kembang anak secara optimal sehingga dapat berkontribusi dalam upaya penurunan stunting.
Sebagai bentuk dukungan dan motivasi, program ini juga memberikan fasilitasi dengan adanya Kartu Komitmen Ayah Superstar dalam upaya mengurangi dan berhenti merokok. Selain itu keluarga dan ayah diberi Bumbung Penyemangat, yaitu celengan sederhana dari bambu yang digunakan sebagai media tabungan keluarga sekaligus motivasi untuk mengurangi pengeluaran membeli rokok. Uang yang biasanya digunakan untuk membeli rokok diharapkan dapat dialihkan menjadi tabungan keluarga yang lebih bermanfaat.
Selain itu, diberikan pula Bumbung Penyelamat, yaitu bambung yang difungsikan sebagai tempat mematikan dan membuang puntung rokok yang diletakkan di luar rumah. Upaya ini bertujuan agar aktivitas merokok tidak dilakukan di dalam rumah sehingga asap rokok tidak terhirup oleh ibu hamil, bayi, dan balita sebagai perokok pasif. Melalui pendekatan ini, program Ayah Superstar tidak hanya mengedukasi tentang bahaya rokok, tetapi juga membangun kebiasaan menjadi perokok yang lebih santun dan peduli terhadap kesehatan keluarga.Dalam suatu kesempatan Panewu Saptosari, Eka Prayitno, SSos, MM memberikan motivasi dan testimoninya kepada TPK Kanigoro Saptosari bahwa. “Kehadiran dan keberadaan Tim Pendamping Keluarga (TPK) khususnya di Kapanewon Saptosari menjadi bagi penting dalam upaya mewujudkan keluarga yang sehat dan sejahtera bebas stunting. Kerja keras, kerja cedas dan ketulusan kader TPK semua dalam memndampingi keluarga di wilayahnya adalah kerja nyata dalam mewujudkan keluarga berkualitas bebas stunting,” jelas Panewu Saptosari.(*)
0 Comments