Peduli Kesehatan Reproduksi Lansia: Penguatan Peran Keluarga dalam Mewujudkan Lansia Sehat dan Tangguh

Oleh: Dien Faradina Latifasari, SKep (PKB Kapanewon Karangmojo)

KARANGMOJO | Pada Selasa, 5 Mei 2026, Kelompok Bina Keluarga Lansia (BKL) Anggrek, Padukuhan Kayuwalang, Kalurahan Wiladeg, Kapanewon Karangmojo, Kabupaten Gunungkidul, melaksanakan kegiatan sosialisasi bertema “Kesehatan Reproduksi bagi Lansia”. Kegiatan ini dilaksanakan pada pukul 12.00 WIB dengan tujuan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran keluarga serta lansia mengenai pentingnya kesehatan reproduksi pada usia lanjut melalui media Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) berupa poster edukatif.

Sebelum memasuki sesi penyuluhan, kegiatan diawali dengan pemeriksaan kesehatan berupa pengecekan tekanan darah (tensi) bagi para lansia. Pemeriksaan ini dilakukan sebagai upaya pemantauan kondisi kesehatan sekaligus deteksi dini terhadap risiko penyakit yang umum dialami pada usia lanjut, seperti hipertensi.

Para lansia tampak antusias mengikuti pemeriksaan tersebut. Kegiatan ini juga menjadi bentuk kepedulian bersama terhadap pentingnya menjaga kondisi kesehatan secara berkala, terutama pada kelompok usia rentan.


Sambutan dan Pembukaan Kegiatan

Kegiatan kemudian dibuka oleh Dukuh Kayuwalang, Ibu Muniq, yang menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan ini. Dalam sambutannya, beliau berharap kegiatan ini dapat menjadi sarana edukasi yang berkelanjutan bagi masyarakat, khususnya dalam mendukung terwujudnya lansia yang sehat, mandiri, dan sejahtera.


Materi 7 Dimensi Lansia Tangguh

Selanjutnya, Dien Faradina selaku Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) Kapanewon Karangmojo menyampaikan sambutan sekaligus materi mengenai 7 Dimensi Lansia Tangguh. Ketujuh dimensi tersebut meliputi dimensi spiritual, intelektual, fisik, emosional, sosial kemasyarakatan, profesional-vokasional, serta lingkungan.

Dalam pemaparannya, ditekankan bahwa lansia tidak hanya dipandang sebagai kelompok usia yang mengalami penurunan fungsi, tetapi juga sebagai individu yang tetap memiliki potensi untuk aktif, produktif, dan berdaya, dengan dukungan keluarga dan lingkungan sekitar.


Edukasi Kesehatan Reproduksi Lansia

Materi inti mengenai kesehatan reproduksi lansia disampaikan oleh 12 mahasiswa magang Program Studi Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Dalam kesempatan tersebut, diperkenalkan media KIE berupa poster edukatif berjudul “Peduli Kesehatan Reproduksi Lansia” yang memuat informasi penting terkait kesehatan reproduksi pada usia lanjut.

Dalam pemaparan materi dijelaskan bahwa kesehatan reproduksi lansia dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain:

1. Faktor demografis, seperti lokasi tempat tinggal, tingkat pendidikan, usia pernikahan, dan akses terhadap layanan kesehatan.
2. Faktor biologis, seperti kondisi organ reproduksi, status gizi, dan penyakit penyerta.
3. Faktor budaya dan lingkungan, meliputi pandangan masyarakat, kepercayaan, serta stigma terkait kesehatan reproduksi lansia.
4. Faktor psikologis, seperti tekanan lingkungan, hubungan keluarga, serta perubahan kondisi emosional akibat faktor usia dan hormonal.

Penjelasan ini memberikan gambaran bahwa kesehatan reproduksi lansia tidak berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh aspek yang saling berkaitan dalam kehidupan sehari-hari.


Klasifikasi Usia Lansia dan Upaya Perawatan

Peserta juga diberikan pemahaman mengenai kategori usia lansia berdasarkan WHO, yaitu usia pertengahan (45–59 tahun), lanjut usia (60–74 tahun), lansia tua (75–90 tahun), dan lansia sangat tua (di atas 90 tahun).

Selain itu, disampaikan pula langkah-langkah sederhana dalam menjaga kesehatan reproduksi lansia, yaitu:

1. Memperhatikan kebersihan organ reproduksi dengan membersihkan area intim secara benar.
2. Menerapkan pola hidup sehat melalui konsumsi makanan bergizi, olahraga teratur, dan menghindari kebiasaan merokok.
3. Melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin sebagai upaya deteksi dini gangguan kesehatan.
4. Menggunakan pakaian dalam yang bersih dan nyaman serta menggantinya secara berkala.
5. Menerapkan perilaku hidup seksual yang aman untuk mencegah penyakit menular.
6. Mengenali faktor risiko kesehatan yang dipengaruhi oleh kondisi ekonomi, sosial, budaya, dan fisik.


Masalah Kesehatan Reproduksi pada Lansia

Dalam materi juga dijelaskan berbagai masalah kesehatan reproduksi yang dapat dialami lansia. Pada perempuan, antara lain vaginitis atrofi, kanker serviks dan ovarium, prolaps uteri (rahim turun), serta infeksi saluran kemih.

Sementara pada laki-laki, masalah yang sering muncul meliputi pembesaran prostat jinak (Benign Prostatic Hyperplasia/BPH), kanker prostat, dan disfungsi ereksi.

Oleh karena itu, keluarga diharapkan mampu mengenali tanda dan gejala awal, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.

Peran Keluarga dalam Kesehatan Lansia

Melalui kegiatan BKL ini, keluarga sebagai pendamping utama lansia diharapkan memiliki pemahaman yang lebih baik mengenai pentingnya kesehatan reproduksi pada usia lanjut.


Keterlibatan keluarga dalam memberikan perhatian, dukungan emosional, serta akses terhadap layanan kesehatan menjadi faktor kunci dalam meningkatkan kualitas hidup lansia secara menyeluruh.


Penutup

Kegiatan berlangsung dengan lancar dan mendapat antusiasme tinggi dari peserta. Para lansia dan anggota keluarga aktif berdiskusi serta berbagi pengalaman terkait permasalahan kesehatan yang mereka hadapi sehari-hari.

Melalui kegiatan sosialisasi dan media KIE ini, diharapkan pengetahuan masyarakat mengenai kesehatan reproduksi lansia semakin meningkat. Pada akhirnya, hal ini diharapkan dapat mewujudkan lansia yang lebih sehat, tangguh, dan sejahtera dalam kehidupan keluarga maupun masyarakat.(*)

0 Viewers

Post a Comment

0 Comments

The Magazine