PLAYEN | Rabu, 6 Mei 2026, atmosfer di Padukuhan Gembuk, Kalurahan Getas, Kapanewon Playen terasa lebih hangat dari biasanya. Sejak matahari belum tepat di atas kepala, Satuan PAUD Sejenis (SPS) Lentera Keluarga sudah menjadi pusat gravitasi bagi warga Kepek I. Di gedung yang menjadi simbol cahaya pendidikan bagi anak usia dini ini, sebuah konsep pelayanan terintegrasi bertajuk “Posyandu Nyawiji” digelar dengan penuh antusiasme.
Kegiatan pagi itu diawali dengan rutinitas pembelajaran bagi anak-anak PAUD. Di bawah bimbingan para pendidik, anak-anak Padukuhan Gembuk mendapatkan stimulasi kognitif yang menjadi fondasi tumbuh kembang mereka. Namun, yang menarik adalah bagaimana institusi pendidikan ini bertransformasi menjadi pusat kesehatan masyarakat tepat pada pukul 10.00 WIB.
Sesuai dengan filosofi “Nyawiji” yang berarti menyatu, pelayanan kesehatan pada hari itu dilakukan secara simultan bagi dua kelompok usia yang paling membutuhkan perhatian, yaitu balita dan lansia. Berdasarkan pantauan lapangan, manajemen lokasi dilakukan secara cerdas untuk menyiasati keterbatasan ruang. Area luar ruangan SPS digunakan untuk Posyandu Balita, memberikan ruang terbuka bagi anak-anak untuk bergerak aktif selama proses penimbangan dan pengukuran. Sementara itu, area dalam ruangan difungsikan khusus sebagai Posyandu Lansia demi menjaga ketenangan dan kenyamanan para sesepuh selama pemeriksaan medis.
Hadirnya rombongan tenaga kesehatan dari Puskesmas Playen II yang dipimpin oleh Kepala Puskesmas Playen II, Arif Budianto, SKM, menambah bobot kualitas pelayanan pada hari itu. Petugas medis tidak hanya melakukan pemeriksaan rutin, tetapi juga memberikan intervensi edukasi yang krusial. Di tengah keriuhan tersebut, Drs Edy Pranoto selaku Koordinator PKB Playen turut memberikan pemaparan materi mengenai 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) kepada ibu-ibu yang hadir sebagai upaya preventif dalam mencegah stunting pada anak.
Para ibu balita diberikan pemahaman mendalam mengenai pencegahan stunting melalui asupan nutrisi lokal, sementara kelompok lansia mendapatkan edukasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat. Selain itu, mahasiswa magang UNY, Amanda Citra Ayu Ningtyas, juga memberikan pemaparan materi khusus kepada para lansia mengenai kesehatan reproduksi serta perilaku hidup sehat yang dapat dilakukan di masa tua. Dalam kesempatan ini, turut hadir petugas PKH Kapanewon Playen, Ibu Nurul, yang menyampaikan pentingnya pemberian kasih sayang yang optimal bagi balita sebagai upaya mengoptimalkan perkembangan anak.
Kolaborasi ini mencerminkan semangat gotong royong yang menjadi napas pembangunan di Kabupaten Gunungkidul. Melalui integrasi ini, diharapkan tidak ada lagi sekat dalam pelayanan publik, di mana pendidikan dan kesehatan berjalan beriringan dalam satu waktu dan lokasi. Dengan menggabungkan layanan di lokasi PAUD, tingkat partisipasi masyarakat menjadi sangat tinggi karena sasaran balita sudah terkumpul sejak pagi. Selain itu, dukungan penuh dari Puskesmas Playen II memberikan jaminan kualitas layanan medis yang akurat dan terpercaya bagi warga.
Adanya pemisahan ruang antara balita (luar) dan lansia (dalam) juga menunjukkan kreativitas kader dalam mengelola fasilitas yang terbatas demi kenyamanan bersama. Meski berjalan sukses, terdapat beberapa celah yang perlu menjadi perhatian. Ketergantungan pada kondisi cuaca menjadi kelemahan utama, mengingat layanan balita dilakukan di area terbuka. Jika cuaca tidak mendukung, hal ini berpotensi mengganggu kelancaran kegiatan. Selain itu, pelaksanaan dua layanan besar pada waktu yang sama menciptakan beban kerja yang sangat padat bagi para kader dalam jangka waktu yang singkat, yang jika tidak dikelola dengan baik dapat memengaruhi akurasi pencatatan dalam Kartu Kembang Anak (KKA) maupun buku laporan lansia.
SPS Lentera Keluarga memiliki peluang besar untuk menjadi Pusat Integrasi Data Keluarga di tingkat kalurahan. Dengan data kesehatan balita dan lansia yang terkumpul dalam satu waktu, kalurahan dapat memiliki basis data yang komprehensif untuk merancang program intervensi yang lebih spesifik. Hal yang perlu diwaspadai adalah fenomena pengasuhan sekunder. Banyaknya orang tua yang bekerja di luar daerah menyebabkan beban pengasuhan jatuh sepenuhnya kepada lansia. Kesenjangan informasi antara standar kesehatan modern dan pola asuh tradisional kakek-nenek menjadi tantangan bagi petugas kesehatan. Selain itu, faktor cuaca ekstrem dan risiko kejenuhan kader sukarelawan menuntut adanya program motivasi dan apresiasi yang berkelanjutan dari pemerintah daerah.
Posyandu Nyawiji di Padukuhan Gembuk telah membuktikan bahwa keterbatasan ruang bukan penghalang untuk melahirkan inovasi. Dengan semangat gotong royong, pendidikan anak usia dini dan kesehatan masyarakat dapat berjalan beriringan dalam harmoni.
Melalui pendampingan yang konsisten dari tenaga medis dan PLKB, diharapkan balita dapat disiapkan menuju generasi emas bebas stunting, sekaligus memuliakan para lansia agar tetap berdaya di masa tua. Nyawiji bukan sekadar metode pelayanan, melainkan manifestasi kasih sayang sebuah komunitas untuk merawat masa lalu dan masa depannya secara bersamaan.(*)
Kegiatan pagi itu diawali dengan rutinitas pembelajaran bagi anak-anak PAUD. Di bawah bimbingan para pendidik, anak-anak Padukuhan Gembuk mendapatkan stimulasi kognitif yang menjadi fondasi tumbuh kembang mereka. Namun, yang menarik adalah bagaimana institusi pendidikan ini bertransformasi menjadi pusat kesehatan masyarakat tepat pada pukul 10.00 WIB.
Sesuai dengan filosofi “Nyawiji” yang berarti menyatu, pelayanan kesehatan pada hari itu dilakukan secara simultan bagi dua kelompok usia yang paling membutuhkan perhatian, yaitu balita dan lansia. Berdasarkan pantauan lapangan, manajemen lokasi dilakukan secara cerdas untuk menyiasati keterbatasan ruang. Area luar ruangan SPS digunakan untuk Posyandu Balita, memberikan ruang terbuka bagi anak-anak untuk bergerak aktif selama proses penimbangan dan pengukuran. Sementara itu, area dalam ruangan difungsikan khusus sebagai Posyandu Lansia demi menjaga ketenangan dan kenyamanan para sesepuh selama pemeriksaan medis.
Hadirnya rombongan tenaga kesehatan dari Puskesmas Playen II yang dipimpin oleh Kepala Puskesmas Playen II, Arif Budianto, SKM, menambah bobot kualitas pelayanan pada hari itu. Petugas medis tidak hanya melakukan pemeriksaan rutin, tetapi juga memberikan intervensi edukasi yang krusial. Di tengah keriuhan tersebut, Drs Edy Pranoto selaku Koordinator PKB Playen turut memberikan pemaparan materi mengenai 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) kepada ibu-ibu yang hadir sebagai upaya preventif dalam mencegah stunting pada anak.
Para ibu balita diberikan pemahaman mendalam mengenai pencegahan stunting melalui asupan nutrisi lokal, sementara kelompok lansia mendapatkan edukasi mengenai perilaku hidup bersih dan sehat. Selain itu, mahasiswa magang UNY, Amanda Citra Ayu Ningtyas, juga memberikan pemaparan materi khusus kepada para lansia mengenai kesehatan reproduksi serta perilaku hidup sehat yang dapat dilakukan di masa tua. Dalam kesempatan ini, turut hadir petugas PKH Kapanewon Playen, Ibu Nurul, yang menyampaikan pentingnya pemberian kasih sayang yang optimal bagi balita sebagai upaya mengoptimalkan perkembangan anak.
Kolaborasi ini mencerminkan semangat gotong royong yang menjadi napas pembangunan di Kabupaten Gunungkidul. Melalui integrasi ini, diharapkan tidak ada lagi sekat dalam pelayanan publik, di mana pendidikan dan kesehatan berjalan beriringan dalam satu waktu dan lokasi. Dengan menggabungkan layanan di lokasi PAUD, tingkat partisipasi masyarakat menjadi sangat tinggi karena sasaran balita sudah terkumpul sejak pagi. Selain itu, dukungan penuh dari Puskesmas Playen II memberikan jaminan kualitas layanan medis yang akurat dan terpercaya bagi warga.
Adanya pemisahan ruang antara balita (luar) dan lansia (dalam) juga menunjukkan kreativitas kader dalam mengelola fasilitas yang terbatas demi kenyamanan bersama. Meski berjalan sukses, terdapat beberapa celah yang perlu menjadi perhatian. Ketergantungan pada kondisi cuaca menjadi kelemahan utama, mengingat layanan balita dilakukan di area terbuka. Jika cuaca tidak mendukung, hal ini berpotensi mengganggu kelancaran kegiatan. Selain itu, pelaksanaan dua layanan besar pada waktu yang sama menciptakan beban kerja yang sangat padat bagi para kader dalam jangka waktu yang singkat, yang jika tidak dikelola dengan baik dapat memengaruhi akurasi pencatatan dalam Kartu Kembang Anak (KKA) maupun buku laporan lansia.
SPS Lentera Keluarga memiliki peluang besar untuk menjadi Pusat Integrasi Data Keluarga di tingkat kalurahan. Dengan data kesehatan balita dan lansia yang terkumpul dalam satu waktu, kalurahan dapat memiliki basis data yang komprehensif untuk merancang program intervensi yang lebih spesifik. Hal yang perlu diwaspadai adalah fenomena pengasuhan sekunder. Banyaknya orang tua yang bekerja di luar daerah menyebabkan beban pengasuhan jatuh sepenuhnya kepada lansia. Kesenjangan informasi antara standar kesehatan modern dan pola asuh tradisional kakek-nenek menjadi tantangan bagi petugas kesehatan. Selain itu, faktor cuaca ekstrem dan risiko kejenuhan kader sukarelawan menuntut adanya program motivasi dan apresiasi yang berkelanjutan dari pemerintah daerah.
Posyandu Nyawiji di Padukuhan Gembuk telah membuktikan bahwa keterbatasan ruang bukan penghalang untuk melahirkan inovasi. Dengan semangat gotong royong, pendidikan anak usia dini dan kesehatan masyarakat dapat berjalan beriringan dalam harmoni.
Melalui pendampingan yang konsisten dari tenaga medis dan PLKB, diharapkan balita dapat disiapkan menuju generasi emas bebas stunting, sekaligus memuliakan para lansia agar tetap berdaya di masa tua. Nyawiji bukan sekadar metode pelayanan, melainkan manifestasi kasih sayang sebuah komunitas untuk merawat masa lalu dan masa depannya secara bersamaan.(*)


0 Comments