WONOSARI | Pertemuan-pertemuan rutin sering kali dipandang sebagai agenda administratif belaka: hadir, tanda tangan, mendengar arahan, lalu pulang. Namun, sesungguhnya di balik forum-forum sederhana semacam itulah denyut pengabdian para pelayan masyarakat justru terasa paling nyata. Ada ruang silaturahmi, ruang berbagi kegelisahan, ruang bertukar harapan, sekaligus ruang untuk meneguhkan kembali semangat di tengah berbagai keterbatasan. Demikian pula yang terasa dalam kegiatan Pertemuan Koordinasi Rutin dan Arisan Paguyuban Koordinator Penyuluh KB se-Kabupaten Gunungkidul yang dilaksanakan pada Kamis, 7/5, di Rumah Makan Bu Wiwik, Mulo, Wonosari, Jl Raya Baron.
Kegiatan yang dimulai pukul 13.00 WIB tersebut berlangsung dalam suasana hangat, akrab, namun tetap sarat makna. Pertemuan kali ini terasa sedikit berbeda karena tuan rumah kegiatan adalah Kukuh Budi Prasetyo, SPsi (koordinator PKB Rongkop), yang memperoleh giliran arisan pada undian pertemuan bulan sebelumnya. Tradisi arisan dalam paguyuban semacam ini bukan sekadar mekanisme giliran menjamu, tetapi telah menjadi simpul sosial yang mempererat persaudaraan antarsesama koordinator penyuluh KB di Gunungkidul.
Lokasi kegiatan pun memberi kesan tersendiri. Rumah Makan Bu Wiwik di kawasan Mulo bukan sekadar tempat makan biasa. Tempat tersebut lebih menyerupai sebuah resto dengan nuansa klasik yang berpadu dengan sentuhan kekinian. Bangunan dan tata ruangnya menghadirkan suasana nyaman, hangat, dan bersahaja. Letaknya yang berada di jalur utama Jalan Baron menjadikan tempat ini cukup strategis dan kerap menjadi persinggahan kendaraan wisata yang menuju kawasan pantai selatan Gunungkidul. Di tengah lalu lalang kendaraan wisata, forum kecil para penyuluh KB itu berlangsung tenang, seolah menjadi oase pengabdian di tengah hiruk pikuk perjalanan manusia.
Hadir dalam kegiatan tersebut Plt Kepala DPMKPPKB Kabupaten Gunungkidul, Rakhmadian Wijayanto, MSi, para koordinator penyuluh KB dari 18 kapanewon se-Kabupaten Gunungkidul, Kabid Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, M Ali Mas'udi, SKM, MPH, beserta staf DPMKPPKB Kabupaten Gunungkidul. Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadikan forum ini bukan hanya sekadar pertemuan informal paguyuban, melainkan juga ruang koordinasi penting untuk menyatukan langkah dalam menjalankan program Bangga Kencana di Kabupaten Gunungkidul.
Tidak Asing
Salah satu momen yang paling berkesan dalam kegiatan tersebut adalah perkenalan dari Plt Kepala DPMKPPKB Kabupaten Gunungkidul, Rakhmadian Wijayanto. Dalam sambutannya, beliau memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan bahwa amanah sebagai Plt diterimanya karena hingga kini belum ada pejabat definitif yang menggantikan kepala dinas sebelumnya, yakni Drs. Sujarwo, MSi, yang telah memasuki masa purna tugas.
Meski saat ini posisi definitif beliau adalah Kepala Dinas PUPRKP Kabupaten Gunungkidul, Rakhmadian mengaku tidak merasa asing dengan DPMKPPKB. Ia bahkan menyebut dirinya seperti “kembali pulang ke rumah sendiri”, sebab sebelum menjabat di DPUPRKP, dirinya pernah bertugas di lingkungan DPMKPPKB. Kalimat sederhana itu terasa hangat dan mencairkan suasana. Ada kesan bahwa birokrasi bukan semata perpindahan jabatan dan struktur organisasi, tetapi juga perjalanan pengabdian yang meninggalkan jejak emosional.
Dalam arahannya, Rakhmadian mengajak seluruh penyuluh KB untuk tetap bekerja secara optimal dalam memenuhi target program Bangga Kencana, meskipun harus menghadapi berbagai tantangan yang tidak ringan. Ia menyinggung kondisi efisiensi anggaran yang kini terjadi di berbagai sektor pemerintahan, termasuk pada bidang pengedalian kependudukan dan keluarga berencana (Dalduk dan KB). Di sisi lain, jumlah tenaga penyuluh yang semakin berkurang juga menjadi tantangan tersendiri di lapangan.
Namun demikian, keterbatasan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk menurunkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Pesan itu terasa penting, sebab para penyuluh KB selama ini memang menjadi ujung tombak dalam berbagai program pembangunan keluarga. Mereka hadir bukan hanya sebagai petugas administratif, tetapi juga sebagai pendamping masyarakat dalam urusan yang sangat mendasar: membangun keluarga yang sehat, berkualitas, dan berdaya.
Meski saat ini posisi definitif beliau adalah Kepala Dinas PUPRKP Kabupaten Gunungkidul, Rakhmadian mengaku tidak merasa asing dengan DPMKPPKB. Ia bahkan menyebut dirinya seperti “kembali pulang ke rumah sendiri”, sebab sebelum menjabat di DPUPRKP, dirinya pernah bertugas di lingkungan DPMKPPKB. Kalimat sederhana itu terasa hangat dan mencairkan suasana. Ada kesan bahwa birokrasi bukan semata perpindahan jabatan dan struktur organisasi, tetapi juga perjalanan pengabdian yang meninggalkan jejak emosional.
Dalam arahannya, Rakhmadian mengajak seluruh penyuluh KB untuk tetap bekerja secara optimal dalam memenuhi target program Bangga Kencana, meskipun harus menghadapi berbagai tantangan yang tidak ringan. Ia menyinggung kondisi efisiensi anggaran yang kini terjadi di berbagai sektor pemerintahan, termasuk pada bidang pengedalian kependudukan dan keluarga berencana (Dalduk dan KB). Di sisi lain, jumlah tenaga penyuluh yang semakin berkurang juga menjadi tantangan tersendiri di lapangan.
Namun demikian, keterbatasan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk menurunkan kualitas pelayanan kepada masyarakat. Pesan itu terasa penting, sebab para penyuluh KB selama ini memang menjadi ujung tombak dalam berbagai program pembangunan keluarga. Mereka hadir bukan hanya sebagai petugas administratif, tetapi juga sebagai pendamping masyarakat dalam urusan yang sangat mendasar: membangun keluarga yang sehat, berkualitas, dan berdaya.
Pak Suka Pamit
Selain sambutan dari Plt Kepala Dinas, suasana haru juga terasa ketika Koordinator PKB Kapanewon Ponjong, Suka Priyana, SSos, menyampaikan sambutan pamitan menjelang masa pensiunnya yang efektif mulai 1 Mei 2026. Dalam penyampaiannya, Suka tidak sekadar berpamitan secara formal, tetapi juga mengajak seluruh peserta mengenang perjalanan panjang pengabdian seorang penyuluh KB di masa lalu.
Ia menceritakan bagaimana pada masa-masa awal menjadi penyuluh KB, dirinya harus berkeliling mencari calon akseptor KB di wilayah Mulo, Wonosari, yang kala itu menjadi wilayah binaannya. Cerita tersebut mengingatkan bahwa perjuangan program keluarga berencana di masa lalu tidaklah mudah. Penyuluh harus hadir langsung ke masyarakat, membangun komunikasi, meyakinkan warga, sekaligus menghadapi berbagai stigma dan penolakan yang mungkin muncul pada masa itu.
Selama 39 tahun mengabdi di BKKBN, Suka Priyana telah melewati perjalanan panjang yang tentu penuh suka dan duka. Tujuh tahun dihabiskan di Kapanewon Wonosari, sementara tiga puluh dua tahun lainnya dijalani di Kapanewon Ponjong. Angka-angka itu bukan sekadar hitungan masa kerja, melainkan potret ketekunan dan kesetiaan terhadap profesi pengabdian.
Dalam suasana yang penuh kehangatan, Suka menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh rekan kerja apabila selama berinteraksi dan bekerja bersama terdapat kekhilafan maupun kekurangan. Ia juga berharap tali persaudaraan yang selama ini terjalin tidak akan terputus meskipun dirinya telah memasuki masa pensiun. Kalimat-kalimat sederhana yang diucapkannya terasa tulus dan menyentuh. Sebab pada akhirnya, yang paling dikenang dari sebuah pengabdian bukan hanya capaian kerja, tetapi juga hubungan kemanusiaan yang terbangun selama perjalanan itu.
Sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian panjang tersebut, dilakukan penyerahan kenang-kenangan dan tali asih secara simbolis kepada Suka Priyana oleh Ketua Paguyuban Koordinator PKB se-Kabupaten Gunungkidul, Hudoyo, SSos, yang juga merupakan Koordinator PKB Kapanewon Tepus. Penyerahan tersebut dilanjutkan dengan sesi foto bersama.
Momen sederhana itu terasa sarat makna. Dalam dunia kerja, penghargaan kadang bukan diukur dari besarnya materi, melainkan dari ketulusan penghormatan yang diberikan oleh rekan seperjuangan. Foto bersama yang diambil hari itu bukan hanya dokumentasi kegiatan, tetapi juga rekaman persaudaraan dan perjalanan panjang pengabdian yang kelak akan menjadi kenangan.
Ia menceritakan bagaimana pada masa-masa awal menjadi penyuluh KB, dirinya harus berkeliling mencari calon akseptor KB di wilayah Mulo, Wonosari, yang kala itu menjadi wilayah binaannya. Cerita tersebut mengingatkan bahwa perjuangan program keluarga berencana di masa lalu tidaklah mudah. Penyuluh harus hadir langsung ke masyarakat, membangun komunikasi, meyakinkan warga, sekaligus menghadapi berbagai stigma dan penolakan yang mungkin muncul pada masa itu.
Selama 39 tahun mengabdi di BKKBN, Suka Priyana telah melewati perjalanan panjang yang tentu penuh suka dan duka. Tujuh tahun dihabiskan di Kapanewon Wonosari, sementara tiga puluh dua tahun lainnya dijalani di Kapanewon Ponjong. Angka-angka itu bukan sekadar hitungan masa kerja, melainkan potret ketekunan dan kesetiaan terhadap profesi pengabdian.
Dalam suasana yang penuh kehangatan, Suka menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh rekan kerja apabila selama berinteraksi dan bekerja bersama terdapat kekhilafan maupun kekurangan. Ia juga berharap tali persaudaraan yang selama ini terjalin tidak akan terputus meskipun dirinya telah memasuki masa pensiun. Kalimat-kalimat sederhana yang diucapkannya terasa tulus dan menyentuh. Sebab pada akhirnya, yang paling dikenang dari sebuah pengabdian bukan hanya capaian kerja, tetapi juga hubungan kemanusiaan yang terbangun selama perjalanan itu.
Sebagai bentuk penghormatan atas pengabdian panjang tersebut, dilakukan penyerahan kenang-kenangan dan tali asih secara simbolis kepada Suka Priyana oleh Ketua Paguyuban Koordinator PKB se-Kabupaten Gunungkidul, Hudoyo, SSos, yang juga merupakan Koordinator PKB Kapanewon Tepus. Penyerahan tersebut dilanjutkan dengan sesi foto bersama.
Momen sederhana itu terasa sarat makna. Dalam dunia kerja, penghargaan kadang bukan diukur dari besarnya materi, melainkan dari ketulusan penghormatan yang diberikan oleh rekan seperjuangan. Foto bersama yang diambil hari itu bukan hanya dokumentasi kegiatan, tetapi juga rekaman persaudaraan dan perjalanan panjang pengabdian yang kelak akan menjadi kenangan.
Beberapa Agenda Penting di Depan Mata
Acara kemudian dilanjutkan dengan sambutan pembinaan dari Kabid Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Muhammad Ali Mas’udi, SKM, MPH. Dalam arahannya, beliau menyampaikan beberapa hal penting yang perlu menjadi perhatian seluruh penyuluh KB di Kabupaten Gunungkidul.
Salah satu poin yang disampaikan adalah persiapan menghadapi kegiatan Apresiasi Tenaga Lini Lapangan (ATLL) dari Perwakilan BKKBN DIY. Kegiatan tersebut merupakan agenda rutin tingkat provinsi yang memberikan penghargaan kepada para pelaku program Bangga Kencana di lini lapangan. Kategori yang dilombakan cukup beragam, mulai dari Penyuluh KB ASN Teladan, Tim Pendamping Keluarga (TPK) Teladan, Kader IMP Teladan, hingga Akseptor KB Lestari bagi pengguna metode kontrasepsi jangka panjang selama dua puluh tahun.
Forum kemudian menyepakati bahwa masing-masing kapanewon perlu mulai mempersiapkan kandidat terbaiknya untuk dilakukan seleksi di tingkat kabupaten. Hal ini menunjukkan bahwa kerja-kerja penyuluhan sesungguhnya tidak hanya berkutat pada rutinitas administratif, tetapi juga membutuhkan inovasi, dedikasi, serta kemampuan membangun praktik baik di tengah masyarakat.
Selain itu, Muhammad Ali Mas’udi juga menyinggung persiapan peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) tingkat DIY, yang pada tahun 2026 ini Kabupaten Gunungkidul mendapat kehormatan sebagai tuan rumah. Penunjukan tersebut tentu menjadi kebanggaan tersendiri, namun sekaligus membawa tanggung jawab besar untuk mempersiapkan berbagai agenda dengan sebaik-baiknya.
Harganas bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk mengingatkan kembali pentingnya keluarga sebagai fondasi pembangunan bangsa. Dalam konteks itu, peran penyuluh KB menjadi sangat strategis, sebab mereka merupakan garda terdepan yang setiap hari bersentuhan langsung dengan keluarga-keluarga di masyarakat.
Arahan berikutnya berkaitan dengan target pelayanan kontrasepsi vasektomi dan tubektomi yang direncanakan berlangsung pada Juni hingga Juli 2026 dalam rangka menyemarakkan Harganas. Target tersebut tentu membutuhkan kerja keras seluruh lini penyuluh agar pelayanan dapat berjalan optimal sekaligus tetap memperhatikan pendekatan edukatif kepada masyarakat.
Di tengah berbagai dinamika sosial yang terus berubah, pelayanan KB bukan hanya persoalan teknis kesehatan reproduksi, tetapi juga berkaitan erat dengan kesadaran, pemahaman, dan kesiapan masyarakat. Karena itu, kemampuan komunikasi para penyuluh tetap menjadi faktor penting dalam keberhasilan program.
Salah satu poin yang disampaikan adalah persiapan menghadapi kegiatan Apresiasi Tenaga Lini Lapangan (ATLL) dari Perwakilan BKKBN DIY. Kegiatan tersebut merupakan agenda rutin tingkat provinsi yang memberikan penghargaan kepada para pelaku program Bangga Kencana di lini lapangan. Kategori yang dilombakan cukup beragam, mulai dari Penyuluh KB ASN Teladan, Tim Pendamping Keluarga (TPK) Teladan, Kader IMP Teladan, hingga Akseptor KB Lestari bagi pengguna metode kontrasepsi jangka panjang selama dua puluh tahun.
Forum kemudian menyepakati bahwa masing-masing kapanewon perlu mulai mempersiapkan kandidat terbaiknya untuk dilakukan seleksi di tingkat kabupaten. Hal ini menunjukkan bahwa kerja-kerja penyuluhan sesungguhnya tidak hanya berkutat pada rutinitas administratif, tetapi juga membutuhkan inovasi, dedikasi, serta kemampuan membangun praktik baik di tengah masyarakat.
Selain itu, Muhammad Ali Mas’udi juga menyinggung persiapan peringatan Hari Keluarga Nasional (Harganas) tingkat DIY, yang pada tahun 2026 ini Kabupaten Gunungkidul mendapat kehormatan sebagai tuan rumah. Penunjukan tersebut tentu menjadi kebanggaan tersendiri, namun sekaligus membawa tanggung jawab besar untuk mempersiapkan berbagai agenda dengan sebaik-baiknya.
Harganas bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk mengingatkan kembali pentingnya keluarga sebagai fondasi pembangunan bangsa. Dalam konteks itu, peran penyuluh KB menjadi sangat strategis, sebab mereka merupakan garda terdepan yang setiap hari bersentuhan langsung dengan keluarga-keluarga di masyarakat.
Arahan berikutnya berkaitan dengan target pelayanan kontrasepsi vasektomi dan tubektomi yang direncanakan berlangsung pada Juni hingga Juli 2026 dalam rangka menyemarakkan Harganas. Target tersebut tentu membutuhkan kerja keras seluruh lini penyuluh agar pelayanan dapat berjalan optimal sekaligus tetap memperhatikan pendekatan edukatif kepada masyarakat.
Di tengah berbagai dinamika sosial yang terus berubah, pelayanan KB bukan hanya persoalan teknis kesehatan reproduksi, tetapi juga berkaitan erat dengan kesadaran, pemahaman, dan kesiapan masyarakat. Karena itu, kemampuan komunikasi para penyuluh tetap menjadi faktor penting dalam keberhasilan program.
Pendampingan Bumil di SIGA Mobile
Hal lain yang menjadi perhatian serius adalah pendampingan sasaran ibu hamil melalui aplikasi SIGA Mobile. Berdasarkan data terakhir, pendampingan terhadap sasaran calon pengantin, ibu nifas, dan bayi usia 0–2 tahun relatif berjalan cukup baik. Namun, untuk sasaran ibu hamil, prosentase pendampingannya masih tergolong rendah. Bahkan terdapat dua kapanewon yang capaian pendampingan ibu hamilnya masih berada pada angka nol persen.
Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa transformasi digital dalam pelayanan juga menuntut kedisiplinan dan ketelitian para petugas lapangan. Aplikasi bukan sekadar alat administrasi, tetapi menjadi instrumen penting dalam pemetaan, monitoring, dan evaluasi program pembangunan keluarga.
Selain persoalan pendampingan, kondisi ketersediaan alat kontrasepsi juga menjadi perhatian. Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah berdampak pada penurunan kuantitas alat kontrasepsi yang tersedia pada tahun 2026. Karena itu, diperlukan penghematan distribusi serta penguatan edukasi mengenai pentingnya kemandirian ber-KB bagi para akseptor di wilayah binaan masing-masing.
Situasi tersebut sesungguhnya menggambarkan tantangan nyata yang kini dihadapi program keluarga berencana. Di satu sisi, target pelayanan tetap harus tercapai. Namun di sisi lain, sumber daya yang tersedia semakin terbatas. Dalam kondisi seperti inilah kreativitas, solidaritas, dan semangat pengabdian para penyuluh benar-benar diuji.
Meski demikian, suasana pertemuan hari itu tidak dipenuhi keluhan pesimistis. Justru yang terasa adalah semangat untuk saling menguatkan. Tawa kecil di sela diskusi, cerita pengalaman lapangan, hingga momen foto bersama menunjukkan bahwa hubungan antarsesama penyuluh telah melampaui sekadar hubungan pekerjaan. Ada rasa kekeluargaan yang tumbuh dari perjalanan panjang menghadapi medan pengabdian yang sama.
Pada akhirnya, pertemuan koordinasi rutin dan arisan paguyuban semacam ini bukan hanya penting dari sisi organisasi, tetapi juga dari sisi kemanusiaan. Di tengah tuntutan pekerjaan, keterbatasan anggaran, serta perubahan zaman yang terus bergerak cepat, para penyuluh KB tetap membutuhkan ruang untuk saling menyapa, saling mendengar, dan saling menguatkan.
Dari Mulo, Wonosari, pada sebuah siang di bulan Mei, terselip pelajaran sederhana bahwa pengabdian tidak selalu hadir dalam bentuk hal-hal besar dan gemerlap. Kadang ia hadir dalam ruang makan sederhana, dalam secangkir teh hangat, dalam kisah seorang penyuluh yang berpamitan memasuki masa pensiun, atau dalam tekad para petugas lapangan yang tetap memilih bekerja sepenuh hati meski fasilitas semakin terbatas.
Dan mungkin memang demikian hakikat pengabdian: bekerja dengan tulus, bertahan dengan ikhlas, lalu meninggalkan jejak kebaikan yang perlahan akan dikenang oleh waktu.(*)
Temuan tersebut menjadi pengingat bahwa transformasi digital dalam pelayanan juga menuntut kedisiplinan dan ketelitian para petugas lapangan. Aplikasi bukan sekadar alat administrasi, tetapi menjadi instrumen penting dalam pemetaan, monitoring, dan evaluasi program pembangunan keluarga.
Selain persoalan pendampingan, kondisi ketersediaan alat kontrasepsi juga menjadi perhatian. Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah berdampak pada penurunan kuantitas alat kontrasepsi yang tersedia pada tahun 2026. Karena itu, diperlukan penghematan distribusi serta penguatan edukasi mengenai pentingnya kemandirian ber-KB bagi para akseptor di wilayah binaan masing-masing.
Situasi tersebut sesungguhnya menggambarkan tantangan nyata yang kini dihadapi program keluarga berencana. Di satu sisi, target pelayanan tetap harus tercapai. Namun di sisi lain, sumber daya yang tersedia semakin terbatas. Dalam kondisi seperti inilah kreativitas, solidaritas, dan semangat pengabdian para penyuluh benar-benar diuji.
Meski demikian, suasana pertemuan hari itu tidak dipenuhi keluhan pesimistis. Justru yang terasa adalah semangat untuk saling menguatkan. Tawa kecil di sela diskusi, cerita pengalaman lapangan, hingga momen foto bersama menunjukkan bahwa hubungan antarsesama penyuluh telah melampaui sekadar hubungan pekerjaan. Ada rasa kekeluargaan yang tumbuh dari perjalanan panjang menghadapi medan pengabdian yang sama.
Pada akhirnya, pertemuan koordinasi rutin dan arisan paguyuban semacam ini bukan hanya penting dari sisi organisasi, tetapi juga dari sisi kemanusiaan. Di tengah tuntutan pekerjaan, keterbatasan anggaran, serta perubahan zaman yang terus bergerak cepat, para penyuluh KB tetap membutuhkan ruang untuk saling menyapa, saling mendengar, dan saling menguatkan.
Dari Mulo, Wonosari, pada sebuah siang di bulan Mei, terselip pelajaran sederhana bahwa pengabdian tidak selalu hadir dalam bentuk hal-hal besar dan gemerlap. Kadang ia hadir dalam ruang makan sederhana, dalam secangkir teh hangat, dalam kisah seorang penyuluh yang berpamitan memasuki masa pensiun, atau dalam tekad para petugas lapangan yang tetap memilih bekerja sepenuh hati meski fasilitas semakin terbatas.
Dan mungkin memang demikian hakikat pengabdian: bekerja dengan tulus, bertahan dengan ikhlas, lalu meninggalkan jejak kebaikan yang perlahan akan dikenang oleh waktu.(*)


0 Comments