NGLIPAR | Senin pagi (24/11) di Kalurahan Kedungkeris, Kapanewon Nglipar, terasa lebih hangat dari biasanya. Udara belum sepenuhnya kering dari sisa embun malam, tetapi halaman Balai Kalurahan sudah tampak ramai oleh kedatangan para lelaki—para ayah, pamong, tokoh masyarakat, dan perangkat kalurahan yang pagi itu tidak sedang hadir dalam rapat resmi, melainkan sebagai “siswa”. Mereka adalah generasi pertama Sekolah Ayah Tumaritis, sebuah kelompok belajar yang jauh lebih dari sekadar forum pelatihan. Ia adalah upaya membangun kembali ketersambungan ayah dan anak, yang kini menjadi isu mendesak dalam kehidupan keluarga di Gunungkidul.
Di antara langkah kaki yang masuk ke pendopo, tergambar wajah-wajah yang mungkin selama ini tidak terbiasa hadir dalam kegiatan parenting. Beberapa tampak canggung, beberapa bersemangat, dan beberapa lagi datang dengan raut penasaran—apa sebenarnya Sekolah Ayah ini? Mengapa mereka diundang? Apa yang akan dipelajari? Sebelumnya sebagian dari mereka sudah mengikuti sosialisasi awal terkait pendirian sekolah ayah ini, tetapi belum sepenuhnya memahami.
Namun satu hal paling mencolok: antusiasme mereka nyata. Ayah-ayah dari berbagai padukuhan, para pamong, tokoh masyarakat, tokoh agama, itu datang tanpa paksaan, tanpa ragu. Mereka duduk di bangku-bangku yang sudah tersedia di aula kantor Kalurahan Kedungkeris, menanti acara dimulai dengan senyum kecil yang sesekali muncul di sela percakapan singkat.
Fenomena fatherless di Kapanewon Nglipar dan Gunungkidul pada umumnya sudah lama menjadi kekhawatiran banyak pihak. Fatherless bukan sekadar ketiadaan ayah, melainkan ketidakhadiran figur ayah dalam relasi emosional: ayah yang secara fisik ada, tetapi tidak hadir sebagai pengasuh, pendamping, dan sumber kenyamanan bagi anak. Konsekuensinya panjang: problem ketahanan keluarga, permasalahan tumbuh kembang anak, kasus bullying, kenakalan remaja, kesulitan akademik, hingga kehamilan tidak diinginkan di kalangan remaja putri.
DPMKPPKB Gunungkidul melihat fenomena ini tidak bisa lagi dibiarkan mengalir seperti arus alam. Harus ada intervensi—bukan intervensi represif, tetapi edukatif dan humanis. Program GATI (Gerakan Ayah Teladan Indonesia), salah satu Quick Wins Kemendukbangga/BKKBN, lahir sebagai respons atas kebutuhan itu. Gunungkidul adalah salah satu daerah yang bergerak cepat menindaklanjutinya. Adanya sekolah ayah ini adalah salah satu implementasi program GATI tsb.
Sekolah Ayah pertama telah berdiri di Kalurahan Pacarejo, Kapanewon Semanu, yakni Sekolah Ayah "Jalu Mituhu". Dan pagi itu, Senin, 24 November 2025, pukul 09.00 WIB, giliran Kedungkeris yang menorehkan sejarahnya sendiri: meluncurkan Sekolah Ayah Tumaritis, generasi baru dari gerakan penguatan ayah di Gunungkidul.
Acara dimulai ketika Famelya Sayekti, SPd, penyuluh KB yang pagi itu bertugas sebagai pembawa acara, berdiri memegang mikrofon dengan penuh semangat. Suaranya lantang namun hangat, menyapa para tamu dan siswa Sekolah Ayah yang duduk rapi.
Satu per satu rangkaian acara berjalan. Lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan—lengkap tiga stanza. Para ayah berdiri tegap, sebagian menyanyi dengan suara terbata namun penuh hormat. Dilanjutkan dengan Mars KB yang memantapkan suasana bahwa kegiatan hari itu bukan sekadar seremoni, tetapi bagian dari gerakan besar pembangunan keluarga.
Doa kemudian dipimpin oleh Kepala KUA Nglipar, Muhammad Syukur, SHI. Ruangan mendadak hening, dan di barisan kursi bagian tengah, beberapa ayah tampak menundukkan kepala lebih dalam dari biasanya—mungkin karena mereka diam-diam merasa kegiatan hari itu menyentuh sisi batin yang selama ini jarang tersentuh.
Kedungkeris Tumaritis
Lurah Kedungkeris, Rusdi Martono, SPd, naik ke podium untuk memberikan sambutan pertama. Dengan suara tenang, ia menyampaikan rasa terima kasih atas dipilihnya Kedungkeris menjadi lokasi kedua Sekolah Ayah di Gunungkidul. Ia menjelaskan bagaimana pamong, dukuh, tokoh agama, dan tokoh masyarakat di wilayahnya siap menjadi siswa, bukan hanya panitia. “Kami ingin menjadi bagian dari perubahan, untuk menjadikan ayah-ayah di Kedungkeris peduli pada pengasuhan anak-anak mereka,” katanya, sembari berjanji bahwa para siswa sekolah ayah ini kelak akan menjadi kepanjangan tangan petugas dalam mendampingi keluarga di wilayahnya masing-masing.
Rusdi kemudian menjelaskan filosofi Tumaritis—rujukan budaya dari kisah padukuhan Kyai Semar Badranaya, tempat ideal di mana pemimpin dan rakyat hidup dalam keselarasan. “Kami berharap Tumaritis bukan hanya nama, tetapi cermin dari keharmonisan keluarga-keluarga di Kedungkeris,” lanjutnya. Sambutan itu disambut tepuk tangan hangat, terutama dari para pamong yang pada hari itu duduk sebagai peserta belajar, bukan penyelenggara aturan.
Rusdi kemudian menjelaskan filosofi Tumaritis—rujukan budaya dari kisah padukuhan Kyai Semar Badranaya, tempat ideal di mana pemimpin dan rakyat hidup dalam keselarasan. “Kami berharap Tumaritis bukan hanya nama, tetapi cermin dari keharmonisan keluarga-keluarga di Kedungkeris,” lanjutnya. Sambutan itu disambut tepuk tangan hangat, terutama dari para pamong yang pada hari itu duduk sebagai peserta belajar, bukan penyelenggara aturan.
Indonesia Emas
Giliran Panewu Nglipar, Sugito, SH, MH, memberikan sambutan. Ia memandang Sekolah Ayah sebagai rintisan penting bagi Nglipar. “Kami ingin kegiatan ini menjadi contoh yang ditiru kalurahan lain,” ujarnya. Nada bicaranya penuh keyakinan, seolah ia melihat masa depan baru: generasi ayah yang tidak hanya kuat di sawah, di ladang, atau di kantor, tetapi juga kuat memeluk anak-anaknya.
Ia menyinggung gagasan besar Indonesia Emas 2045—bahwa generasi unggul hanya bisa dibentuk melalui keluarga yang kuat. “Dan keluarga tidak akan kuat tanpa ayah yang hadir,” katanya mantap. Para ayah di bangku peserta mengangguk; beberapa tampak tersenyum bangga.
Ia menyinggung gagasan besar Indonesia Emas 2045—bahwa generasi unggul hanya bisa dibentuk melalui keluarga yang kuat. “Dan keluarga tidak akan kuat tanpa ayah yang hadir,” katanya mantap. Para ayah di bangku peserta mengangguk; beberapa tampak tersenyum bangga.
Ketahanan Keluarga
Sambutan berikutnya disampaikan Kepala DPMKPPKB Gunungkidul, Drs Sujarwo, MSi. Kata-katanya tegas namun lembut—persis gaya seorang birokrat yang paham betul akar persoalan di masyarakat. Ia memuji kerjasama Kalurahan Kedungkeris dan Balai Penyuluhan KB Nglipar yang berhasil mewujudkan launching ini.
Dalam penjelasannya, Sujarwo menegaskan bahwa latar belakang pendirian Sekolah Ayah sangat jelas: masalah ketahanan keluarga yang semakin kompleks. Ia menyebut stunting, kemiskinan, dan masalah kesehatan sebagai fenomena yang secara langsung terkait dengan kualitas pengasuhan dan kehadiran ayah. “Jika ketahanan keluarga kuat, maka persoalan-persoalan itu bisa kita tekan,” ucapnya.
Ia juga menantang para siswa Sekolah Ayah untuk tidak berhenti pada penerimaan materi, tetapi menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. “Bapak-bapak di sini adalah contoh. Jadilah corong yang menyampaikan kebaikan ini kepada masyarakat,” katanya yang langsung disambut tepuk tangan panjang.
Dalam penjelasannya, Sujarwo menegaskan bahwa latar belakang pendirian Sekolah Ayah sangat jelas: masalah ketahanan keluarga yang semakin kompleks. Ia menyebut stunting, kemiskinan, dan masalah kesehatan sebagai fenomena yang secara langsung terkait dengan kualitas pengasuhan dan kehadiran ayah. “Jika ketahanan keluarga kuat, maka persoalan-persoalan itu bisa kita tekan,” ucapnya.
Ia juga menantang para siswa Sekolah Ayah untuk tidak berhenti pada penerimaan materi, tetapi menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. “Bapak-bapak di sini adalah contoh. Jadilah corong yang menyampaikan kebaikan ini kepada masyarakat,” katanya yang langsung disambut tepuk tangan panjang.
Penyerahan Papan Nama dan GENTING Tahap 2
Momen penting kemudian berlangsung: penyerahan plakat Sekolah Ayah Tumaritis dari Kepala DPMKPPKB kepada Lurah Kedungkeris, disaksikan Kaper BKKBN DIY/yang mewakili, oleh Panewu dan jajaran Forkompinkap, Kepala UPT Puskesmas I dan II, Kepala KUA, Kepala Korwil Bidik Nglipar, serta segenap hadirin yang ada. Suasananya terasa khidmat—seperti penyerahan tanggung jawab besar kepada sebuah komunitas yang siap berdiri sebagai pionir. Para ayah yang menyaksikan penyerahan itu tampak bangga; beberapa bahkan mengabadikan momen dengan gawai sederhana mereka.
Belum selesai, acara dilanjutkan dengan launching GENTING (Gerakan Orangtua Asuh Cegah Stunting) tahap 2. Panewu Nglipar menyerahkan empat macam bibit tanaman kepada perwakilan dukuh se-Kedungkeris—simbol gotong royong baru dalam pencegahan stunting. Bibit itu akan diberikan kepada keluarga risiko stunting (KRS) di masing-masing padukuhan. Ada harapan yang tumbuh seiring bibit itu berpindah tangan: harapan bahwa setiap keluarga dapat mencicipi kesejahteraan pangan dan gizi yang lebih baik.
Belum selesai, acara dilanjutkan dengan launching GENTING (Gerakan Orangtua Asuh Cegah Stunting) tahap 2. Panewu Nglipar menyerahkan empat macam bibit tanaman kepada perwakilan dukuh se-Kedungkeris—simbol gotong royong baru dalam pencegahan stunting. Bibit itu akan diberikan kepada keluarga risiko stunting (KRS) di masing-masing padukuhan. Ada harapan yang tumbuh seiring bibit itu berpindah tangan: harapan bahwa setiap keluarga dapat mencicipi kesejahteraan pangan dan gizi yang lebih baik.
Kelas Perdana
Kemudian tibalah sesi yang paling ditunggu para ayah: kelas perdana Sekolah Ayah yang langsung diisi oleh Dr Mustikaningtyas, MPH, Psikolog, mewakili Kepala Perwakilan BKKBN DIY. Dengan cara penyampaian yang hangat namun penuh data, Mustikaningtyas—atau Bu Ika, begitu peserta menyapanya—membuka tabir fakta yang mungkin selama ini tidak disadari para ayah.
Ia menjelaskan fenomena fatherless yang tidak hanya terjadi di kota besar, tetapi juga di pedesaan. Ayah yang sibuk bekerja, ayah yang merasa urusan pengasuhan adalah ranah ibu, ayah yang tidak tahu cara berkomunikasi dengan anak—semua ini membentuk generasi yang tumbuh tanpa figur emosional yang kuat dari sosok ayah.
Bu Ika memaparkan dampak-dampaknya: gangguan tumbuh kembang, masalah akademik, kesulitan membangun kepercayaan diri, hingga rentannya anak pada pergaulan yang salah. Penjelasannya tidak menggurui, tetapi menyentuh. Ayah-ayah di ruangan itu mendengarkan dengan saksama, beberapa bahkan terlihat mengusap mata—bukan karena mengantuk, tetapi karena merasa tersentil.
Yang membuat sesi itu semakin hidup adalah dialog interaktif antara pemateri dan siswa. Bu Ika meminta beberapa peserta menceritakan kenangan bersama ayah di masa kecil.
Seorang ayah dari salah satu padukuhan bercerita bagaimana ayahnya, puluhan tahun yang lalu, selalu mengajarkan pentingnya memberi rasa hormat kepada orang lain. Pengalamannya itu menjadi sebuah memori kecil yang sederhana namun begitu kuat. Bu Ika menegaskan bahwa bagi anak, kehadiran tidak selalu harus berupa kata-kata. Cukup keberadaan yang konsisten, yang hangat, yang tidak menghakimi.
Seorang peserta lain mengingat sosok ayahnya yang keras dalam mendidik, tetapi sesungguhnya sangat sayang kepada anak-anaknya. Dan itu amatlah berkesan dan abadi dalam ingatannya.
Ia menjelaskan fenomena fatherless yang tidak hanya terjadi di kota besar, tetapi juga di pedesaan. Ayah yang sibuk bekerja, ayah yang merasa urusan pengasuhan adalah ranah ibu, ayah yang tidak tahu cara berkomunikasi dengan anak—semua ini membentuk generasi yang tumbuh tanpa figur emosional yang kuat dari sosok ayah.
Bu Ika memaparkan dampak-dampaknya: gangguan tumbuh kembang, masalah akademik, kesulitan membangun kepercayaan diri, hingga rentannya anak pada pergaulan yang salah. Penjelasannya tidak menggurui, tetapi menyentuh. Ayah-ayah di ruangan itu mendengarkan dengan saksama, beberapa bahkan terlihat mengusap mata—bukan karena mengantuk, tetapi karena merasa tersentil.
Yang membuat sesi itu semakin hidup adalah dialog interaktif antara pemateri dan siswa. Bu Ika meminta beberapa peserta menceritakan kenangan bersama ayah di masa kecil.
Seorang ayah dari salah satu padukuhan bercerita bagaimana ayahnya, puluhan tahun yang lalu, selalu mengajarkan pentingnya memberi rasa hormat kepada orang lain. Pengalamannya itu menjadi sebuah memori kecil yang sederhana namun begitu kuat. Bu Ika menegaskan bahwa bagi anak, kehadiran tidak selalu harus berupa kata-kata. Cukup keberadaan yang konsisten, yang hangat, yang tidak menghakimi.
Seorang peserta lain mengingat sosok ayahnya yang keras dalam mendidik, tetapi sesungguhnya sangat sayang kepada anak-anaknya. Dan itu amatlah berkesan dan abadi dalam ingatannya.
Cerita-cerita seperti itu mencairkan suasana. Bukan hanya tawa yang muncul, tetapi juga kesadaran: bahwa para ayah di ruangan itu pun bisa menciptakan kenangan serupa untuk anak-anak mereka sekarang.
Dalam salah satu bagian penutup materinya, Bu Ika menekankan pentingnya mendampingi anak pada usia emas 0–5 tahun. “Kenangan terbaik pada usia ini akan abadi,” ujarnya. Kalimat itu menggantung sejenak di udara, menembus perasaan setiap ayah yang duduk di ruangan.
Sebagian mungkin menyesal karena merasa terlambat, tetapi Bu Ika meyakinkan bahwa tidak pernah ada kata terlambat bagi seorang ayah. “Anak-anak selalu punya ruang untuk ayahnya,” katanya.
Saat kelas perdana ditutup, wajah-wajah yang tadi canggung kini berubah lebih cerah. Para ayah yang awalnya hanya ingin “tahu seperti apa Sekolah Ayah itu” kini tampak seperti menemukan ruang baru untuk bertumbuh. Mereka saling menyapa, tertawa, bercerita, bahkan beberapa langsung mengajak teman sebelahnya untuk pulang bersama sambil berdiskusi.
Di dekat pintu keluar, seorang ayah berbisik lirih kepada petugas penyuluh KB, namun penuh harapan, “Aku pengin nyoba ngobrol karo anakku bengi iki. Ngajeni ceritane, ora mung ndelok HP wae.” Kalimat itu sederhana, tetapi revolusioner.
Di luar pendopo, angin sejuk Nglipar berhembus pelan. Para ayah berjalan pulang membawa sesuatu yang tidak mereka bawa saat datang: pemahaman, semangat, dan tekad.
Dan mungkin malam itu, di rumah kecil di Kedungkeris, seorang anak akan mendengar suara lembut ayahnya bertanya:
“Le, critakna… sekolahmu tadi piye?”
Sebuah pertanyaan sederhana yang bisa mengubah arah masa depan.(*)




0 Comments