GEDANGSARI | Selasa (28/10) pagi yang cerah di Kalurahan Serut, Kapanewon Gedangsari, menghadirkan suasana yang berbeda pada hari itu. Aula kalurahan dipenuhi oleh wajah-wajah penuh harap: para ibu kader yang selama ini menjadi garda terdepan posyandu, para lurah, tenaga kesehatan, hingga keluarga risiko stunting (KRS) yang datang dari berbagai padukuhan. Mereka berkumpul bukan sekadar menghadiri sebuah acara seremonial, tetapi menyaksikan lahirnya sebuah gerakan yang diharapkan mampu mengubah masa depan anak-anak Gedangsari: Launching GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting).
Acara yang dihadiri oleh berbagai unsur, di antaranya adalah Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN DIY, Dinas PMKP2KB Gunungkidul, Panewu Gedangsari, Ketua TPPS, para lurah, UPT Puskesmas Gedangsari I dan II, serta tokoh masyarakat. Ini semua menandai langkah baru dalam upaya bersama menekan angka stunting yang masih menjadi persoalan serius di wilayah ini.
TPPS Serut: Kerja Senyap yang Menggerakkan Banyak Perubahan
Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kalurahan Serut bukanlah tim yang baru dikenal masyarakat. Dibentuk berdasarkan amanat Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021, TPPS Serut telah berdiri sejak terbitnya Keputusan Lurah Serut Nomor 24 Tahun 2022. Sejak itu, berbagai program digulirkan untuk menguatkan ketahanan keluarga dan memastikan tumbuh kembang balita berjalan optimal.
Sepanjang tahun 2025 saja, TPPS telah melakukan sederet kegiatan yang menjadi pondasi percepatan penurunan stunting:
1. Rapat rutin bersama kader kesehatan dan KPM untuk memetakan dinamika lapangan.
2. Pemantauan tumbuh kembang balita melalui Posyandu, lengkap dengan pemberian PMT.
3. Pendampingan intensif bagi keluarga berisiko, terutama ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita.
4. Pemberian PMT bagi siswa PAUD, memastikan kebutuhan gizi anak terpenuhi sejak dini.
5. Koordinasi lintas sektor dengan puskesmas, pemerintah kalurahan, PKK, hingga kader kesehatan.
6. Pemberian makanan tambahan bagi balita kurus dan ibu hamil berisiko tinggi (RESTI).
7. Peningkatan sanitasi keluarga melalui program dana desa dan Dana Keistimewaan (DAKIS), termasuk stimulan jamban sehat dan SPAL.
Serangkaian langkah tersebut membuat TPPS Serut menjadi salah satu tim yang paling aktif dalam mengawal isu stunting di tingkat kalurahan.
Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kalurahan Serut bukanlah tim yang baru dikenal masyarakat. Dibentuk berdasarkan amanat Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021, TPPS Serut telah berdiri sejak terbitnya Keputusan Lurah Serut Nomor 24 Tahun 2022. Sejak itu, berbagai program digulirkan untuk menguatkan ketahanan keluarga dan memastikan tumbuh kembang balita berjalan optimal.
Sepanjang tahun 2025 saja, TPPS telah melakukan sederet kegiatan yang menjadi pondasi percepatan penurunan stunting:
1. Rapat rutin bersama kader kesehatan dan KPM untuk memetakan dinamika lapangan.
2. Pemantauan tumbuh kembang balita melalui Posyandu, lengkap dengan pemberian PMT.
3. Pendampingan intensif bagi keluarga berisiko, terutama ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita.
4. Pemberian PMT bagi siswa PAUD, memastikan kebutuhan gizi anak terpenuhi sejak dini.
5. Koordinasi lintas sektor dengan puskesmas, pemerintah kalurahan, PKK, hingga kader kesehatan.
6. Pemberian makanan tambahan bagi balita kurus dan ibu hamil berisiko tinggi (RESTI).
7. Peningkatan sanitasi keluarga melalui program dana desa dan Dana Keistimewaan (DAKIS), termasuk stimulan jamban sehat dan SPAL.
Serangkaian langkah tersebut membuat TPPS Serut menjadi salah satu tim yang paling aktif dalam mengawal isu stunting di tingkat kalurahan.
Angka Naik Turun
Dari total 249 balita yang hidup di Kalurahan Serut, pemantauan sejak Januari hingga Oktober 2025 menunjukkan angka stunting yang fluktuatif. Agustus mencatat 41 balita stunting (17,6%), namun September meningkat menjadi 47 balita (19,7%).
“Naik turunnya angka ini sangat dipengaruhi oleh tingkat kehadiran di Posyandu,” begitu Lurah Serut, Sugiyanto, menjelaskan saat memberikan sambutan. Ketika balita tidak hadir, data tumbuh kembang menjadi tidak lengkap, intervensi pun terlambat dilakukan. Ini menjadi pelajaran penting bahwa penanganan stunting bukan hanya tentang memberi bantuan gizi, tetapi juga tentang kesadaran, kepedulian, dan kedisiplinan keluarga untuk terlibat aktif.
GENTING: Menguatkan Aksi
Di tengah tantangan tersebut, GENTING hadir sebagai sebuah gerakan yang memadukan empati dan aksi nyata. GENTING mengajak masyarakat—khususnya para dermawan dan tokoh lokal—untuk menjadi orang tua asuh bagi keluarga berisiko stunting. Dalam sambutannya, Panewu Anom Gedangsari (mewakili Panewu), Sunardi, SIP, mengapresiasi kegiatan GENTING di Kalurahan Serut ini, dan berharap akan banyak diadopsi oleh kalurahan-kalurahan lain. Panewu Anom juga menyampaikan terimakasih atas partisipasi pihak-pihak terkait untuk kegiatan ini.
Pada launching ini, kepada 54 keluarga risiko stunting (KRS) diberikan secara simbolik bantuan berupa paket sepasang ayam kampung (jantan & betina). Serah terima bantuan dilakukan soleh para pejabat pemangku kepentingan yang hadir.
"Ini bukan sekadar materi, namun maknanya jauh lebih besar: menjadi tanda bahwa masyarakat Serut tidak membiarkan sesama warganya berjuang sendirian. Gerakan ini harus menjadi contoh bahwa pencegahan stunting bukan hanya tugas tenaga kesehatan atau pemerintah, tetapi menjadi gerakan bersama. Yang lebih penting lagi adalah edukasi kepada para remaja pranikah untuk betul mempersiapkan diri secara fisik, utamanya adalah umur, LILA, HB agar betul-betul memenuhi syarat,” ujar Kepala DPMKPPKB Gunungkidul, Drs Sujarwo, dalam sambutannya.
Sujarwo menegaskan, bahwa GENTING tidak hanya memberi bantuan materi, tetapi juga memperkuat budaya gotong royong—sebuah nilai yang menjadi akar masyarakat Gedangsari.
Sujarwo menegaskan, bahwa GENTING tidak hanya memberi bantuan materi, tetapi juga memperkuat budaya gotong royong—sebuah nilai yang menjadi akar masyarakat Gedangsari.
Momentum Sumpah Pemuda
Launching GENTING digelar pada momentum yang istimewa: peringatan Hari Sumpah Pemuda. Semangat para pemuda Indonesia di tahun 1928 seolah hadir kembali dalam konteks yang lebih kekinian—menjaga generasi bangsa dari ancaman stunting.
Zuhdi Astuti, mewakili Kaper Kemendukbangga/BKKBN DIY, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Kapanewon Gedangsari atas atensi yang luar biasa pada program GENTING. "Seingat saya, kegiatan GENTING tingkat kalurahan di Serut ini merupakan yang kedua, yang pertama dulu di Kalurahan Hargosari. Sangat menarik bahwa kegiatan ini diadakan bersamaan momentum Sumpah Pemuda, seakan-akan menjadi pengingat, bahwa jangan sampai stunting mengancam generasi penerus bangsa. Kita ingin anak-anak Serut tumbuh sehat, cerdas, dan produktif,” papar Zuhdi.
Launching GENTING digelar pada momentum yang istimewa: peringatan Hari Sumpah Pemuda. Semangat para pemuda Indonesia di tahun 1928 seolah hadir kembali dalam konteks yang lebih kekinian—menjaga generasi bangsa dari ancaman stunting.
Zuhdi Astuti, mewakili Kaper Kemendukbangga/BKKBN DIY, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada Kapanewon Gedangsari atas atensi yang luar biasa pada program GENTING. "Seingat saya, kegiatan GENTING tingkat kalurahan di Serut ini merupakan yang kedua, yang pertama dulu di Kalurahan Hargosari. Sangat menarik bahwa kegiatan ini diadakan bersamaan momentum Sumpah Pemuda, seakan-akan menjadi pengingat, bahwa jangan sampai stunting mengancam generasi penerus bangsa. Kita ingin anak-anak Serut tumbuh sehat, cerdas, dan produktif,” papar Zuhdi.
Tidak Berhenti pada Seremonial
Disampaikan oleh Carik Kalurahan Serut, Nuri Kasanah, SSi, bahwa TPPS Serut tidak ingin GENTING berhenti sebagai satu acara peringatan. Setelah launching ini, beberapa langkah strategis akan segera dijalankan:
1. Memperkuat koordinasi lintas sektor.
2. Mengintensifkan pendampingan keluarga risiko stunting.
3. Memperluas edukasi gizi berbasis pangan lokal.
4. Mendorong pemberdayaan keluarga agar mampu menyediakan asupan gizi mandiri dan berkelanjutan.
"Dengan sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat, Serut ingin menjadi contoh bagaimana sebuah kalurahan bisa bertransformasi menjadi wilayah yang peduli gizi dan kesehatan keluarga," demikian ditegaskan Nuri.
Disampaikan oleh Carik Kalurahan Serut, Nuri Kasanah, SSi, bahwa TPPS Serut tidak ingin GENTING berhenti sebagai satu acara peringatan. Setelah launching ini, beberapa langkah strategis akan segera dijalankan:
1. Memperkuat koordinasi lintas sektor.
2. Mengintensifkan pendampingan keluarga risiko stunting.
3. Memperluas edukasi gizi berbasis pangan lokal.
4. Mendorong pemberdayaan keluarga agar mampu menyediakan asupan gizi mandiri dan berkelanjutan.
"Dengan sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, kader, dan masyarakat, Serut ingin menjadi contoh bagaimana sebuah kalurahan bisa bertransformasi menjadi wilayah yang peduli gizi dan kesehatan keluarga," demikian ditegaskan Nuri.
Harapan Baru dari Serut
Acara penyerahan bantuan GENTING di Kalurahan Serut bukan hanya soal distribusi paket bantuan. Lebih dari itu, ia adalah simbol harapan baru. Sebuah pesan bahwa setiap anak berharga, setiap keluarga layak mendapatkan dukungan, dan setiap orang memiliki peran dalam mencegah stunting.
Kerja panjang masih menanti, tetapi langkah kecil ini menjadi pijakan penting menuju Serut yang sehat, kuat, dan bebas dari stunting.(*)
Acara penyerahan bantuan GENTING di Kalurahan Serut bukan hanya soal distribusi paket bantuan. Lebih dari itu, ia adalah simbol harapan baru. Sebuah pesan bahwa setiap anak berharga, setiap keluarga layak mendapatkan dukungan, dan setiap orang memiliki peran dalam mencegah stunting.
Kerja panjang masih menanti, tetapi langkah kecil ini menjadi pijakan penting menuju Serut yang sehat, kuat, dan bebas dari stunting.(*)
0 Comments