BKKBN DIY Implementasikan Model Integrasi Pengasuhan Yogyakarta Responsif Stunting (MIAYENI) di SDIT Permata Bangsa Karangmojo

Oleh: Ir Sulistyana (PKB Kap Karangmojo)   

KARANGMOJO | Rabu, 5/11, Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Daerah Istimewa Yogyakarta melaksanakan kegiatan implementasi Model Integrasi Pengasuhan Yogyakarta Responsif Stunting (MIAYENI) di SDIT Permata Bangsa, Kalurahan Ngipak, Kapanewon Karangmojo, Rabu (5/11).

Kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam memperkuat pola pengasuhan anak usia dini yang responsif terhadap pencegahan stunting, dengan mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Perwakilan Kemendukbangga/BKKBN DIY, M Iqbal Apriansyah, SH, MPH, Koordinator Wilayah Bidang Pendidikan Karangmojo, Jumiyarti, SPd, MM, serta Ketua Tim Kerja KSPK BKKBN DIY, Dr Mustikaningtyas, SPsi, MPH, beserta staf, serta perwakilan dari pihak DPMKP2KB Gunungkidul, yaitu Beatriks Christma Antari, SPsi.

Turut hadir pula jajaran Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) Kapanewon Karangmojo, yakni: Ir Sulistiyana, Dien Faradina Latifasari, SKep, Dany Kartika, bersama Kepala Sekolah TKIT Permata Bangsa, Erna Sutamini, SPd, MPd, serta pengelola TPA Permata Bangsa Karangmojo.

Acara ini juga dihadiri oleh 34 orang tua murid TPA Permata Bangsa yang antusias mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.

 

Pendidikan Berjenjang dan Pengasuhan Holistik

Dalam paparannya, Erna Sutamini menjelaskan bahwa TPA Permata Bangsa telah berdiri sejak tahun 2005 dan berlokasi di Kalurahan Ngipak, Kapanewon Karangmojo.

Lembaga ini menyelenggarakan pendidikan berjenjang mulai dari TPA, KB, PAUD, hingga SD, serta menyediakan layanan penitipan anak sejak usia 1,5 tahun.

“Kami berupaya memberikan pengasuhan dan pendidikan yang seimbang antara ilmu pengetahuan, karakter, dan nilai-nilai keagamaan. Kolaborasi dengan BKKBN melalui MIAYENI ini sangat mendukung peningkatan kualitas pengasuhan di lingkungan sekolah dan rumah,” ungkapnya.

 

Sinergi Pengasuhan dari Rumah ke Sekolah

Dalam sambutannya, Koordinator Wilayah Bidang Pendidikan, Jumiyarti, menekankan pentingnya keselarasan antara pengasuhan di rumah dan di sekolah agar anak tumbuh optimal sesuai tahap perkembangannya.

“Ilmu pengasuhan ini menjadi bagian penting bagi pertumbuhan anak. Orang tua harus semangat dan gembira dalam menata masa depan anak-anak,” ujarnya.

 

BKKBN Dorong Pengasuhan Responsif Stunting

Sementara itu, Kepala Perwakilan BKKBN DIY, M Iqbal Apriansyah, menyampaikan bahwa pengasuhan anak merupakan bagian dari siklus kehidupan yang menjadi tanggung jawab bersama, mulai dari calon pengantin hingga lansia.

“BKKBN memastikan setiap anak mendapatkan pengasuhan terbaik agar tumbuh cerdas dan sehat. Usia 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan periode emas pembentukan manusia secara utuh, sehingga pola asuh pada masa ini sangat menentukan,” jelasnya.

Iqbal menjelaskan bahwa stunting merupakan kondisi gagal tumbuh akibat kekurangan gizi kronis, penyakit, atau pola asuh yang tidak tepat. Akibatnya, anak dapat mengalami gangguan fisik, penurunan kecerdasan, hingga rentan terhadap penyakit tidak menular di usia dewasa.

Melalui MIAYENI, kata Iqbal, BKKBN berkomitmen untuk:

1. Memastikan tumbuh kembang anak terpantau melalui Kartu Kembang Anak (KKA).
2. Mengintegrasikan nilai-nilai budaya Jawa dalam pengasuhan, seperti sopan santun dan adab mulia.
3. Mendorong orang tua belajar mandiri melalui kelas Si BIMA BKB-EMAS.

MIAYENI: Integrasi Budaya dan Pengasuhan untuk Cegah Stunting

Ketua Tim Kerja KSPK, Dr Mustikaningtyas, SPsi, MPH, menjelaskan bahwa MIAYENI merupakan bagian dari upaya nasional untuk menurunkan angka stunting di Yogyakarta, yang saat ini masih berada di angka 17,4%.

“Artinya, satu dari lima anak di DIY masih mengalami stunting. Melalui MIAYENI, kami memperkuat pendampingan bagi pengasuh, orang tua, dan anak agar pengasuhan menjadi lebih optimal dan responsif,” terangnya.

Program MIAYENI mencakup empat pilar utama, yaitu:

1.  Pendampingan pengasuh,
2. Pendampingan anak,
3. Pendampingan orang tua, dan
4. Layanan rujukan bagi anak dengan masalah tumbuh kembang.

Selain itu, kegiatan ini juga mengenalkan program Tamasya di Kerabat, yakni edukasi pengasuhan adalah program yang diselenggarakan oleh BKKBN untuk meningkatkan kualitas tempat penitipan anak (TPA), serta mendukung produktivitas orang tua dan kesejahteraan keluarga. Program ini meliputi pengasuhan anak melalui pengasuh yang tersertifikasipemantauan tumbuh kembang anak, dan penyediaan kelas pengasuhan untuk orang tua. Melalui pendekatan ini, diharapkan Indeks Pengasuhan Anak Usia Dini di DIY terus meningkat, serta tidak ada anak di TPA yang mengalami keterlambatan tumbuh kembang.

 

Langkah Nyata: Mahir KKA dan Buku Saku MIAYENI

Dalam kegiatan ini, para pengasuh dan orang tua diajak mempelajari penggunaan Kartu Kembang Anak (KKA) untuk memantau indikator perkembangan. Selain itu, peserta juga dibekali buku saku MIAYENI serta diajak belajar mandiri melalui kelas Si BIMA BKB-EMAS untuk Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan orang tua dalam mengasuh anak balita, memastikan tumbuh kembang anak balita optimal melalui pengasuhan yang tepat, dan mencegah stunting pada anak balita.

Beberapa orang tua tampak antusias bertanya kepada narasumber terkait tumbuh kembang anak mereka, mulai dari cara memantau perkembangan motorik hingga menjaga nafsu makan anak. Suasana kegiatan berlangsung hangat dan interaktif, mencerminkan semangat orangtua dalam mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Kegiatan implementasi MIAYENI di SDIT Permata Bangsa Karangmojo menjadi wujud sinergi nyata antara keluarga, dan pemerintah dalam mewujudkan generasi emas Yogyakarta yang sehat, cerdas, dan berkarakter tanpa stunting.(*)

0 Viewers

Post a Comment

0 Comments

The Magazine