Menjadi Smart Parent di Era Digital

 Oleh: Asar Janjang Lestari, SPsi, MAP (PKB Kap Semanu)


Kelak kelek, biyung sira aneng ngendi

Enggal tulungana, anakmu kecemplung warih

Gulagepan wus meh pejah

(Maskumambang, tembang macapat)

 

Tembang macapat Jawa di atas sudah tergubah bertahun-tahun yang lalu. Ketika kita merenungkan kondisi pengasuhan anak zaman sekarang, tembang itu relevan untuk menjadi pengingat. Kelak-kelek adalah suara anak ayam yang merengek mencari induknya/biyungnya/ibunya/orangtuanya. Ia menjadi sanepa/perumpamaan kondisi saat ini, di mana perkembangan jaman, perkembangan informasi dan teknologi, kecepatan perubahan jaman akan membuat anak semakin membutuhkan kehadiran ibu dan orangtua, sebagai figur pertama dan utama dalam pengasuhan anak. 

Enggal tulungana anakmu kecemplung warih (segera tolonglah, anakmu tercebur ke dalam air). Ibarat anak ayam yang tercebur ke dalam air, anak-anak yang akan terancam kesejahteraan hidupnya tanpa pengasuhan yang baik dari orangtua. Anak membutuhkan bimbingan, arahan, support, kualitas kedekatan dan kelekatan psikologis dari orangtuanya untuk bisa beradaptasi, bertumbuh dan berkembang secara optimal seiring perubahan zaman. 

Gulagepan wus meh pejah, bisa dimaknai tanpa pendampingan dan pengasuhan yang berkualitas dari orangtua, anak akan kebingungan dan kurang tahu arah kehidupan ke depan. Ada kondisi ‘kematian’ yang bisa dialami. Bukan kematian dalam artian hilangnya nyawa dari raga tetapi kematian pada sisi karakter baik, budi pekerti, kepekaan sosial, jiwa empati, daya juang, semangat berprestasi, motivasi, dan lain-lain.

Tembang maskumambang ini mengingatkan orangtua akan pentingnya menjadi smart parent di era digital ini, era di mana internet sudah menjadi kebutuhan sebagian besar masyarakat. Berdasarkan hasil survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet di Indonesia mencapai 215,63 juta orang pada periode 2022-2023. 

Hal ini tentu saja memberi dampak pada pengasuhan anak. Dampak positif yang bisa diperoleh antara lain internet bisa menjadi sumber belajar orangtua dalam pengasuhan anak untuk mengetahui perkembangan psikologi dan pendidikan anak, gizi dan nutrisi tumbuh kembang anak, maupun ide kreatif untuk memfasilitasi lingkungan belajar anak. Bagi anak, internet bisa menjadi sarana mengasah kreativitas, meningkatkan kemampuan imajinasi, memberikan banyak informasi, membantu komunikasi jarak jauh, dan sumber belajar yang luas. 

Adapun dampak negatif yang ada antara lain mengurangi kuantitas maupun kualitas perhatian dan interaksi antara orangtua dan anak, mengurangi kedekatan emosional anak dengan orangtua, menurunkan kesehatan anak, memberi pengaruh negatif pada perilaku anak.

Mengatasi dampak negatif internet, ada 2 hal utama yang bisa dikuatkan untuk menjadi smart parent di era digital ini. Yang pertama kualitas attachment. Attachment di sini mengarah pada kualitas kelekatan dan kedekatan psikologis anak dengan orangtuanya, baik dari sisi kognitif, sosial, maupun emosi. Attachment yang baik membantu anak merasa aman, nyaman, diterima apa adanya. Membantu anak terbiasa menerima dan mengelola pengalaman emosionalnya. Dan dalam konteks perkembangan IT saat ini, attachment yang baik akan membantu anak merasa cukup aman menjelajahi dunia. Semua ini penting bagi optimalnya pertumbuhan dan perkembangan anak di era digital saat ini. 

Yang kedua kualitas komunikasi. Kualitas komunikasi menjadi kunci pengasuhan positif bagi anak. Menjadi smart parent di era digital artinya menguatkan kualitas komunikasi dalam pengasuhan sehari-hari. Kehadiran orangtua baik fisik maupun psikis bersama anak, penerimaan tulus tanpa syarat, bahasa cinta saat komunikasi baik secara verbal maupun non verbal, ketrampilan komunikasi menjadi hal penting untuk dikuatkan sebagai skill harian. Dengan kualitas attachment dan komunikasi yang baik antara orangtua dan anak; harapannya fungsi proteksi, fungsi asistensi, maupun fungsi kreasi bisa optimal dalam pengasuhan.

0 Viewers

Post a Comment

0 Comments

The Magazine