Pelatihan Pengolahan Air Hujan (PAH) di Lokakarya Mini Kapanewon Saptosari

Koresponden: Ahmad Harwanto, SSos dan Ervina Budiati, SAP (PKB dan Pramusaji Kapanewon Saptosari)

SAPTOSARI | Jumat, 26 Mei 2023 pukul 09.00 WIB, telah dilaksanakan acara Mini Lokakarya yang bertempat di aula Kapanewon Saptosari. Acara ini sangat dianggap penting karena mengangkat tema "Pelatihan Pengolahan Air Hujan/Pengolahan PAH".  Adapun peserta pertemuan ini adalah ketua TPPS kalurahan se-Kapanewon Saptosari, kamituwa se-Kapanewon Saptosari, juga TPK se-Kapanewon Saptosari, serta lintas sektor Kapanewon Saptosari, yaitu Kapolsek dan Danramil Kapanewon Saptosari. 

Acara dibuka oleh Panewu Saptosari, Eka Prayitno, SSos, MM yang menyambut dengan sangat gembira acara ini. Pak Eka, begitu sapaan akrabnya, menjelaskan letak geografis Saptosari yang notabene adalah daerah pinggir pantai yang masih banyak warga masyarakat masih menggunakan air hujan untuk memenuhi semua kebutuhan, bahkan air hujan digunakan untuk sumber air minum utama. Sehingga dengan demikian, angka keluarga beresiko stunting di Saptosari masih sangat tinggi yaitu masih diangka 20%. "Harapan kami dengan adanya pelatihan ini, kamituwa dan juga kader PPKBD atau TPK Kapanewon Saptosari menjadi garda terdepan sebagai  PGT (pasukan gethok tular) untuk menyebarluaskan informasi yang penting ini.

Selanjutnya acara diambil alih oleh Ketua TPPS Kapanewon Saptosari, yakni Panewu Anom, yang membahas terkait dengan SDM pengetasan stunting di Kapanewon Saptosari. Dikatakan oleh Panewu Anom, Arif Yahya, STP, bahwa kondisi sekarang ini sesungguhnya sudah sangat memadai, karena dari tingkat kapanewon sampai dengan kalurahan sudah dibentuk tim, yaitu Tim TPPS Kapanewon Saptosari yang diketuai oleh Panewu Anom, TPPS Kalurahan yang terdiri dari carik dan kamituwa di masing-masing kalurahan juga ada TPK yang terdiri dari 3 unsur yaitu bidan, kader PKK, dan kader KB. 

“Saya kira ini sudah sangat cukup sebagai tentara PGT seperti yang diutarakan oleh Panewu Saptosari, dan informasi yang penting ini dapat tersampaikan pada lapisan masyarakat untuk menekan angka stunting di Saptosari," ujar Panewu Anom Saptosari.

Acara inti dipandu oleh narasumber Ni Nyoman Nepi Marleni, ST, MSc, PhD, dari Departemen Teknik Sipil dan Lingkungan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang mengangkat tema “Panen Air Hujan”. 

Dikatakan oleh Nepi bahwa pada dasarnya kualitas air hujan itu sangat bagus, namun ada air hujan yang tidak layak untuk dikonsumsi, jika daerah kita sudah terpapar dengan asap pabrik, dan polusi udara. Namun, jika dilihat dari daerah Saptosari ini masih sangat asri, artinya belum terpapar oleh polusi udara dan asap-asap pabrik. Hanya saja air hujan di Saptosari ini tidak serta merta langsung bagus untuk dikonsumsi, namun harus ada telaah dan harus kita pelajari terlebih dahulu. 

Air hujan yang turun dari langit, lanjut Nepi, sebelum bermuara ke bak-bak penampungan pada rumah adalah melewati genting atau atap rumah yang sebelumnya masih kotor karena penumpukan debu, kotoran binatang seperti tikus dan lain sebagainya. Hal ini yang menyebabkan air hujan tidak layak untuk dikonsumsi. Agar air hujan layak untuk dikonsumsi maka air hujan pertama jangan langsung dialirkan pada bak penampungan namun sebaiknya dibuang terlebih dahulu dengan durasi 10-20 menit pertama ketika hujan. Bak penampungan yang kita gunakan adalah wajib tertutup, jika bak penampungan itu dibiarkan terbuka itu sudah pasti tidak layak untuk digunakan. Setelah durasi 10-20 menit saat hujan pertama dibuang kemudian air hujan tersebut dapat dialirkan pada bak-bak penampungan dengan metode pipanisasi dan metode filterisasi yang sederhana. 

Metode pipanisasi dan filterisasi ini, kata Nepi, dapat kita buat dengan mudah yaitu dengan mendesain pipa pembuangan untuk hujan pertama dan pipa untuk menyematkan vilter air yang terdiri dari kerikil, pasir silica, karbon aktif, grasfull kemudian bisa juga ditambah batu zeolith yang berfungsi untuk menyerap logam berat. Jika kita tidak menggunakan filter air ini kita harus rajin menguras bak penampungan setidaknya satu tahun dua kali bahkan lebih sering lebih baik. 

Dengan teknik ini dipastikan air hujan yang kita panen adalah air yang memiliki kualitas yang baik untuk dikonsumsi oleh keluarga yang ada dirumah. Kualitas air sumur, air kali atau sungai masih kalah dengan kualitas air hujan dengan teknik filterisasi ini. Yang kita butuhkan saat ini adalah sosialisasi kepada warga masyarakat agar masyarakat dapat mengaplikasikan tehnik ini untuk mendapatkan air hujan yang berkualitas. Yang perlu diperhatikan adalah kita harus membersihkan secara berkala vilter air hujan tersebut dengan durasi waktu satu tahun sekali atau dua kali. 

Acara ditutup dengan tanya jawab dan RKTL yang akan dilakukan di kalurahan agar warga mau merubah mindset untuk dapat membuat pipanisasi dan juga vilter air agar air yang dikonsumsi oleh warga masyarakat memiliki kualitas yang baik.(*)







0 Viewers

Post a Comment

0 Comments

The Magazine