Oleh: Sabrur Rohim, SAg, MSI (penyuluh KB di dekat Pantai Sadeng, Gunungkidul)


Tempo hari saya bersama kawan sekantor, Hudoyo, SSos, koordinator penyuluh KB Girisubo, menghadiri resepsi salah seorang kader di kalurahan binaan saya. Kader itu bernama Ira, bukan nama sebenarnya. Dia gadis berusia sekira 23-an tahun dan sehari-hari bekerja di apotek dekat kantor kapanewon. Anaknya manis dan cekatan.

Saya dan koordinator penyuluh KB, Pak Hud (sapaan akrabnya), memang berkomitmen untuk hadir di acara resepsinya, sebagai wujud restu dan "nderek bungah" kami atas pernikahannya. Saya sendiri banyak menerima undangan resepsi; bejibunlah itu surat undangan bertumpuk di kantor. Saya selalu pilah dan pilih untuk datang (atau tidak), menyesuaikan waktu dan mood. Kalau ada waktu dan karep, ya saya datang, kalau tidak, ya abaikan. Yah, karena terlalu banyaknya undangan resepsi itu. Tetapi untuk Ira, saya dan Pak Hud berkomitmen harus datang.

Rumah Ira berada di salah satu Kampung KB yang menjadi binaan kami, kampung yang menjadi percontohan bagi kampung/dusun lain sekapanewon di dalam memajukan program pembangunan keluarga, kependudukan, dan KB (Banggakencana). FYI, program Kampung KB ini sendiri sebenarnya implementasi dari nawacita khalifah NKRI Pak Jokowi tentang revolusi mental dengan cara "membangun dari pinggiran".

Ibu Ira sendiri juga seorang kader di kampungnya. Bedanya, Ira  kader untuk kegiatan remaja, sedangkan ibunya itu kader untuk kegiatan orangtua. Ira mengurusi kegiatan PIK-R (pusat informasi dan konseling remaja), karangaruna, dan semacamnya, sementara sang ibu aktif mengurusi kegiatan posyandu balita, bina keluarga balita (BKB), bina keluarga remaja (BKR), bina keluarga lansia (BKL), UPPKS, dan sejenisnya. Pokoknya banyak dweh. Jadi, sekali lagi, dua-duanya kader; ya ibu, ya anak, sama-sama militan, sama-sama aktif membantu petugas melayani warga di kampungnya. Merek tulus ikhlas. Ada juga sebenarnya honor atau operasional dari pemerintah, tetapi ya tentu masih sekadarnya, belum berbanding dengan darma bakti mereka kepada masyarakat.

Saya ingin bercerita. Alkisah beberapa tahun yang lalu, saat Ira baru lulus SMK, ia diajak main ke rumah teman dekatnya (pacarnya). Tujuannya, tentu demi dikenalkan kepada orangtua si teman dekat itu. Rumah sang pacar itu tidak jauh-jauh amat sebenarnya, tetapi memang lain kabupaten dan lain provinsi. Maklum, wilayah binaan saya ini memang sudah di pinggiran, di perbatasan, terpencil, dan sudah begitu tertinggal pulak (bahasa kerennya: galcitas). Persisnya di wilayah DIY paling ujung timur dan selatan, berbatasan tidak hanya dengan Jateng (Pracimantoro, Wonogiri), tetapi juga Australia. Haha. 

Satu dua kali memang tidak ditanya hal-ihwal yang menjurus nan serius, tetapi setelah beberapa kali, sang orangtua bertanya kepada Ira lebih meruncing dan pokok: apakah sudah cocok? Tentu saja dijawab oleh Ira: iya. Lalu ditawarkanlah kepada Ira agar segera melangkah lebih serius ke pelaminan. Maksudnya, Ira akan segera dilamar, dan pernikahan akan segera digelar tidak lama lagi. 

Ditawari begitu, Ira justru menjawab, kurang lebih, "Pak, kampung saya adalah kampung KB yang oleh pemerintah dijadikan teladan bagi kampung lain sekapanewon. Ibu saya kader, saya sendiri juga kader dalam program kampung KB tersebut. Salah satu hal yang dikampanyekan dalam program tersebut adalah jangan nikah dini, pendewasaan usia perkawinan (PUP). Perempuan baru boleh menikah setelah 21 tahun, sedangkan lelaki setelah 25 tahun. Kalau saya nikah sekarang, apa nanti kata orang tentang saya, tentang ibu saya, juga tentang kampung saya. Muka saya mau ditaruh di mana? Betapa malu ibu saya."

"Lha terus bagaimana solusinya?" kata si bapak calon mertua itu dengan mimik serius.

"Ya menunggu saya berusia 21, Pak," kata Ira dengan pelan.  "Itu syarat saya. Tetapi kalau memang pihak keluarga Bapak tidak sabar menunggu, ya tidak apa-apa, berarti hubungan kami sampai di sini saja."

Si calon mertua pun luluh dengan jawaban tegas Ira. Apalagi beliau sendiri adalah seorang kepala dusun, jadi tentu sangat paham dan mengerti benar ihwal alasan yang dikemukakan Ira. 

Wal akhir, setelah sekian lama menunggu, akhirnya pernikahan itu terlaksanan juga, beberapa waktu yang lalu, bahkan ketika Ira sudah berumur 23 tahun. Sejatinya pernikahan tersebut akan digelar setahun yang lalu. Tetapi karena ada mBak Corona, jadwalnya diundurkan. 

Itulah yang membuat kami angkat topi dan sangat terkesan dengan Ira yang, tentu berkat didikan ibunya, mau dan mampu mengorbankan kepentingan pribadinya demi menjaga nama baiknya, nama baik orangtua, juga kampungnya. Ia tak silau oleh tawaran kesenangan jangka pendek, dan lebih pilih menjaga integritasnya. 

***

Sosok Ira seperti menjadi cermin bagi saya dan teman-teman di kantor. Karena, di era sekarang, betapa masih teramat langka orang-orang yang teguh menjaga integritasnya karena silau oleh kepentingan semu, jangka pendek, atau terbawa dan terlena oleh lingkungan. Tetapi tidak dengan Ira. Dia tetap teguh pendirian. Dia tak peduli bahkan meski harus ditinggalkan oleh teman dekatnya hanya karena menjaga integritasnya itu. Ia siap. Bahkan mungkin saya yakin dia siap jika akan dicemooh oleh tetangganya, sok-sokan, lah, menolak lamaran, lah, perawan kasep, lah, dsb. Dia tetap tak peduli. 

Sosok Ira jadi mengingatkan saya tentang film, The End Game, yang belakangan ini sedang viral di salah satu platform media sosial. Film tersebut secara garis besar berisi wawancara kepada orang-orang dengan integritas luar biasa di dalam kerja pemberantasan korupsi. 

Di antara beberapa orang yang diwawancarai itu, ada satu orang, asal Madura, yang membuat saya terkesan. Ia bercerita bahwa pada suatu waktu ibunya meminta tolong kepadanya agar membantu adik kandungnya. Sang adik kandung itu sarjana dengan nilai terbaik, tetapi belum dapat pekerjaan. Konon sang ibu waktu itu berkata dengan sangat serius dan penuh iba, kurang lebih, "Nak, itu tetangga ada yang menyogok 50 juta untuk diangkat sebagai tenaga honorer. Masa, sih, kamu tidak punya uang 50 juta untuk membantu adikmu agar bisa juga diangkat sebagai pekerja honorer?"

Apa jawab si doi? "Bu," katanya dengan berat hati, "mohon maaf aku tidak bisa menuruti kemauan ibu. Sebab, aku ini bekerja di lembaga yang justru bertugas memberantas hal-hal seperti itu."

Sang ibu awalnya kecewa dengan jawaban sang anak, tetapi lambat laun mengerti. Bahkan akhirnya, karena semakin paham, setiap ada orang yang meminta nomor hp anaknya yang bekerja di komisi anti rasuah itu, ia menolak untuk memberikan. 

Dalam hati saya merenung, sudahkah saya seperti mereka? Sudahkah sejalan apa yang sering saya sampaikan (sebagai penyuluh, sebagai orangtua, sebagai pendidik, sebagai penceramah/khatib), dengan apa yang saya kerjakan...? Semoga saya bisa seperti Ira dan orang Madura yang saya ceritakan di atas. Semoga anak-anak saya, anak-anak kita semua, menjadi manusia-manusia yang berintegritas, anak-anak yang saleh dan salehah. Merekalah yang akan memanggul amanah mengelola negeri ini, agar ke depan lebih baik dan semakin baik, selalu diberkahi dan dihindarkan dari bencana. Amin.(*)