Perwakilan BKKBN DIY Siap Sukseskan Implementasi Perpres No 72 Tahun 2022 Untuk Percepat Penurunan Stunting di DIY

Oleh: Drs Edy Pranoto (PKB Playen)

YOGYAKARTA - Kegiatan bertajuk, "Fasilitasi Pengelolaan Program Percepatan Penurunan Stunting", berlangsung pada hari Selasa (21/06) mulai pukul 08.00 WIB sampai selesai di The Alana Hotel & Convention Center Yogyakarta.

Acara tersebut diikuti oleh beberapa unsur al: koordinator PKB se-provinsi DIY (78 kapanewo), Fabsedu, jawatan praja se-DIY, kepala Kemenag se-DIY, kepala OPD KB se- DIY, kepala Puskesmas se- DIY, serta lurah wilayah lokus stunting se-DIY.

Dalam laporan penyelenggaraan, Shodiqin, SH, MM selaku Kepala Perwakilan BKKBN DIY menyampaikan sejumlah hal penting. Misalnya ditekankan bahwa BKKBN sebagai lembaga non kementerian harus banyak bermitra dengan lintas sektor dalam rangka penyelesaian tugas tugas yang ada. Seperti di amanatkan di UU No 52 Tahun 2019, tegas Shodiqin, BKKBN punya tugas tidak sekadar pada pelayanan keluarga berencana, namun juga mewujudkan generasi bangsa yang berkualitas melalui pembangunan keluarga. Namun mengingat pertumbuhan populasi penduduk di Indonesia masinh tinggi, sehingga dalam hal ini masih perlu dilakukan pengendalian penduduk.

Terkait Peraturan Presiden nomor 72 Tahun 2021, lanjut Shodiqin, BKKBN tetap tidak boleh melupakan tupoksi utamanya, seperti dalam pelayanan KB MOW serentak di Rumah Sakit Sadewa Yogyakarya kemarin tercapai 156 akseptor yang langsung ditangani sendiri oleh dr Yudi Andriansyah Eka Putra, Sp.OG(K) dan tim. Sementara di tangal 15 Juni 2022 diselenggarakan layanan KB Sejuta Akseptor (PSA) dalam rangka menyambut Hari Keluarga Nasional tahun 2022. Alhamdulillah dalam kegiatan ini tercapai di atas 10.000 akseptor atau 228 persen, dan ini berkat kerja sama kemitraan dari berbagai sektor.

Dalam kesempatan tsb disampaikan juga oleh Kaper BKKBN DIY bahwa disamping fokus pada garapan penurunan angka stunting, BKKBN juga fokus pada layanan kontrasepsi pada akseptor, melalui inovasi inovasi dengan berbagai cara,seperti layanan KB untuk ibu menyusui dengan penyediaan pil KB menyusui. Penyediaan alat kontrasepsi implan juga dilakukan inovasi dari penyediaan implan 6 batang jadi 1 batang, termasuk implant dengan isi 3cc.

Kaper juga mengingatkan kesuksesan kampanye hindari "4 Terlalu" dalam rangka pencegahan stunting yang strategis merupakan kesuksesan bersama mitra kesehatan.

Terkait dengan angka stunting, menurut versi SSGBI, di Indonesia masih tinggi yaitu 24,4 persen, sementara di Provinsi DIY angkanya sekitar 17,7% , nomer 3 setelah provinsi Bali dan DKI. Sementara di tingkat kabupaten, Kulonprogo menempati posisi terendah, sedangkan peringkat tertinggi ada di Kabupaten Gunungkidul.

Shodiqin berharap, pertemuan kali ini bermanfaat untuk upaya penurunan stunting melalui aplikasi RAN PASTI. Adapun penjabaran dari RAN PASTI, BKKBN telah membentuk TPPS di bulan Maret sudah tercapai 1853 atau sudah 100 persen, dan TPK sejumlah 5666 juga sudah 100 persen.

Kaper BKKBN DIY menyampaikan tujuan dari pertemuan ini adalah untuk minta dukungan dari mitra kerja dalam rangka suksesnya aplikasi Elsimil, melalui download aplikasi elsimil di 3 bulan sebelum menikah bagi caten. Aplikasi Elsimil sendiri dilaunching pada tgl 11 maret 2022 oleh Kepala Kementrian Agama RI. Diharapkan catin di tingkat desa sudah digerakkan untuk mengakses aplikasi Elsimil tsb, setelah itu baru melakukan periksa kesehatan ke faskes, selanjutnya hasil pemeriksaan kesehatan itu bisa digunakan untuk mengisi Elsimil. Dari sini catin langsung mendapat pendanpingan dari angota TPK. Sehingga catin akan siap hamil dengan melahirkan anak yang tidak stunting.

Dalam pertemuan ini disampaikan smabutan dari Kepala Bappeda Provinsi DIY, Drs Beni Suasono, MSi, mewakili Wakil Gubernur DIY, Sri Paduka Paku Alam ke-X. Beberapa poin penting sambutannya adalah sebagai berikut:

Bahwa pandemi covid 19 selama hampir dua tahun telah menekan ekonomi rakyat, juga derajat Kesehatan masyarakat serta kegiatan social kemasyarakatan. Harapannya pertemuan ini merupakan awal dari bangkitnya ekonomi, serta Kesehatan keluarga Indonesia.

Bahwa pertemuan ini sebagai ajang koordinasi, pemecahan atas solusi dalam penurunan stunting, mengingat diikuti oleh hampir semua unsur yang terkait dengan upaya penurunan stunting dari pusat sampai pemerintah paling bawah.

Stunting merupakan salah satu masalah dalam hal mal nutrisi dalam upaya mewujuskan SDM unggul. Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta turut secara aktif mendukung percepatan penurunan dan pencegahan stunting, melalui Peraturan Gubernur Nomer 92 tahun 2020 sampai tahun 2024 diharapkan sudah tercapai penurunan stunting menjadi 14 persen, tentu melalui implementasi kegiatan TPPS  dan TPK di wilayah masing-masing.

Dari monitoring dan evaluasi yang telah dilakukan terhadap kabupaten dan kota terkait kiprah upaya penurunan stunting melalui pengerahan segala sumber daya dengan semangat golong gilig, sengguh ora mingkuh, gumreget sawiji untuk penurunan stunting di DIY, Pemda merasa yakin target penuruanan angka stunting dapat terlampaui di tahun 2024. Penurunan angka stunting melalui “SDG”, akan sukses bila sedaya dipun gatosaken, mboten wonten ingkang pun tilaraken, akan membuat sukses program ini.

Sementara itu pada penyampaian paparan panel pertama oleh dr H Zamhir Setiawan, MEpid, selaku Direktur Bina Akses Pelayanan KB BKKBN, disampaikan materi tentang, "Percepatan Penurunan Stunting Melalui Program KB dan Kesehatan Reproduksi".

Sesi kedua, paparan disampaikan oleh dr Oktavianus Wahyu, PTP, SpOG, selaku Direktur RSUD Kulonprogo , menyampaikan pentingnya pengendalian penduduk dengan ber-KB serta perannya dalam upaya pencegahan lahirnya anak anak stunting.

Sesi ketiga, disampaikan paparan oleh Hari Edy Tri Wahyu Nugroho , selaku Kepala Biro Tata Pemerintahan Sekretariat Daerah DIY, yang menyampaikan materi, “Peran Kalurahan Dalam Program Percepatan Penurunan Stunting”.(*)
0 Viewers

Post a Comment

0 Comments

The Magazine