Dhimas, Pegiat Forum GenRe Asal Tanjungsari yang Sarat Prestasi

Oleh: Ir Sihana Yuliarto (penyuluh KB Tanjungsari)

TANJUNGSARI
- Namanya Dhimas Adi Putra, remaja dengan tinggi badan 173cm dan berat badan 71kg. Dhimas, sapaan akrabnya, lahir di Gunungkidul, 3 Maret 2001, dari keluarga sederhana yang sangat menjunjung tinggi toleransi, kejujuran, serta gemar berbagi dengan sesama. Sosok yang punya motto hidup, "memaksimalkan diri selama masih diberi hidup di dunia", ini sangat menggemari kegiatan-kegiatan outdoor, petualangan, dan sejenisnya.

Dhimas ternyata memiliki beberapa sertifikasi/ketrampilan, lho. Pemilik akun Facebook Dhimas Adi Putra, IG @dhimas_adi_putra, serta twitter @Adi_yaitulah ini memiliki beberapa sertifikasi keren di antaranya: PIP Semarang - Advanced Fire Fighting 2018, PIP Semarang - Basic Safety Training 2018, serta PIP Semarang - Security Awarness Training 2018.

Pendidikan formalnya dienyam di SDN Kemadang, SMP N 3 Wonosari, serta SMKN 1 Tanjungsari (jurusan kemaritiman), sedangkan jalur non formalnya Dhimas pernah mengikuti Pendidikan Satpam Gada Pratama pada tahun 2019.

Di usianya yang masih muda, Dhimas sudah mengukir segudang prestasi, al: World Vision International - statement core group catatan sipil (2021), peserta Festival Film Gunungkidul (2021), peserta Forum Anak Nasional (2018), juara 1 Tinju Kejurda (2018), Investasi Tinju Amatir Menoren (2018), juara 2 Tinju Popda (2017), juara 1 Tinju O2SN (2017), juara 1 karate 2015, juara 1 PKS (2014), serta juara 2 voli (2014).

Sejumlah pelatihan juga sudah pernah Dhimas ikuti, al: Diklat Pemandu Wisata Gunung dan Treking - Dinpar (2021), Upgrading Skill Pemandu Gunung - Kemenparekraf (2022), Arei Flagship Ramadhan 2021 & 2022, Pelatihan Perpustakaan Trabsformasi Inklusi Sosial, serta Pelatihan PPDG - PMI.

Dhimas sejauh ini juga sudah mengecap banyak pengalaman kerja, al: pedagang ikan hias air laut (2013-18), jasa fotografi wisata pantai Gunungkidul (2016-20), magang kapal nelayan Juwana, Pati (2017), persewaan alat camping (2019-sekarang), guide lokal deretan pantai Kemadang, Tanjungsari, Gk (2019-sekarang), pemandu camping (2019-sekarang), pemandu gunung (2020-sekarang).

Remaja yang punya hobi tinju, traveling, dan fotografi ini juga aktif di beberapa organisasi atau komunitas, al: Natural Explore (sebagai anggota), admin di Pendaki Indonesia Jogja Istimewa (Pijogist), fasilitator Forum Anak Gunungkidul, koordinator 2 Remaja Peduli Anak, serta wakil ketua pada Forum Generasi Berencana (GenRe) Gunungkidul.

Tempo hari, koresponden Cahaya Keluarga Tanjungsari, Ir Sihana Yuliarto pernah menyambangi Dhimas dan berdiskusi sejenak tentang isu-isu seputar KRR. Kala itu Yuli bertanya kepada Dhimas, seberapa penting pendewasaan usia perkawinan?

"Di zaman sekarang banyak yang namanya nikah muda, dan hal tersebut seperti sudah menjadi tren saat ini. Apakah hal tersebut menjadi hal baik atau justru menjadi hal buruk? Lalu kenapa nikah usia muda banyak terjadi? Lantas bagaimana mengenai menikah karena hamil duluan? Itu juga menjadi bahan perenungan saya selama ini," terang pemilik email kaeadi7@gmail.com ini. 

"Anak menurut UU No 35 tahun 2014 adalah seseorang yang beusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak dalam kandungan. Berarti yang menikah di umur 18 tahun kebawah masih tergolong anak, sedangkan menurut UU No 16 tahun 2019 mengatakan bahwa perkawinan hanya di izinkan apabila pria dan wanita mencapai umur 19 tahun. Dapat di simpulkan bahwa menikah di bawah 18 tahub adalah melanggar UU dan bukan hal baik," tegas Dhimas. 

Lantas kenapa tidak sedikit yang menikah di umur 18th kebawah? Jika dari pandangan pasangan, kata Dhimas, rasa yang akan muncul menjadi dorongan untuk menikah adalah: tidak ingin kehilangan pasangan, terlalu bucin/cinta, serta karena hamil terlebih dulu (kecelakaan).

Karena itulah, kata Dhimas, penting sekali remaja paham mengenai pendewasaan usia perkawinan. "Saya justru berpandangan, usia ideal menikah menurut saya adalah perempuan minimal 23 tahun pria 25 tahun. Hanya saja, tidak menutup kemungkinan realita di lapangan yang saya lihat justru sebaliknya," ujarnya.

Dhimas kemudian merinci, bahwa setidaknya ada 5 alasan kenapa pendewasaan usia perkawinan menjadi penting, yakni:

1. Jika sudah dewasa, maka suami dan istri sama-sama siap menanggung semua risiko ketika berkeluarga dan memiliki perasaan yang sama;

2. Dewasa tidak selalu di lihat dari umur, melainkan bagaimana menyikapi sesuatu hal yang terjadi serta berani bertanggung jawab dengan keputusan yang di ambil;

3. Kaum perempuan seyogianya sadar dengan bagaimana kondisi diri-sendiri ketika nantinya akan mengalami kehamilan. Kesehatan reproduksi harus terjamin. Begitu pula pria. Maka penting para remaja belajar tentang kesehatan reproduksi. Di sisi lain, kesiapan reproduksi juga akan mengurangi masalah stunting di masyarakat;

4. Kesiapan ekonomi harus menjadi penting sebelum memasuki hidup berkeluarga. Memang benar bahwa menikah adalah salah satu jalan membuka pintu rejeki, tetapi apakah tidak perlu ada kesiapan? Jika sudah berusia dewasa, setidaknya pasangan suami istri sudah punya gambaran tentang usaha untuk mencari nafkah;

5. Dan yang paling penting adalah parenting, karena setelah berkeluarga pastinya akan menjadi orang tua. Jika sudah mencapai taraf kedewasaan, pastinya pasangan suami istri sudah lebih siap menjadi orangtua, punya pengetahuan untuk mengasuh anak-anaknya, dst.

Terakhir, Dhimas berpesan kepada generasi muda: "Menikah itu perkara mudah, tetapi apa yang sudah kamu siapkan untuk hal ini? Dan apa yang akan kamu lakukan setelah menikah? Renungkan dengan baik."

Kalau ingin tahu rumah Dhimas, ini dia alamatnya: Watubelah RT 04 RW 04, Kemadang, Tanjungsari, Gunungkidul. Kalau mau japri, bisa ke 085878831780.(*)
0 Viewers

Post a Comment

0 Comments

The Magazine