Percepatan Penurunan Stunting Melalui DASHAT

Reportase: Sabrur Rohim, SAg, MSI (pemred Cahaya Keluarga)


Belum lama ini, sebagai bagian dari Gerakan percepatan penurunan angka stunting di DIY khususnya dan Indonesia pada umumnya, Perwakilan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional Daerah Istimewa Yogyakarta (Perwakilan BKKBN DIY) meluncurkan program “Dapur Sehat Atasi Stunting” (DASHAT) secara serentak di seluruh Kampung Keluarga Berkualitas (Kampung KB) se-DIY secara virtual dari Ruang Yudistira Kompleks Balaikota Yogyakarta di Jalan Kenari Nomor 56 Yogyakarta, Selasa (30/11/2021).

Launching DASHAT itu sendiri bekerjasama dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Pemerintah Kota Yogyakarta (DP3AP2KB Pemkot Yogyakarta), itulah kenapa pelaksanaannya secara tatap muka bertempat di kompleks Balaikota Yogyakarta. Akan tetapi, yang menyaksikan dan mengikuti secara virtual adalah segenap lintas sector terkait di wilayah DIY yang terdiri atas 5 kabupaten/kota. 

Peluncuran Program DASHAT dilakukan langsung oleh Kepala BKKBN Republik Indonesia Dr (HC) dr Hasto Wardoyo, SpOG(K) secara virtual, serta disaksikan oleh Puteri Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Bendara dan Wakil Walikota Yogyakarta Drs Heroe Poerwadi, MA. Sebelumnya telah diluncurkannya Program DASHAT di 10 provinsi pada tanggal 20 Agustus 2021.

Selanjutnya, selepas launching, dibacakan “Deklarasi Mendukung Percepatan Penurunan Stunting di Desa dan Kelurahan,” oleh lurah atau kades dan ditirukan oleh Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK), ketua kelompok kerja (Pokja) Kampung KB, bidan kalurahan, ketua kelompok usaha peningkatan pendapatan keluarga akseptor (UPPKA), kader kelompok kegiatan (Poktan), dan penyuluh KB (PKB) di posisi masing-masing (secara virtual).

Dalam kesempatan tersebut, sekaligus dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara Perwakilan BKKBN DIY dengan PT BPS (Boga Perkasa Sejahtera) dan BKKBN dengan ACT (Aksi Cepat Tanggap). Kerja sama tersebut dilakukan dalam rangka pendampingan program pemberdayaan ekonomi keluarga bagi kelompok UPPKA guna mendukung program DASHAT.

 

Waktu Kita Tinggal 2,5 Tahun

Dalam sambutan pengarahannya, Kepala BKKBN RI, Hasto Wardoyo mengatakan, bahwa, launching program DASHAT ini adalah untuk menindaklanjuti spirit dari arahan Bapak Presiden terkait dengan percepatan penurunan stunting yang harus menuju angka 14% di tahun 2024. Waktu tinggal 2,5 tahun lagi, sehingga kita harus bekerja cepat dalam rangka untuk merespon stunting itu.

“Kesempatan untuk mencegah stunting itu,” lanjut mantan Bupati Kulonprogo, DIY, “ada pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) terhitung sejak pertemuan antara sel telur dan sel sperma sampai si anak umurnya 2 tahun kurang sedikit, karena orang hamil itu 280 hari kemudian di luar tinggal sisanya 720 hari, dan dalam keadaan itu dia membutuhkan asupan yang sangat penting untuk gizi seimbang.”

Hasto menambahkan, bahwa sebetulnya pertanda bahwa 1000 hari itu penting sudah ada di dalam ciri-ciri bayi itu sendiri, di mana sebelum usia 1000 hari ubun-ubunnya belum menutup, jadi masih renggang, karena otak masih bisa berkembang. “Tetapi begitu masuk 1000 hari, maka tulang ketemu tulang sehingga kepala sudah tidak dapat berkembang lagi sehingga itulah kesempatannya 1000 HPK untuk memberikan asupan nutrisi yang sebaik-baiknya”, terang Hasto.

Oleh karena itu kami mengucapkan terimakasih atas inisiatif dari Gusti Bendara yang juga kemudian ditindaklanjuti oleh pemerintah kabupaten dan kota. Saya juga berterimakasih kepada Bupati Bantul karena di Bantul juga sudah membuat inisiasi 1 dusun diberikan anggaran 50 juta khusus untuk mengatasi stunting ini. Ini saya kira kebijakan-kebijakan best practice yang sangat bagus untuk kemudian nanti bisa kita share ke beberapa wilayah di Indonesia. Kunci sukses untuk tidak stunting adalah gizi seimbang dan gizi seimbang itu tidak mahal, tetapi kuncinya ada protein hewani dan kita anjurkan protein hewaninya tidak perlu protein hewani yang mahal yaitu cukup protein hewani yang bersumber dari telur dan ikan, karena telur dan ikan itu cukup murah”, tambah Hasto.

Hasto Wardoyo juga menyampaikan bahwa DASHAT akan ada dalam kampung keluarga berkualitas (kampung KB) dan menjadi pusat gizi serta pelayanan pada anak stunting. BKKBN bersama para ahli gizi telah menyusun menu sehat dengan konsep produk lokal karena sekaligus memberdayakan dan mensejahterakan masyarakat sendiri.

 

DAHSAT merupakan kegiatan pemberdayaan masyarakat dalam upaya pemenuhan gizi seimbang bagi keluarga berisiko stunting yang memiliki calon pengantin, ibu hamil, ibu menyusui, baduta/balita stunting terutama dari keluarga kurang mampu. Melalui pemanfaatan sumberdaya lokal (termasuk bahan pangan lokal) yang dapat dipadukan dengan sumberdaya/kontribusi dari mitra lainnya.

 

Optimalisasi Sumber Daya Lokal

Shodiqin SH, MM Kepala Perwakilan (Kaper) BKKBN DIY menuturkan bahwa peluncuran DASHAT di seluruh kampung KB se-DIY ini adalah sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat melalui optimalisasi sumber daya lokal dan peningkatan ekonomi masyarakat lewat kelompok UPPKA dalam rangka percepatan penurunan stunting di tingkat desa atau kelurahan.

Kampung KB sendiri merupakan kampung percontohan di level dusun yang ada di seluruh kapanewon di DIY. Minimal ada 2 kampung KB di setiap kapanewon. Di antara kelompok kegiatan yang dikembangkan di kampung KB adalah UPPKA (usaha peningkatan pendapatan keluarga akseptor), sebagai wadah bagi parak akseptor KB di kampung KB untuk meningkatkan derajat ekonomi keluarga melalui kegiatan ekonomi produktif berbasis kelompok serta mengandalkan produk lokal.

“Harapannya, konsep DASHAT bisa diimplementasikan di semua Kampung KB, dan bisa mendorong peran serta masyarakat dalam upaya penangan stunting di tingkat desa atau kelurahan. Dalam arti kegiatan di kampung KB kemudian menular ke kampung-kampung lain di kalurahan,” ujar Shodiqin.

Atau, kata Shodiqin, bisa juga dengan pendekatan lain, yakni kelompok UPPKA tetap berproduksi seperti sedia kala (dengan produk yang sudah ada), namun sebagian keuntungannya digunakan dalam mendukung penanganan dan pencegahan stunting dan meningkatkan kesehatan ibu dan anak melalui program DASHAT tersebut.

“Awalnya nanti, pelaksanaan DASHAT akan berada di sejumlah Kampung KB yang menjadi pilot project. Kemudian, bila sukses, maka selanjutnya bisa diterapkan untuk seluruh kampung KB yang ada. Sehingga, akan terbentuk DASHAT di seluruh kampung KB yang didukung kelompok UPPKA,” terang Shodiqin.

Shodiqin menyampaikan, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) telah menunjuk BKKBN menjadi Ketua Pelaksanaan Program Percepatan Penurunan Prevalensi Stunting di Indonesia pada 25 Januari 2021. Penunjukan BKKBN sebagai koordinator penurunan stunting atas pertimbangan bahwa BKKBN memiliki sumber daya sampai akar rumput.

Tidak hanya tenaga penggerak yang terdiri dari PKB serta Kader KB, BKKBN juga memiliki program berbasis desa dan berbasis poktan untuk membentuk Keluarga Sejahtera. Menindaklanjuti amanah Presiden Jokowi, maka dilaksanakanlah kegiatan DASHAT di Kampung KB ini sebagai salah satu bentuk kegiatan yang akan dilakukan BKKBN dalam upaya penurunan kasus stunting.

Dengan cara melakukan kombinasi intervensi spesifik dan sensitif berupa pemberian makanan yang berasal dari bahan pangan lokal dengan mekanisme Pemberdayaan Kelompok UPPKA. “Salah satu upaya perbaikan gizi ibu hamil adalah melalui edukasi dan perbaikan konsumsi pangan ibu hamil, menyusui dan balita dari berbagai pangan yang tersedia, bergizi dan terjangkau dengan citarasa yang sesuai dengan selera mereka,” ungkapnya.

 

Tiga Model

Shodiqin menjelaskan, kegiatan DASHAT ini dirancang dalam tiga permodelan. Yang pertama model sosial, yakni pemberdayaan masyarakat untuk penyediaan makanan padat gizi dengan bahan lokal yang sebagian besar kegiatan berupa pemberian makanan gratis kepada kelompok sasaran (ibu hamil, ibu menyusui, dan anak baduta).

Kedua, model kombinasi, yaitu pemberdayaan masyarakat untuk penyediaan makanan padat gizi dengan bahan lokal yang diperuntukkan bagi pemenuhan gizi kelompok sasaran (keluarga 1000 HPK) serta masyarakat umum dengan metode penjualan.

Dan, ketiga model komersil, yaitu pemberdayaan masyarakat melalui kelompok UPPKA untuk penyediaan makanan padat gizi dengan bahan lokal yang diperuntukkan bagi masyarakat umum dengan metode penjualan dan penguatan komunikasi informasi dan edukasi (KIE) tentang makanan sehat.

Witriastuti Susan Anggraeni, SE, MM, selaku Koordinator Bidang Pengendalian Penduduk (Korbid Dalduk) Perwakilan BKKBN DIY menambahkan, dalam rangkaian persiapan pelaksanaan DASHAT ini, Perwakilan BKKBN DIY bekerjasama dengan Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan (Pergizi Pangan) Indonesia, Yayasan Makanan dan Minuman Indonesia (YAMMI), Pusat Kesehatan dan Gizi Manusia (PKGM), dan Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta telah menyusun 2 buku yang akan digunakan sebagai referensi menu sehat untuk ibu hamil, ibu menyusui serta balita dengan memanfaatkan bahan pangan lokal. “Kedua buku tersebut telah disosialisasikan pada tanggal 13 Agustus 2021,” imbuhnya.

Sedangkan sebagai perwujudan aksi di lapangan, Perwakilan BKKBN DIY bekerja sama dengan PT BPS dan ACT dengan membentuk badan usaha bersama yang didampingi oleh kedua mitra untuk menciptakan produk-produk pangan dengan kearifan lokal yang bernilai gizi tinggi dan bernilai jual tinggi.

 

Prioritas Keluarga Prasejahtera

Setelah dicanangkan, Perwakilan BKKBN DIY berharap agar dalam waktu singkat DASHAT bisa dikembangkan dengan membantu keluarga prasejahtera muda di wilayah kampung KB (tentu melalui KIE dan pendampingan baik oleh pengurus Pokja kampung KB atau kader UPPKA), baik yang baru menikah atau masih ikut orang tuanya, untuk mengadopsi gagasan dapur DAHSAT tersebut. Adopsi yang dimaksud adalah bahwa di rumahnya mereka memasak dengan pilihan makanan sehat dan bergizi.

Prioritas pada keluarga prasejahtera adalah karena mereka sangat berisiko menurunkan generasi stunting. Kemiskinan akan berdampak pada rendahnya asupan gizi berkualitas yang akan menggangu tumbuh kembang anak.

Keluarga prasejahtera diarahkan untuk mengolah halaman rumahnya menjadi “Kebun Bergizi”, sehingga dapurnya bisa memasak dari hasil kebunnya sendiri, tidak membeli di pasar, warung, atau pedagang sayur keliling. Kalau tidak memiliki kebun pada halaman rumahnya, anggota keluarga prasejahtera tersebut oleh para penggerak di kalurahannya dianjurkan mengolah halaman tetangga yang memiliki halaman menjadi “Kebun Bergizi”, sehingga sebagai kompensasi bisa ikut memetik sayur dari halaman tetangga yang diolahnya secara gotong-royong.

Dengan disertai vaksinasi dan imunisasi sebelum mengandung dan makanan bergizi yang teratur itu, maka ibu muda itu akan tertolong untuk hamil dengan sehat. Selain itu, sesudah melahirkan, dalam 1000 hari pertama ia disarankan makan dengan sayur, buah, dan ikan di kolam yang menambah gizi, sehingga air susu yang diminum anaknya akan mengandung gizi yang baik untuk tumbuh kembangnya.

 

Domestikasi

Pasca launching, para pengurus pokja kampung KB pun segera berkomitmen untuk mengimplementasikannya di wilayahnya masing-masing. Ini karena menjadi tugas besar dan amanah bagi kampung KB, disebabkan posisi kampung KB sebagai pilot project yang (jika berhasil) kemudian akan dikembangkan ke kampung-kampung (padukuhan, dusun) lain untuk mengadopsi kegiatan yang sama. Dari situ kemudian DASHAT akan dikembangkan di kalurahan/desa yang lain sehingga kemudian akan menjadi program atau gerakan massal/kolektif di semua wilayah kabupaten/kota di DIY.

Dalam konteks Gunungkidul, kampung KB percontohan Dusun Ngalangombo, misalnya, sedikit demi sedikit sudah memulai gerakan DAHSAT ini. Menurut Sujadiyono, SSos, program DASHAT secara normatif jelas diintegrasikan dengan UPPKA di kampung KB. Modelnya ada dua: sosial dan penjualan, yakni dengan pemberdayaan warga/KK dengan dikoordinasi oleh kader UPPKS untuk menyediakan makanan padat gizi yang diperuntukkan bagi sasaran keluarga 1000 HPK (terutama dari kalangan keluarga prasejahtera dan KS-1) secara gratis (cuma-cuma), sedangkan untuk warga yang mampu (KS-II, KS-III, serta KS III plus) mendapatkannya dengan cara membeli.

Sekian lama ini, produk kuliner UPPKA kampung KB Ngalangombo masih belum memperhatikan unsur gizi dan vitamin yang dikhususkan untuk sasaran keluarga 1000 HPK. Bahan-bahan produksinya masih mengandalkan hasil pertanian lokal dan yang bersifat musiman, misalnya saja ketela, pisang, kacang tanah, dll, untuk menghasilkan produk makanan kering seperti sriping ketela, sriping pisang, peyek, dan sejenisnya. Ada juga produk minuman instan dari bahan jahe, atau batok/serabut kelapa yang dikreasikan menjadi pot gantung untuk tanaman hias. Produk-produk ini sudah sekian lama menjadi ciri khas hasil kreasi kelompok UPPKA di kampung KB Ngalangombo, yang dijual di lingkup warga Ngalangombo sendiri maupun kepada pihak lain ketika ada kunjungan studi banding, pembinaan dari dinas terkait, pameran, bazar, dan semacamnya.

Kini setelah dicanangkannya program DASHAT, kegiatan produksi tentu akan bertambah variannya. Per akhri 2021 ini, menurut Sujadiyono, sudah diwujudkan “Kebun Sehat” di Dusun Ngalangombi. Wahana yang memanfaatkan pekarangan salah satu warga ini dikelola bersama untuk menanam aneka macam sayuran dan buah-buahan lokal yang kaya akan gizi dan vitamin. Hasil panen dari “Kebun Sehat” ini kemudian nantinya yang diberikan secara gratis kepada sasaran keluarga 1000 HPK prasejahtera dan KS-I melalui saluran Posyandu, serta ada juga dijual kepada masyarakat umum (KS-II, KS-III, dan KS-III plus).

Selain sayur-mayur dan buah, kampung KB Ngalangombo juga mengembangkan budidaya lele konsumsi. Sama halnya dengan “Kebun Sehat”, lokasi budidaya lele konsumsi juga memanfaatkan lahan yang dimiliki oleh salah satu kader UPPKA. Sebagaimana diketahui, dan sudah sering disampaikan oleh Kepala BKKBN, Dr (HC) dr Hasto Wardoyo, SpOG(K), bahwa ikan lele mengandung omega 3 yang sangat bagus untuk mencukupi kebutuhan protein hewani bumil (ibu hamil) dan busui (ibu menyusui). Ikan lele ini secara khusus diberikan pada keluarga 1000 HPK dari kalangan bumil dan busui di kampung KB Ngalangombo.

Tidak puas hanya dengan “Kebun Sehat” yang terlokalisasi di satu tempat dengan pengelolaan secara kolektif, Sujadiyono selaku penyuluh KB pembina kampung KB juga mengajak agar segenap warga/KK juga memberdayakan diri dengan menanam sayur-mayur dan buah lokal di rumahnya masing-masing. Caranya, menurut Sujadi, adalah dengan domestikasi tanaman sayur-mayur dan buah. Bagaimana persisnya, Pak Jadi?

“Kita kan sering melihat di pekarangan, di sawah, ladang, alas (hutan), di mana sejumlah tanaman sayur dan buah tumbuh secara liar. Alangkah baik jika di musim penghujan begini, tanaman-tanaman itu kita pindah ke dekat rumah kita, ditanam di pot-pot sederhana, atau di sebidang kecil tanah di halaman rumah kita, ada bayam, ada cabai, ada kangkung, terong, jambu biji, pepaya, dan sebagainya, lalu hasilnya nanti bis akita nikmati sendiri, sehingga kita tak perlu beli pada tukang sayur atau ke pasar,” kata Pak Jadi, sapaan akrabnya. “Inilah yang sedang dan akan terus kita kembangkan di kampung KB Ngalangombo.”

 

Budaya Makan Ikan

Sementara itu, di kampung KB lain, misalnya di Nanas, Girisubo, program pemberdayaan masyarakat untuk menyediakan asupan protein hewani yang padat gizi juga sudah berlangsung relatif lama, bahkan jauh sebelum pencanangan program DAHSAT oleh Perwakilan BKKBN DIY ini. Ini karena UPPKA Mina Jaya kampung KB Nanas, Tileng, Girisubo, memiliki produk unggulan pelbagai kuliner kering dan basah berbahan dasar ikan tuna seperti abon ikan tuna, stik ikan tuna, bakso ikan tuna, bakso tahu ikan tuna, dan siomay ikan tuna.

Menurut Yuniati, ketua UPPKA Mina Jaya, alasan memilih bahan baku ikan tuna untuk semua produknya adalah karena kebanyakan suami dari para anggota UPPKA merupakan nelayan di pantai Sadeng. “Para suami kami umumnya sebagai nelayan, sehingga kami tidak kerepotan dalam hal penyediaan bahan baku ikan untuk kemudian diolah menjadi aneka produk kuliner berbahan dasar ikan tuna. Hanya saja, kelemahannya, memang tidak sepanjang waktu nelayan bisa membawa pulang ikan tuna, juga tidak setiap saat hasil tangkapan ikan melimpah,” ungkap Yuni.

Produk berbahan baku ikan tuna dari UPPKA Teratai kampung KB Nanas sekarang sudah banyak dikenal oleh masyarakat luas, tidak hanya di lingkup Tileng, tetapi juga di kalurahan-kalurahan lain, bahkan sampai ke luar kapanewon dan juga lintas kabupaten dan lintas provinsi, karena cara pemasaran yang dilakukan tidak hanya secara konvensional, tetapi juga melalui media sosial. “Produk kami juga sudah mendapatkan PIRT dari Dinas Kesehatan Gunungkidul, sehingga kualitas produk kami bisa diandalkan, bukan kaleng-kaleng,” kata Yuniati bangga.

Yang jelas, lanjut Yuni (sapaan akrabnya), dengan produk berbahan baku ikan tuna ini bukan saja berdampak pada perekonomian warga kampung KB, tetapi juga menunjang kesehatan masyarakat di kampung KB.

“Alhamdulillah, dengan adanya UPPKA di kampung KB, yang terus dibina oleh penyuluh KB dan dinas/instansi terkait baik dalam hal produksi maupun pemasaran, produk kami makin dikenal sehingga angka penjualan juga terus naik. Ini tentu berdampak pada tingkat perekonomian anggota poktan UPPKA. Dan ini jelas jadi motivasi bagi kami untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produk kami,” kata Yuni. 

“Di sisi lain,” lanjut Yuni, “adanya produk UPPKA berbahan baku ikan tuna ini memudahkan kami, warga kampung KB Nanas, untuk membudayakan konsumsi ikan laut. Karena kami sering bergelut dalam kegiatan membuat produk berbahan ikan laut, otomatis kami juga sering mengonsumsi ikan laut. Anak-anak kami juga membiasakan diri konsumsi ikan laut. Menu berbahan baku ikan tuna, misalnya abon, sudah rutin kami jadikan menu tambahan wajib bagi anak-anak yang dalam masa pertumbuhan, yang dibagikan pada saat pertemuan Posyandu ataupun pertemuan BKB. Menu tersebut kami integrasikan dengan program PMT balita dari kalurahan.”

Kabid Dalduk dan KB, Muh Amirudin, SSos, mempersilahkan kepada semua kampung KB untuk menggunakan cara dan pendekatan masing-masing di dalam mengimplementasikan program DASHAT, sesuai dengan potensi lokal dan SDM yang ada. “Modelnya tinggal pilih salah satu: sosial, kombinasi, atau komersil. Prinsip utamanya adalah memberdayakan masyarakat setempat, yakni di kampung KB, untuk mencukupi kebutuhan protein dan gizi yang tinggi bagi keluarga 1000 HPK, dan alangkah lebih baik jika bisa menambah penghasilan bagi poktan UPPKA di situ,” pungkas Amir.(gus broer, dari pelbagai sumber)

0 Viewers

Post a Comment

0 Comments

The Magazine