ALHAMDULILLAH...! Baksos MKJP Kapanewon Girisubo Sukses Gaet 28 Akseptor: 26 Implan, 2 IUD

Koresponden: Sabrur Rohim, SAg, MSI (penyuluh KB Girisubo)

Foto bersama kader PPKBD dan PLKB seusai Baksos MKJP.


GIRISUBO
| Sejauh ini capaian kesertaan KB di Kapanewon Girisubo, baik yang baru maupun aktif (ulang, ganti cara) masih relatif rendah, meskipun tidak buruk-buruk amat dibandingkan kapanewon lain di Gunungkidul (18 kapanewon); setidaknya angka dan ranking capaian Girisubo tidak di papan bawah. Menurut Koordinator KIA-KB Girisubo, Debora Apriliani, AMd Keb, rendahnya capaian terjadi kemungkinan besar karena faktor pandemi yang membatasi ruang gerak masyarakat termasuk ke fasilitas kesehatan.

Oleh karena itulah, dalam rangka meningkatkan capaian, telah dan akan dilakukan kegiatan-kegiatan baksos KB MKJP, dengan tujuan menggerakkan masyarakat (akseptor) untuk mengikuti pemasangan alat kontrasepsi secara massal dan terpusat di suatu tempat, tentu dengan mengindahkan protokol kesehatan. 

Setidaknya selama kurun 2021 ini UPT Puskesmas Girisubo telah melaksanakan 3 (tiga) kali even baksos MKJP, dan alhamdulillah sangat berkontribusi secara signifikan bagi peningkatan capaian KB. Baksos MKJP pertama dilaksanakan pada 24 Juni bertepatan dengan momen Harganas 28, bertempat di UPT Puskesmas Girisubo, dan berhasil menggaet 55 akseptor implan dan IUD. Baksos MKJP ke 2, dilaksanakan Jumat (2/7) di PMB Debora Apriliani, berhasil memperoleh 23 akseptor (IUD/implan), dan yang terakhir dilaksanakan Selasa (7/9) di PMB Debora Apriliani, berhasil memasang 26 implan dan 2 IUD.

Ke 28 akseptor MKJP tersebut semuanya merupakan warga Kapanewon Girisubo, dari 8 kalurahan: Balong, Jepitu, Karangawen, Tileng, Pucung, Songbanyu, Jerukwudel, dan Nglindur. Yang paling banyak pesertanya adalah Kalurahan Pucung, yakni sebanyak 15 akseptor. Para peserta diantar jemput dengan menggunakan anakbus yang disewa oleh BPKB Girisubo, sedangkan yang alamatnya dekat dengan lokasi kegiatan datang dengan kendaraan sendiri (misalnya Balong, Karangawen, dan Jepitu). Peserta mendapatkan transport serta fasilitas minum dan snack, demikian juga nakes (bidan), PKB, dan kader PPKBD dan Sub PPKBD yang mendampingi.

PPKBD Kalurahan Pucung, Weni Tri Hapsari, mengungkapkan tips bagaimana cara menggaet akseptor MKJP agar sukses, yakni dengan mandatangi ke rumah-rumah, menjelaskan ihwal kegiatan baksos, kelebihan dan kekurangan MKJP, fasilitasi dari UPT Puskesmas dan BPKB Girisubo. Dalam penggerakan ini, Weni tidak bekerja sendiri, tetapi dibantu oleh kader-kader Sub PPKBD di dusun-dusun.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Aroum Widyowati, PPKBD Kalurahan Jepitu. Sedikit informasi, bahwa Jepitu juga berhasil menggerakan akseptor cukup banyak pada kegiatan baksos sebelumnya. Ini tentu berkat kerjasama Aroum dan kader-kader Sub PPKBD di Jepitu. Aroum mengatakan, kerjasama antar PPKBD dan Sub PPKBD mutlak diperlukan dalam kegiatan penggerakan agar sukses. "Karena, kader Sub PPKBD-lah yang paling mengetahui peta calon akseptor dan PUS di wilayahnya masing-masing," kata Aroum.

Pelaksanaan baksos MKJP ini, menimbang kondisi pandemi, mengindahkan protokol kesehatan. Bidan dan PKB berkali-kali mengingatkan agar para peserta, kader, dll tetap mengenakan maskernya serta menjaga jarak satu sama lain di lokasi. Baksos dimulai jam 11.00 WIB dan berakhir sekitar jam 13.30-an WIB. Peserta, sebelum mendapatkan tindakan, terlebih dulu diskrining oleh kader PPKB, ditimbang BB-nya, ditensi tekanan darahnya, menandatangani inform concerned, mengisi daftar hadir, dan seterusnya. Setelah mendapatkan pelayanan, peserta menandatangani SPJ, serta difoto dan diwawancarai oleh PLKB seputar alasan serta pengalaman mengikuti baksos MKJP.

Foto bersama bidan dan PLKB seusai Baksos MKJP.

Dari hasil dialog interaktif Sabrur Rohim, PKB, dengan semua akseptor yang baru mendapatkan pelayanan, semuanya memberikan jawaban secara positif, bahwa pemasangan implan ataupun IUD di dalam tubuh mereka adalah sesuatu yang biasa saja, tidak sakit, tidak menakutkan, dan hanya sebentar saja. Apalagi yang memasangnya adalah nakes atau bidan yang sudah berpengalaman di wilayah Girisubo dan sekitarnya. Jadi, menurut mereka, intinya desas-desus, isu atau celetukan bahwa pasang IUD atau implan itu begini, begitu (yang umumnya bersifat negatif) adalah hoaks yang tidak benar dan tak berdasar.

Ketua tim nakes Baksos MKJP UPT Puskesmas Girisubo, Sunarti, AMd Keb, mengaku senang dan bangga dengan kegiatan baksos MKJP kali ini yang terbilang sukses. "Sebenarnya target kita kan 35 peserta, tetapi akhirnya yang bisa kita garap hanya 28 akseptor. Ada banyak alasan, misalnya karena memang tidak jadi datang, atau karena setelah diskrining tidak memenuhi syarat. Tetapi bagaimana pun harus kita syukuri, karena jumlahnya lebih banyak ketimbang even baksos sebelumnya. Semoga targetnya bisa kita penuhi bulan ini melalui pelayanan di lain waktu," kata Sunarti.

Sunarti juga sangat menyarankan kepada para PUS lain yang belum KB, atau tidak sedang memakai KB MKJP, agar segera ikut KB MKJP saja. "Ini saya meneruskan pesan dari Kepala Puskesmas Girisubo, bahwa kontrasepsi terbaik di masa pandemi adalah MKJP, baik IUD atau implan. Selain efektif, jangka waktu lama, juga menghindari kemungkinan bertemu dengan nakes dalam kurun waktu yang pendek seperti pil atau suntik, atau kondom. Padahal di masa pandemi ini, kita sangat dianjurkan agar menghindari kerumunan," pungkas pemilik PMB Sunarti Dono, Bendorubuh, Rongkop tersebut. Siappp, Bu Narti...![]  

 

0 Viewers

Post a Comment

0 Comments

The Magazine