Untuk Wujudkan Keluarga Tangguh, Kapolsek Playen: "Sosialisasi Fungsi Keluarga Harus Lebih Intensif!"

Kontributor: Drs Edy Pranoto (Playen)


PLAYEN | Pertemuan Pokja Kampung Keluarga Berencana dan Lokus Kalurahan Stunting berlangsung pada hari Rabu (7/10), dimulai pada pukul 10.00 WIB di ruang pertemuan Balai Penyuluhan KB Kapanewon Playen.

Acara ini dihadiri oleh segenap pimpinan Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan, pengelola klinik KB Wahyu Husada, Nur Rohmah, Puskesmas Playen I, dan II, serta segenap kamituwa, ketua IMP dan kader PPKBD.

Gema lagu kebangsaan Indonesia Raya dilanjutkan Mars Keluarga Berencana melantun penuh semangat terdengar keluar suara dari 25 mimik peserta yang ada. Sebagai penyemangat, lantunan lagu dipimpin oleh Paryanti, kader KB dari Kalurahan Getas, Playen.

Drs Edy Pranoto selaku Koordinator PKB Playen dalam pertemuan ini menyampaikan beberapa hal, yaitu:

Pertama, bahwa progres upaya pencegahan stunting secara konvergensi yang sudah melewati tiga fase, yaitu tahap rembuk stunting, fase pembekalan bimbingan tehnis bagi kader KPM dan tahap peningkatan kapasitas kader dalam pencegahan stunting;

Kedua, Laporan perkembangan kampung KB Wonolagi dan Wiyoko Utara. Pada kesempatan ini hal yang menarik adalah adanya kelompok UPPKS dari Wiyoko Utara yang menyajikan keberhasilannya memproduksi susu kedelai sebagai sarana untuk meningkatkan gizi dalam rangka pencegahan stunting bagi remaja, ibu hamil, anak-anak dan untuk kaum lansia;

Ketiga, pada kesempatan ini juga dipaparkan rebranding BKKBN era millenial, dengan fokus membumikan konsep “Berencana Itu Keren” bagi stakeholder di Kapanewon Playen;

Keempat, pentingnya penurunan angka unmet need sebagai setrategi untuk mencegah lahirnya bayi / anak stunting. Menurut beliau, ibu yang hamil pada posisi status unmet need lebih dekat pada kehamilan yang tanpa direncanakan (KTD), yang akan berisiko pada kondisi kesehatan ibu dan kualitas bayi yang dilahirkan. Apalagi di masa pandemi covid-19 ini ada kecenderungan naiknya angka unmeet need cukup tinggi, misalnya di wilayah Kapanewon Playen yang sampai September 2020 angkanya melonjak menjadi 739 PUS atau 10 %.

Lebih lanjut disampaikan oleh Edy bahwa ada banyak faktor yang menyebabkan angka unmeet need mengalami lonjakan di masa pandemi covid-19, yaitu:

1. Melemahnya akses PUS terhadap layanan KB di faskes, karena faktor keuangan, protap layanan kesehatan semasa pandemi covid-19 lebih birokratis, ditutupnya layanan KB di Puskesmas pembatu dan Praktik Mandiri Bidan.
2. PUS usia 35 tahun ke atas merasa jarang melakukan hubungan suami istri, serta merasa aman melakukan KB dengan cara alami.
3. PUS dengan jumlah anak baru satu masih merasa aman bila terpaksa hamil lagi; 
4. Sebagian ada PUS yang merasa takut akan risiko efek samping alokon KB MKJP khususnya; 
5. Keterbatasan alat kontrasepsi untuk akseptor KB pria, pil menyusui, serta kualitas pil dan suntik; 
6. Riwayat penggunaan cara ber-KB alami yang cukup berhasil bagi PUS; 
7. Tidak adanya bhakti sosial layanan KB pada PUS secara gratis lagi; 
8. Aturan BPJS yang semakin rumit dalam layanan KB, khususnya untuk KB ulang; 
9. Adanya rasa takut bagi PUS untuk ber-KB bila berkunjung ke faskes di masa covid-19. 

Koordinator PKB Kapanewon Playen selanjutnya menyampaikan beberapa strategi yang bisa dilakukan untuk menurunkan angka unmeet need di masa sulit saat ini, yaitu:

1. Meningkatkan kualitas KIE, konseling pada PUS kategori risiko tinggi, Pusmupar, serta bumil sehingga sasaran merasa bahwa ber-KB merupakan suatu kebutuhan pribadi;
2. Meningkatkan peran aktif kader dalam upaya penggerakan PUS unmeet need untuk mendapat layanan KB baik jalur pemerintah maupun swasta;
3. Melakukan advokasi intensif pada faskes Puskesmas agar segera membuka layanan faskes KB di Pustu; 
4. Melakukan advokasi pada dinas terkait dan Perwakilan BKKBN agar dibuka kesempatan layanan baksos KB secara gratis.

Muh Setyawan Indrianto, SH, MSi selaku Panewu Playen menyambut baik temu pokjanal Kampung KB ini. Beliau mengharapkan melalui rebranding “Berencana Itu Keren”, di mana sebagai sasarannya adalah kaum milenial, kiranya itu akan memperbaiki kualitas generasi mendatang melalui pembentukan keluarga yang lebih terencana.

Sementara itu, Hajar Wahyudi, selaku Kapolsek Playen yang menjabat baru dua bulan, menyampaikan titik tekan keberhasilan program KB pada aspek keberhasilan pengaturan jumlah serta jarak kelahiran (TFR), meskipun cara ber-KBnya menggunakan metode KB tradisional bukanlah masalah. Beliau juga menyampaikan perlunya lebih intensif penyampaian sosialisasi fungsi keluarga, agar lebih jelas mau di bawa ke mana keluarga kita di masa mendatang di mana tantangan serta godaan untuk mewujudkan Keluarga yang tangguh semakin berat.

Selain itu, dari Koramil juga menyampaikan kesiapannya untuk mendukung program KB, termasuk kesiapannya menjadi narasumber bila diperlukan guna mengkampanyekan metode KB pria.

Fania F, utusan dari Klinik KB Nur Rohmah menyampaikan hal terkait dengan prosedur pelayanan MOW di RS Nur Rohmah. Prinsipnya layanan MOW bisa dilakukan di rumah sakit Nur Rohmah dengan syarat:

1. Ada rujukan dari Puskesmas/ faskes tingkat pertama
2. Jumlah anak minimal 3 orang
3. Usia ibu minimal sudah 35 tahun
4. Ibu melahirkan secara cesar
5. Ibu memiliki riwayat penyakit penyerta (PUS tidak cocok dengan alkon yang lain).

Dari Klinik Wahyu Husada yang diwakili oleh  Denta Mega P, disampaikan keluhannya terkait dengan kualitas alat kontrasepsi yang akhir-akhir ini diterima dari BKKBN, di mana kualitas IUD dan alkon sering terjadi kerusakan saat dipasang.

Pada akhir pertemuan, semua sepakat bahwa program KB, khususnya pelayanan KB pada PUS kategori unmeetneed sebagai upaya menghindari kehamilan pada suasana empat terlalu yang sangat strategis bagi pencegahan lahirnya bayi resiko stunting.(*)

0 Viewers

Post a comment

0 Comments

The Magazine