Tri Nur: "Penanganan Stunting Haruslah dilakukan Secara Terkoordinir, Terukur, dan Berkisanambungan!"

Kontributor: Purwadi, SHI & Tri Nurhidayati, SSos (Paliyan)

PALIYAN Kutilang, begitu sering disingkat istilah kurus tinggi langsing. Tak jarang remaja putri atau bahkan umumnya kaum hawa yang mengidam-idamkan postur tubuh seperti ini. Mungkin karena kerap kali dikaitkan dengan para model yang trennya seperti itu

Dalam rangka untuk mendapatkan postur tubuh yang diinginkan, kadang remaja putri mengesampingkan pola makan dan asupan gizi yang simbang. Hal ini bisa berdampak pada kukurangan gizi yang bisa menimbulkan efek domino dari mulai anemia, gangguan jantung dan paru, depresi, menurunnya daya tahan tubuh dan fungsi otak, atau sampai persoalan stunting pada remaja.


Anemia merupakan salah satu masalah gizi  remaja yang paling utama di Indonesia. Anemia dapat disebabkan oleh penyakit infeksi, asupan zat gizi yang kurang, kehilangan darah (menstruasi) dan pengetahuan yang dimiliki. 

Balai Penyuluhan KB bersama UPT Puskesmas, Pemerintah Kapanewon, Pemerintah Kalurahan dan Pendamping Kalurahan secara serentak selama bulan September 2020 memberikan pendidikan gizi/penyuluhan tentang gizi seimbang  pada remaja, kesehatan reproduksi, suplementasi gizi dan asam folat dalam rangka pengembangan program pencegahan dan penanggulangan anemia sehingga remaja terhindar dari anemia.

Tri Nurhidayati, SSos, selaku Koordinator Penyuluh KB di Kapanewon Paliyan menjelaskan bahwa penanganan stunting haruslah dilakukan secara terkoordinir, terukur dan berkisanambungan, agar tidak tumpang tindih, antar lembaga dan program. Tidak hanya melaluli kampanye 1000 HPK dan 4T yang sudah dilaksanakaan pada bulan Juli 2020 lalu, sebagai upaya penaggulangan stunting pada anak, tetapi juga penyuluhan dan kampanye penaggulangan stunting pada remaja perlu digalakaan, dengan harapan upaya preventif ini bisa mendapatkan hasil yang maksimal, jelasnya lebih jauh.

Dengan memanfaatkan Dana Alokasi Khusus Biaya Operasional Keluarga Berencana, dilaksanaakanlah penyuluhan dan KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) untuk penaggulangan stunting yang dilaksanakan secara serentak di setiap kalurahan di Kabupaten Gunungkidul. Dimulai pada bulan Juli 2020 dengan fokus materi pada pengertaian stunting pada anak dan upaya penaggulangannya melalui 1000 HPK (Hari Pertama Kehidupan) dan 4T (Terlalu muda, Terlalu tua, Terlalu dekat dan Terlalu banyak), yang dikemas dalam format rembug kalurahan. 

Setelah itu, dilanjutkan pada bulan Agustus 2020 dengan pelatihan pelaporan pendataan konvergensi stunting untuk aplikasi eHDW bagi Kader Pemberdayaan Manusia (KPM) masing-masing Kalurahan di tingkat Kapanewon. Bagian bulan September 2020 dilakukan KIE stunting pada remaja disetiap Kalurahan dengan melibatkan kader KB, kader Yandu dan kader KPM. Harapannya dengan komitmen bersama yang melibatkan lintas sektor, dengan sistematika yang terencana dan terarah, maka percepatan penurunan stunting segera bisa tertangani dengan baik.(*)

0 Viewers

Post a comment

0 Comments

The Magazine