Pak Bowo Ajak Terapkan 7 Dimensi Lansia Tangguh dalam Kehidupan Sehari-hari

Koresponden: Ahmad Harwanto & Ervina Budiati (PKB & pramusaji Saptosari)


SAPTOSARI | Rabu (30/09) telah dilaksanakan Sekolah Lansia BKL Manunggal Asih yang melibatkan kerjasama dengan BKKBN Provinsi DIY dengan IRL (Indonesia Ramah Lansia). Kegiatan tersebut dilangsungkan di Balai Padukuhan Tritis, Planjan, Saptosari. Acara tersebut dibuka dengan berdoa bersama pada pukul 09.00 WIB yang dipimpin oleh Koordinator PLKB Kapanewon Saptosari Patwara Wibawa, SE, MAP, yang akrab disapa Pak Bowo. 

Adapun peserta kegiatan Sekolah Lansia tersebut adalah kader BKL Manunggal Asih, siswa atau mahasiswa Sekolah Lansia yang berjumlah 50 orang, Perwakilan BKKBN Provinsi DIY yang digawangi oleh dr Iin Nadzifah Hamid, Ir L Daru Andini, Latifah, dan Erwan, dosen Sekolah Lansia dari UPT RSUD Wonosari Arinto Hadi, M, Gizi, PKB Kapanewon Saptosari dan Pramusaji PKB Kapanewon Saptosari Patwara Wibawa, SE, MAP, Ahmad Harwanto, SSos dan ERvina Budiati.

Setelah doa bersama dipanjatkan kemudian dilanjutkan dengan pemberian materi oleh Patwara Wibawa, SE, MAP Koordinator PKB Kapanewon Saptosari yang sekaligus sebagai dosen Sekolah Lansia yang memaparkan materi mengenai 7 Dimensi Lansia Tangguh dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari. 


1. Dimensi Spiritual

Setiap orang percaya akan adanya kekuatan yang maha besar diluar kemampuan manusia. Kekuatan itu dalam agama disebut Tuhan Yang Maha Esa. Contoh penerapan dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan rajin beribadah dan lebih mendekatkan diri kepada Tuhan Yang maha esa.


2. Dimensi Sosial

Keluarga berupaya untuk membangun keluarga dan masyarakat dalam bentuk pendampingan, perawatan, dan kemandirian agar mampu merawat diri dan dapat melakukan aktivitas sehari hari. Contoh penerapan Dimensi Sosial di kehidupan Lansia Adalah dengan ikut komunitas lansia seperti mengikuti posyandu lansia atau sekolah lansia. Melalui komunitas ini lansia dapat memperoleh manfaat seperti : 

a. Pengetahuan dan informasi baru.
b. Menambah hobi baru yang produktif untuk dikerjakan di rumah secara mandiri.


3. Dimensi Emosional

Keluarga menyediakan waktu, memberi perhatian, menciptakan suasana yang menyenangkan, memfasilitasi kegiatan sesuai dengan keinginannya. Dalam upaya membantu Lansia untuk menstabilkan emosinya, kader dan keluarga lansia harus memiliki tingkat kecerdasan emosi yang memadai. Contoh penerapan Dimensi Emosional pada Lansia Adalah dengan melakukan hobi. Biasanya lansia memiliki banyak hobi dan aktivitas favorit. Melakukan hobi memiliki bnayak manfaat, yaitu :

a. Meningkatnkan rasa nyaman pada diri.
b. Meningkatkan kepercayaan diri.
c. Memberikan rasa puas dan rileks.

Meski begitu, diharapkan lansia tetap perhatikan kapasitas diri dalam melakukan hobi. 


4. Dimensi Fisik

Lansia mengalami serangkaian perubahan fisik, mental dan social yang berlangsung secara alamiah dengan meningkatnya usia. Pada lansia dapat terjadi perubahan fungsi seksual baik pada perempuan maupun laki-laki yang disebut dengan menopause dan andropause. Contoh penerapan Dimensi Fisik bagi Lansia adalah dengan mempertahankan aktivitas fisik. Aktivitas fisik harian merupakan sebuah keharusan. Mempertahankan aktivitas fisik harian ini memiliki beberapa keuntungan, antara lain : 

a. Meningkatkan fungsi otot tubuh
b. Menjaga berat dan bentuk badan
c. Menjaga kesehatan tubuh dan terhindar dari penyakit





5. Dimensi Intelektual

Masalah pada Lansia dengan menurunnya fungsi intelektual yaitu gangguan persepsi, penurunan konsentrasi, gangguan bahasa dan komunikasi, dan penurunan daya ingat. Contoh penerapan pada lansia adalah dengan Membaca, menulis, mengarang dan berkesenian, melakukan permainan-permainan (catur, halma, congkak, ular tangga, teka-teki silang, dan puzzle), meningkatkan silaturahmi, rekreasi dengan keluarga dapat meningkatkan/ mempertahankan funsi intelektual pada Lansia.


6. Dimensi Profesional Vokasional

Lansia potensional adalah warga lanjut usia yang masih mampu melakukan pekerjaan dan atau kegiatan yang dapat menghasilkan barang atau jasa.


7. Dimensi Lingkungan

Lingkungan adalah segala sesuatu yang ada disekitar manuasi dan mempengaruhi perkembangan kehidupan manusia. Lingkungan yang beraktifitas, bersih dan sehat, alam sekitar yang aman dan nyaman. Lanjut usia bukan merupakan suatu penyakit, tetapi merupakan tahap kelanjutan dar kehidupan manusia yang bersifat alamiah. Contoh penerapan dimensi lingkungan pada lansia adalah dengan menjaga pola hidup sehat. Pola hidup sehat berdampak terhadap kesehatan fisik dan mental. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah dengan:

a. Berolahraga rutin sesuai dengan kemampuan
b. Berjemur dibawah sinar matahari pagi
c. Minum air putih dengan jumlah yang cukup
d. Memakan makanan yang bergizi baik dan kaya serat


Selanjutnya acara diambil alih oleh Dosen yang kedua dari UPT RSUD Wonosari Arintoko Hadi, MGizi yang menjelaskan mengenai, Gizi Lansia, Menu Sehat Lansia dan Peran Lansia Dalam Mencegah Stunting. Memerhatikan asupan nutrisi seimbang merupakan bagian penting untuk menjaga kesehatan lansia (orang lanjut usia). Hal tersebut tidak hanya membantu lansia mengontrol berat badan dan mendapatkan nutrisi yang mereka butuhkan, pola makan sehat juga akan menurunkan risiko berbagai komplikasi penyakit seperti penyakit jantung dan diabetes. Panduan pola makan lansia memperhatikan hal-hal sebagai berikut:


1. Fokus pada asupan gizi seimbang

Aturan pola makan lansia yang paling penting adalah mencukupi kebutuhan nutrisi dan gizinya. Mengonsumsi makanan kaya gizi dan nutrisi akan membantu lansia mendapatkan vitamin, mineral, protein, karbohidrat, serta lemak yang mereka butuhkan.


2. Mengatur porsi makan

Salah satu penyebab kenaikan berat badan yang drastis pada lansia adalah karena mereka tidak mengendalikan porsi makannya. Porsi makan lansia hendaknya diatur merata dalam satu hari sehingga mereka jadi makan lebih sering dengan porsi yang kecil. Dianjurkan bagi lansia untuk makan besar sebanyak tiga kali dengan makanan selingan sebanyak dua kali sehari. Bila lansia mengalami kesulitan mengunyah makanan karena gigi ompong atau gigi palsu yang bekerja kurang baik, maka makanan yang diberikan harus lunak atau dicincang dulu.


3. Batasi gula, garam dan lemak

Membatasi konsumsi gula, garam dan lemak sangat penting untuk menjaga kesehatan lansia mengingat sistem pencernaan mereka tidak bisa bekerja semaksimal saat masih muda dulu. Apabila asupan gula, garam, dan lemak ini tidak dibatasi, maka lansia akan berisiko lebih tinggi mengalami hipertensi, kolesterol tinggi, hiperglikemia, stroke, penyakit jantung, dan diabetes


4. Konsumsi kalsium

Kalsium berperan penting untuk menjaga kesehatan dan kekuatan tulang. Sayangnya, penyerapan kalsium untuk tulang akan semakin berkurang seiring bertambahnya usia. Jika kepadatan tulang mulai berkurang hal ini akan membuat seseorang lebih rentan terhadap pengeroposan tulang dan gigi.


5. Perhatikan kebutuhan kalori lansia

Seiring bertambahnya usia, kebutuhan kalori lansia akan mengalami penurunan. Sedangkan kebutuhan nutrisinya tetap sama atau mengalami sedikit peningkatkan. Ini terjadi lantaran semakin tua seseorang, biasanya semakin berkurang juga aktivitas fisik yang dilakukan. Alhasil, kebutuhan kalorinya pun ikut menurun.


6. Penuhi kebutuhan cairan

Asupan pola makan lansia yang tidak kalah penting adalah cairan. Kebanyakan lansia sering kesulitan memenuhi kebutuhan cairan hariannya. Itu sebabnya, mereka lebih rentan terkena dehidrasi. Untuk memenuhi kebutuhan cairan lansia jangan dihitung dari banyaknya minum air putih saja. Atau dapat disiasati kebutuhan cairan lansia dengan konsumsi makanan yang berkuah seperti sup atau buah dan sayuran yang banyak mengandung air. Tidak hanya menghindari dehidrasi, cara ini juga bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan gizi harian yang dibutuhkan lansia untuk menjaga sistem kekebalan tubuhnya yang rawan.

Acara ditutup dengan tepuk lansia dan diskusi dengan hangat.(*) 


0 Viewers

Post a comment

0 Comments

The Magazine