"Hanya 3% Perempuan 30-50 Tahun di DIY yang Lakukan Deteksi Dini Kanker Payudara dan Serviks!"

Searah jarum jam: dr Veronika Nur Hardiyarti, Dr dr Addin Trirahmanto, SpOG (K),
Dra Joehananti Chriswardhani, dan Ir Dwi Indah Purnamawati. [broer]
Kamis (5/3), pukul 08.30-13.30 WIB telah berlangsung acara, Seminar Kanker Alat Reproduksi, di Garden Room Hotel Eastparc Jl Kapas Catur Tunggal Yogyakarta. Acara ini diselenggarakan oleh Bidang KBKR Perwakilan BKKBN DIY, dan pesertanya adalah lintas sektor terkait (formal dan non formal) di wilayah Pemprov DIY, Ketua Pokja Kampung KB se-DIY, serta OPD KB kab/kota se-DIY, dll.

Acara dibuka oleh pembawa acara dengan berdoa bersama sesuai agama dan keyakinan masing-masing, diteruskan berdiri dan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars KB. Ada yang memprihatinkan dalam sesi menyanyi ini, yakni tempo suara para peserta tertinggal oleh musik iringannya, mungkin ini disebabkan faktor usia sebagian besar peserta sehingga tidak bisa menyesuaikan dengan tempo yang seharusnya (dalam audio pengiring).

Sambutan pertama disampaikan oleh Kasubbid Kesehatan Reproduksi Perwakilan BKKBN DIY, dr Fathurrahman, yang membacakan laporan penyelenggaraan acara seminar kali ini. Poin pentingnya, bahwa acara kali ini sebagai wahana edukasi dan informasi kepada lintas sektor, OPD KB kabupaten/kota, kader KB, dan lain-lainnya tentang bahaya dan kondisi penyakit kanker di DIY yang sudah sangat mengkhawatirkan.

Selanjutnya adalah sambutan oleh Kaper BKKBN DIY, yang dalam hal ini diwakili Kabid KBKR, Dra Joehantini Chriswardani. Antik, panggilan akrab beliau, pertama menyampaikan terimakasih atas kehadiran semua peserta di tengah cuaca yang ekstrem serta kekhawatiran merebaknya virus Covid-19 di Indonesia. Disampaikan pula pamit Kaper BKKBN DIY, Dr Ukik Kusuma Kurniawan, yang berhalangan hadir disebabkan tengah menghadiri acara lain yang tak bisa ditinggalkan. Antik menyatakan bahwa acara ini dilaksanakan dalam rangka memperingati Hari Kanker Sedunia, serta sebagai wujud perhatian BKKBN pada permasalahan kanker di Indonesia pada umumnya, dan khususnya di DIY.

Dari KKBPK ke Banggakencana 
Selepas memberi sambutan, Antik juga sekaligus menjadi pemateri pertama dalam acara tersebut. Materi yang disampaikan adalah tentang Banggakencana. Antik menyatakan bahwa saat ini BKKBN mulai melirik generasi muda, dan inilah alasan kenapa dalam RPJM 2020 ini perubahan istilah dari KKBPK menjadi Banggakencana. Maksud dari perubahan ini, tegas Antik, bahwa kalau selama ini yang menjadi sasaran utama program KB adalah pasangan usia subur dengan kesertaan ber-KB-nya, maka saat ini perhatian juga diberikan kepada kelompok lain yaitu remaja atau generasi muda yang notabene adalah calon PUS. Remaja sebagai generasi penerus perlu mendapatkan perhatian khusus karena merekalah yang akan membentuk keluarga. Mereka perlu memiliki perencaan dalam membentuk keluarga tersebut. Keluarga yang baik terbentuk dari perencanaan yang baik. Perencanaan untuk menjalankan kehidupan berkeluarga dilakukan ketika seseorang berada pada masa remaja.

Sebangun dengan perubahan akronim, logo juga berubah. Antik menyebutkan bahwa logo baru BKKBN berbeda dengan logo sebelumnya. Kalau sebelumnya logo-logo BKKBN selalu melambangkan sebuah keluarga, maka untuk logo yang sekarang tidak lagi menggambarkan sebuah keluarga. Logo sekarang sesuai zaman milenial. Logo baru BKKBN, menurut ibu dari dua anak itu, tersusun dari beberapa komponen yang membentuk satu kesatuan harmonis yang saling mengisi dengan warna biru yang elegan yang melambangkan kestabilan BKKBN dalam menjadi partner perencanaan keluarga dan masyarakat. Logo tersebut mengandung beberapa arti. Pertama mengandung arti love. Logogram diadopsi dari lambang cinta yaitu hati yang mempresentasikan bahwa awal dari sebuah perencanaan adalah dari kasih sayang keluarga yang didukung dengan lingkungan yang selalu mensupport. Kedua, merangkul. BKKBN akan selalu berusaha untuk merangkul memfasilitasi dan menjadi partner dalam setiap perencanaan yang dilakukan oleh keluarga dan masyarakat dari masa kanak-kanak sampai dewasa. Ketiga, kupu-kupu. Kupu-kupu adalah lambang perencanaan dan proses. Hal ini dapat dilihat dari proses mememorfosis kupu-kupu dari seekor ulat hingga menjadi kupu-kupu yang indah; dan keempat, tak terbatas, pencapaian harus direncanakan tanpa batas. Setiap jatuh harus bangun tanpa henti. Begitupun BKKBN tanpa lelah akan terus menjadi partner keluarga dan masyarakat.

Kanker Ginekologi
Materi kedua disampaikan oleh dokter spesialis kandungan yang juga dosen FK UGM Yogyakarta, Dr dr Addin Trirahmanto, SpOG (K), dengan tema, Kanker Ginekologi. Addin pertama-tama menjelaskan apa itu kanker. Kanker, menurut Addin, adalah suatu penyakit yang terjadi karena pertumbuhan sel-sel jaringan tubuh abnormal, di mana sel-sel kanker akan berkembang dengan cepat, tidak terkendali, dan akan terus membelah diri membentuk suatu benjolan/tumor, dan selanjutnya menyusup ke jaringan sekitarnya (invasif) dan menyebar melalui pembuluh darah (limfe). Addin juga sepakat bahwa tumor ganas juga nama lain dari kanker. Perbedaan kanker dengan tumor jinak, bahwa yang disebutkan terakhir pertumbuhan selnya berlangsung lambat, tidak berpotensi menyebar, dan baru akan menggangu tubuh bila tumbuh besar dan menekan organ sekitar.

Addin kemudian melanjutkan pembahasan ke kanker ginekologi. Poin penting pengertian dari kanker ginekologi adalah kanker yang menyerang organ dalam wanita, utamanya mencakup tiga alat reproduksi: indung telur, rahim (uterus), serta leher rahim (serviks). Kanker leher rahim ini menyerang pada wanita usia 30 tahun ke atas, dan pembunuh nomor dua wanita Indonesia setelah kanker payudara. Dijelaskan oleh Addin juga bahwa faktor pemicu kanker itu ada tiga dan selalu berkaitan satu sama lain, tidak mungkin memicu secara sendiri-sendiri, yakni: genetik, epigenetik (pola makan, perilaku hidup, dll), serta lingkungan. Addin menyaran bahwa seyogianya vaksin kanker bisa diberikan sejak dini, terutama kepada anak-anak perempuan, dan kurun terbaiknya adalah usia 9-14 tahun. Sasaran utamanya perempuan, karena memang merekalah segmen yang sekian lama ini paling rentan terjangkit kanker ginekologi.

Kondisi Kanker DIY di 2020
Materi ketiga disampaikan oleh dr Veronika Nur Hardiyarti, dari Dinkes Provinsi IY, yang memaparkan materi tentang, Kebijakan Penanggulangan Kanker 2020. Dikatakan oleh Veronika, bahwa kondisi kanker di Indonesia sangat mengkhawatirkan, karena ia menjadi salah satu pembunuh utama kaum perempuan Indonesia; 2/3 penyakit yang mematikan bagi kaum wanita di Indonesia adalah kanker, terutama tentu saja kanker alat reproduksi (payudara, rahim, serviks, dan indung telur). Untuk konteks DIY, tegas Veronika, keadaannya sangatlah memprihatinkan karena angka kasusnya di atas rata-rata nasional, yakni 4,8/1000. Hanya saja, sebagai catatan, di sesi lain, prevalensi ini ditanggapi secara positif oleh Dr dr Addin Trirahmanto, SpOG (K), bahwa penyebabnya mungkin ada dua: pertama, kesadaran perempuan DIY untuk memeriksakan diri lebih tinggi dari rata-rata perempuan di daerah lain; kedua, angka harapan hidup di DIY lebih tinggi, karena semakin panjang usia seseorang (perempuan) maka potensi terjangkit kankernya makin besar, karena kanker bisa menjangkit di segala usia di atas 30 tahun.

Dijelaskan oleh Veronika, bahwa kanker masuk kategori penyakit tidak menular (PTM), yang secara umum disebabkan oleh beberapa faktor risiko, al: kurang aktivitas fisik, obesitas, merokok, diet tak seimbang, serta konsumsi alkohol. Veronika sepakat dengan dr Addin tentang tiga penyebab utama kanker, yakni: genetik, epinegetik, dan lingkungan. Untuk yang pertama memang tidak bisa berubah atau diubah, termasuk di dalamnya faktor usia dan seks. Sedangkan yang kedua dan ketiga bisa diubah. Yang kedua terkait dengan perilaku seperti merokok, diet yang salah, minuman beralkohol, stres, kurang aktivitas fisik, dan sejenisnya, ini bisa diubah asal tahu ilmunya dan konsisten. Sedangkan yang ketiga terkait dengan masalah-masalah kekinian seperti efek globalisasi, sosial-ekonomi, polusi, dll, juga bisa diubah melalui langkah-langkah penanggulanangan, pencegahan, hanya saja memang dalam hal ini harus ada intervensi pemerintah yang bekerjasama dengan semua elemen masyarakat melalui program dan kebijakan yang terukur.

Dalam paparan Veronika, hal yang sangat disesalkan dalam konteks DIY, bahwa hanya 3% perempuan usia 30-50 atau aktif secara seksual yang sudah melakukan deteksi dini kanker payudara dan kanker leher rahim. Ini sesuatu yang harus menjadi perhatian kita semua, kata Veronika, sehingga sangat diharapkan para hadirin di seminar kali ini, khususnya lintas sektor, bisa menjadi corong pemerintah dalam menyadarkan kaum perempuan DIY ihwal pentingnya deteksi dini kanker alat reproduksi. Dengan deteksi dini, maka potensi terjangkitnya kanker bisa dicegah, sehingga harapan hidupnya akan lebih tinggi. Tujuan pengendalian kanker itu sendiri, ujar Veronika, ada tigaa: pertama, meningkatkan deteksi dini, penemuan dan tindak lanjut dini kanker; kedua, menurunkan angka kematian akibat kanker; serta ketiga, meningkatkan kualitas hidup penderita kanker.

Testimoni Penyintas
Materi keempat disampaikan oleh salah satu penyintas kanker, seorang dosen yang sekaligus pegiat Yayasan Kanker Indonesia Cabang DIY, Ir Dwi Indah Purnamawati. Dwi, panggilan akbrabnya, divonis kanker stadium tinggi pada Maret 2018, dan menurut prediksi dokter yang menangani, usianya paling akan bertahan hingga setahun kemudian, yakni Maret 2019. Dwi, yang tahun ini berusia 60 tahun, kemudian mengisahkan pengalamannya bisa tetap bertahan hidup sampai sekarang (2020). Tips hidup dengan kanker sebenarnya mudah, dan akan sangat membantu kita bertahan hidup asal dijalankan dengan baik dan konsisten. Tipsnya antara lain: (a) pasrah dan tawakal kepada Allah atas sakit yang diterima, dengan pasrah dan tawakal, akan membuat kita jalani hidup dengan ikhlas dan penuh makna; (b) berperilaku yang sehat dan positif, seperti perbanyak aktivitas fisik (olahraga), istirahat dan tidur yang cukup, jangan terlalu lelah, jauhi rokok dan alkohol, dll; (c) konsumsi makanan yang sehat seperti perbanyak sayuran dan buah, perbanyak minum yang sehat, kurang konsumi garam, gula, kolesterol, dan sejenisnya; dan (d) kelola stres.

Seusai pemaparan materi oleh keempat narasumber, acara dilanjutkan tanya jawab. Karena waktu sudah siang, moderator hanya melayani 3 orang penanya, dan semua pertanyaan dijawab oleh ketiga narasumber (dr Addin, dr Veronika, dan Ir Dwi) dengan baik dan penanya terpuaskan.

Banggakencana Bukan Cuma Soal Kontrasepsi 
Sesi terakhir adalah sambutan penutupan yang disampaikan oleh Kaper BKKBN DIY, Dr Ukik Kusuma Kurniawan, SKM, MPS, MA. Ukik, sapaan akrab beliau, sangat mengapresiasi kegiatan ini dan sangat berterimakasih kepada lintas sektor di lingkungan Pemprov DIY yang hadir kali ini, perwakilan OPD KB kabupaten/kota, serta Ketua Pokja Kampung KB dari semua kecamatan di DIY. Program Banggakencana, kata Ukikkk, bukan semata-mata, salah satunya, mengatur kelahiran dengan memakai kontrasepsi pada alat reproduksi, tetapi juga bagaimana mendukung terwujudnya kesehatan di alat reproduksi tersebut. Salah satunya, kata Ukik, dengan menanamkan kesadaran dan memperkaya wawasan PUS tentang bahaya kanker alat reproduksi, karena ternyata penyakit ini merupakan pembunuh nomor 1 kaum perempuan di Indonesia. Itulah salah satu alasan dilaksanakannya kegiatan ini. Dijelaskan oleh Ukik, bahwa dari 10 penyakit utama yang menjangkiti masyarakat akhir-akhir ini, hanya 2 yang infektif (menular), sedangkan 8 lainnya merupakan PTM, yang salah satunya adalah kanker alat reproduksi ini. Terakhir, Ukik mengharapkan agar para peserta seminar menyampaikan hasil-hasil seminar hari ini, agar semakin banyak masyarakat yang tahu dan sadar tentang bahaya kanker, dan dengan demikian mereka tergerak untuk berperilaku hidup yang sehat untuk jauhi kanker, serta melakukan deteksi dini (pemeriksaan awal) atas potensi-potensi terjangkitnya kanker.(*)

[Sabrur Rohim, SAg, MSI, PKB Girisubo dan pimred portal www.ipekbgunungkidul.com]
0 Viewers

Post a comment

0 Comments

The Magazine