Pembinaan BKL Kampung KB Wareng, PKB Sampaikan Tips Tangani Masalah pada Lansia

Jum'at (27/12), Kampung KB Wareng mengadakan pertemuan rutin pembinaan BKL (Bina Kelaurga Lansia) dan Yandu Lansia yang diselenggarakan di Balai Dusun Wareng, Kepek, Saptosari. Dalam acara tersebut dihadiri oleh PKB Kecamatan Saptosari, Kader BKL, anggota BKL Makmur, dan lansia. Acara diawali dengan penimbangan berat badan lansia, pengukuran tinggi badan lansia, dan pengukuran tekanan darah lansia oleh kader BKL, kemudian acara dilanjutkan dengan senam peregangan otot untuk lansia agar lansia senantiasa melatih otot agar tidak kaku dalam melakukan aktivitas sehari-hari dan melatih otak untuk bisa selalu fokus dalam melakukan aktivitas agar tidak mudah pikun. 



Kemudian dilanjutkan dengan pemaparan materi mengenai Pembinaan Sosial Kemasyarakatan Bagi Lansia oleh Ahmad Harwanto, SSos, selaku pembina wilayah. Disampaikan, bahwa lansia dalam keluarga memiliki nilai emosional sendiri yang tidak ternilai bandingannya. Kasih sayang anggota keluarga tercermin dari tindakan dan perilaku sehari-hari, bahkan perlakuan yang berlebihan seperti membatasi gerak langkah lansia sendiri. Seperti tidak boleh bekerja, tidak boleh keluar rumah dan sebagainya. Di sisi lain, terdapat lansia yang masih mempunyai beban seperti masih harus mengasuh cucunya, sehingga cenderung lansia harus tetap tinggal dirumah, tidak perlu bersosialisasi.  Tindakan yang seperti ini sungguh sangat keliru.Sebaiknya lansia diberikan kesempatan untuk berinteraksi dan bersosialisasi dengan teman-temannya yang masih ada. 

Di tengah perjalanan hidup, lanjut Harwanto, lansia pasti menemukan masalah-masalah dalam interaksi sosialnya, masalah itu jangan dibiarkan menjadi meradang dan berlarut dalam diri lansia. Biasanya masalah tersebut adalah sebagai berikut:

1. Masalah yang ditimbulkan dari pasangan hidup
Masalah itu berupa ketidak cocokan diantara masing-masing pihak. Hal ini terjadi karena secara alami lansia sejalan dengan pertambahan usia akan mengalami penurunan fisik maupun psikologis yang dialami oleh kedua pihak. Atau lansia yang ditinggal mati oleh pasangannya mengakibatkan ketidakseimbangan mental atau fisiknya, sehingga dalam menjalankan sisa hidupnya kurang bergairah.

2. Masalah yang ditimbulkan oleh lingkungan keluarga
Masalah itu dapat timbul dari ketidakcocokan dengan sebagian anggota keluarganya atau seluruh anggota keluarga.

3. Masalah yang ditimbulkan oleh lingkungan masyarakat
Lingkungan masyarakat yang tidak kondusif dapat menimbulkan masalah tersendiri bagi lansia, dan akan mudah mempengaruhi mental psikologisnya, sehingga lansia mudah stress dan mudah tersulut emosinya.

4. Masalah yang ditimbulkan oleh pekerjaan
Adakalanya pada situasi tertentu memaksa lansia untuk masih tetap bekerja dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya. Bagi kelompok lansia seperti ini, sudah pasti pekerjaan menjadi beban yang berat bagi dirinya.

Perlindungan bagi lansia yang mengalami masalah, kata harwanto, adalah sebagai berikut:

1. Penelantaran lansia oleh keluarga
Kelompok BKL dapat membantu lansia yang terlantar dengan berbagai macam cara sesuai dengan kemampuan dan kondisi masing-masing. Bantua sekecil apa pun dapat meringankan beban lansia yang diterlantarkan oleh anggota keluarganya.

2. Tindakan kekerasan dan kejahatan
Lansia yang tinggal sendirian rentan akan tindakan kekerasan dan kejahatan seperti pencurian dan pemukulan. Bahkan bentuk umum kekerasan terhadap lansia adalah pelecehan lansia yang dilakukan oleh anggota keluarga atau pengasuh institusi bagi lansia yang dikenal korban. Peran kelompok BKL dapat meminimalisir kasus seperti ini dengan cara semakin meningkatkan kepedulian, membuka lebar forum curhat (curahan hati) sebagai kegiatan wajib pada kegiatan pertemuan penyuluhan.

Kepedulian sesama lansia, tegas Harwanto, sebaiknya harus di jaga dengan cara:

1. Memberikan santunan kepada sesama
Adakalanya hidup ini terasa pahit, terasa getir, kadang juga tangis tidak hanya ada tawa dan bahagia saja. Lansia sebagai sosok pribadi yang  harus tetap dipenuhi kebutuhannya. Bagi lansia yang kurang bernasib baik ini, sebaiknya ditumbuhkan kepedulian antar sesama lansia sendiri, maupun oleh keluarga yang mampu dengan memberikan santunan. Santunan bisa beruap uang, pakaian, jasa maupun barang yang diberikan secara insidentil atau tetap melalui kegiatan yayasan dan BKL, ataupun organisasi kemasyarakatan lainnya.

2. Melakukkan silaturahmi
Melakukan silaturahmi adalah meruapakn terapi yang sangat baik bagi lansia. Obrolan dan bersendau gurau akan menambah semangat lansia dalam menjaga stabilitas hidupnya. Silaturahmi dapat meningkatkan persaudaraan, kekerabatan, dan pertemanan. Hal ini dapat menghibur dan mengurangi penderitaan sesama lansia, sekaligus berbag kebahagiaan.

3. Mengunjungi lansia yang sakit
Selain bernilai ibadah mengunjungi lansia yang sakit akan dapat memberikan dorongan dan kepercayaan diri yang akan memicu semangat hidupnya. Selain itu juga akan bermanfaat menanamkan kesadaran bahwa lansia pada umumnya rentan penyakit akibat menurunnya fungsi dan kemampuan tubuh.

4. Melayat lansia yang meninggal
Mengunjungi lansia yang meninggal adalah merupakan suatu penghormatan dengan memberikan doa yang tulus, agar arwahnya diterima oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dan diberikan keringanan-keringanan serta diampuni segala dosa-dosanya.

Acara ditutup dengan diskusi bersama.(*) [Ahmad Harwanto, SSos, PKB Saptosari]
0 Viewers

Post a comment

0 Comments

The Magazine