Menyiapkan Keluarga Berkualitas Sejak Sebelum Akad; Bimbingan Perkawinan di Kapanewon Ngawen

Oleh: Wiwin Hendrawati, SSos (PKB Kapanewon Ngawen)

NGAWEN — Pernikahan bukan sekadar menyatukan dua insan dalam ikatan suci, tetapi juga menjadi awal terbentuknya sebuah keluarga yang diharapkan mampu melahirkan generasi yang sehat, tangguh, dan berkualitas. Kesadaran inilah yang melandasi penyelenggaraan Bimbingan Perkawinan (Binwin) bagi calon pengantin di Kapanewon Ngawen.

Bertempat di Ruang Rapat Nyawiji Kapanewon Ngawen, Rabu (22/7) pukul 09.00 WIB, kegiatan tersebut diselenggarakan melalui kolaborasi antara Jawatan Sosial Kapanewon Ngawen, Kantor Urusan Agama (KUA) Kapanewon Ngawen, serta Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) Kapanewon Ngawen. Kegiatan ini diikuti oleh para calon pengantin yang dalam waktu dekat akan melangsungkan pernikahan.

Bimbingan Perkawinan merupakan program strategis pemerintah yang bertujuan mempersiapkan pasangan sebelum memasuki kehidupan rumah tangga. Program ini tidak hanya membahas aspek keagamaan, tetapi juga memberikan bekal mengenai kesehatan reproduksi, perencanaan keluarga, pengelolaan ekonomi rumah tangga, komunikasi pasangan, hingga penyelesaian konflik dalam keluarga.

Lebih jauh lagi, Binwin menjadi salah satu instrumen penting dalam mendukung pembangunan keluarga berkualitas sekaligus upaya preventif terhadap berbagai persoalan sosial, seperti pernikahan usia anak, tingginya angka perceraian, kehamilan berisiko, hingga lahirnya anak yang mengalami masalah gizi dan stunting.

Hadir dalam kegiatan tersebut antara lain:

1. H Arif Munandar, SAg, MA, Kepala KUA Kapanewon Ngawen;
2. Fajar Nugroho, SIP, MAP, mewakili Jawatan Sosial Kapanewon Ngawen;
3. Tim Penyuluh Keluarga Berencana Kapanewon Ngawen; serta
4. Para calon pengantin dari berbagai kalurahan di wilayah Kapanewon Ngawen.

Kegiatan diawali dengan pembukaan resmi yang dilanjutkan dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Suasana berlangsung khidmat sekaligus penuh semangat, mencerminkan komitmen bersama untuk mempersiapkan keluarga Indonesia yang lebih berkualitas.

Dalam sambutannya, Fajar Nugroho menyampaikan apresiasi atas sinergi lintas sektor yang terus terjalin dalam penyelenggaraan Bimbingan Perkawinan. Menurutnya, pembinaan kepada calon pengantin merupakan investasi jangka panjang dalam pembangunan sumber daya manusia.

Ia menegaskan bahwa keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama bagi setiap anak. Oleh sebab itu, pembentukan keluarga yang sehat, harmonis, dan bertanggung jawab harus dimulai bahkan sebelum pasangan melangsungkan akad nikah. Melalui pembekalan yang komprehensif, diharapkan calon pengantin memiliki kesiapan yang lebih matang dalam menghadapi dinamika kehidupan rumah tangga.

Senada dengan hal tersebut, Kepala KUA Kapanewon Ngawen, H Arif Munandar menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung penyelenggaraan kegiatan. Ia menilai kolaborasi antara KUA, Jawatan Sosial, dan Penyuluh KB merupakan bentuk nyata pelayanan terpadu kepada masyarakat.

Dalam sesi materi bertajuk "Merencanakan Perkawinan Menuju Keluarga Sakinah", Arif Munandar menjelaskan bahwa keluarga sakinah tidak hadir secara instan, melainkan dibangun melalui komitmen, komunikasi yang sehat, saling menghormati, serta pengamalan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari.

Ia mengingatkan bahwa pernikahan merupakan ikatan lahir dan batin yang memerlukan kesiapan emosional, spiritual, maupun sosial. Oleh karena itu, setiap pasangan perlu memahami hak dan kewajiban masing-masing serta membangun budaya musyawarah ketika menghadapi berbagai persoalan rumah tangga.

Materi berikutnya disampaikan oleh Aulia Hanif Fathudin, SKep, Penyuluh KB Kapanewon Ngawen, yang mengangkat tema "Persiapan Berkeluarga, Kehamilan, dan 4T (Terlalu Muda, Terlalu Tua, Terlalu Dekat, dan Terlalu Banyak)".

Dalam paparannya dijelaskan bahwa perencanaan kehamilan merupakan bagian penting dari upaya mewujudkan keluarga yang sehat. Kehamilan yang direncanakan dengan baik akan memberikan peluang lebih besar bagi ibu untuk menjalani kehamilan secara aman sekaligus mendukung tumbuh kembang anak secara optimal sejak masa awal kehidupan.

Aulia juga menjelaskan konsep 4T, yakni kondisi kehamilan yang sebaiknya dihindari karena meningkatkan risiko terhadap kesehatan ibu maupun bayi. Kehamilan pada usia terlalu muda, terlalu tua, jarak kelahiran yang terlalu dekat, maupun jumlah anak yang terlalu banyak dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya komplikasi kehamilan, persalinan, hingga gangguan pertumbuhan anak.

Sementara itu, Wiwin Hendrawati, SSos, PKB Nglipar, menambahkan bahwa kesiapan membangun keluarga tidak hanya diukur dari kesiapan mental maupun finansial. Kesehatan calon ayah dan calon ibu juga memiliki peran yang sangat menentukan dalam menghadirkan generasi yang sehat dan berkualitas.

Menurutnya, perhatian terhadap kesehatan reproduksi perlu dimulai sejak sebelum menikah melalui pemeriksaan kesehatan, penerapan pola hidup sehat, pemenuhan gizi yang baik, serta kesiapan psikologis kedua calon mempelai. Dengan demikian, pasangan memiliki bekal yang lebih baik dalam menjalani kehamilan yang sehat dan mengasuh anak secara optimal.

Pada kesempatan tersebut juga disosialisasikan pemanfaatan ELSIMIL (Elektronik Siap Nikah dan Siap Hamil). Aplikasi ini menjadi salah satu inovasi pemerintah dalam mendampingi calon pengantin melalui pencatatan kondisi kesehatan, skrining faktor risiko, edukasi kesehatan reproduksi, hingga pemantauan kesiapan pasangan sebelum memasuki masa kehamilan.

Melalui pemanfaatan ELSIMIL, calon pengantin diharapkan semakin mudah memperoleh informasi kesehatan yang akurat sekaligus mendapatkan pendampingan secara berkelanjutan. Upaya ini merupakan bagian dari strategi percepatan penurunan stunting melalui intervensi sejak fase prakonsepsi atau sebelum terjadinya kehamilan.

Selama kegiatan berlangsung, para peserta tampak antusias mengikuti setiap sesi. Berbagai pertanyaan disampaikan seputar perencanaan kehamilan, pengaturan jarak kelahiran, komunikasi dalam rumah tangga, hingga langkah-langkah menjaga kesehatan reproduksi setelah menikah. Interaksi tersebut menunjukkan tingginya kesadaran para calon pengantin akan pentingnya mempersiapkan kehidupan berkeluarga secara menyeluruh.

Bimbingan Perkawinan akhirnya ditutup dengan doa bersama, dilanjutkan sesi foto bersama antara peserta dan para narasumber, serta ramah tamah. Melalui kegiatan ini diharapkan setiap pasangan yang akan memasuki gerbang pernikahan tidak hanya siap melaksanakan prosesi akad nikah, tetapi juga memiliki bekal pengetahuan, sikap, dan keterampilan dalam membangun keluarga yang harmonis, mandiri, serta mampu melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan berkarakter.

Sinergi antara KUA, Jawatan Sosial, dan Penyuluh KB di Kapanewon Ngawen menjadi contoh nyata bahwa pembangunan keluarga berkualitas merupakan tanggung jawab bersama. Ketika calon pengantin dipersiapkan dengan baik sejak awal, maka fondasi menuju keluarga sakinah, masyarakat yang sejahtera, dan Indonesia yang semakin berkualitas akan semakin kokoh.(*)

0 Viewers

Post a Comment

0 Comments

The Magazine