Oleh: Sabrur Rohim, SAg, MSI (PKB Kap Nglipar, Pemred Cahaya Keluarga)
"Seorang anak mungkin akan lupa mainan apa yang pernah dibelikan ayahnya. Namun ia hampir tidak pernah lupa apakah ayahnya hadir ketika dirinya membutuhkan."
Ketika Rumah Kehilangan Sosok Ayah
Suatu
pagi di penghujung Juni 2026, halaman SMA Negeri 1 Karangmojo, Gunungkidul, tampak
berbeda dari biasanya. Puluhan siswa berdiri berbaris menyambut tamu; beberapa
di antara mereka adalah siswa-siswi biasa, sebagian lainnya adalah pengurus
organisasi sekolah yang ditugaskan untuk menyambut tamu istimewa. Di antara
wajah-wajah remaja yang sedang memasuki fase pencarian jati diri itu, tampak
pula sejumlah ayah yang datang menemani putra-putri mereka. Sebagian
menggandeng anaknya sambil berbincang ringan, sebagian lagi hanya tersenyum
canggung ketika diminta berfoto bersama.
Barangkali
bagi sebagian orang, pemandangan tersebut terlihat biasa saja. Namun bagi
banyak anak, kehadiran seorang ayah di sekolah merupakan momen yang tidak
selalu mereka rasakan.
Nah, kehadiran itulah yang sesungguhnya menjadi
inti dari Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI), salah satu program prioritas
Kemendukbangga/BKKBN, di mana Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR) adalah salah
satu wujud implementatifnya. GEMAR ini merupakan inisiatif yang dikampanyekan
secara nasional dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas)
ke-33 Tahun 2026 ini.
Gerakan
ini tidak berbicara tentang nilai matematika yang tinggi, peringkat kelas,
ataupun prestasi akademik semata. GEMAR mengandung pesan simbolik yang jauh
lebih dalam: sekolah bukan hanya urusan ibu, melainkan tanggung jawab bersama
kedua orang tua. Ketika seorang ayah datang mengambil rapor, ia sedang
menyampaikan pesan kepada anaknya bahwa pendidikan adalah perjalanan yang akan
mereka tempuh bersama (ibu, ayah, dan anak).
Untuk
merayakan sebuah momentum penting tentang “kehadiran ayah” dalam GEMAR ini, Menteri
Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Wihaji, menyempatkan secara
khusus hadir di MAN 1 Yogyakarta, salah satu sekolah unggulan di bawah Kemenag
RI. Tetapi sesungguhnya ini bukan sekadar memenuhi agenda seremonial, melainkan
untuk memperlihatkan bahwa gerakan nasional selalu berawal dari
tindakan-tindakan kecil yang dapat dilakukan oleh setiap keluarga.
Di
hadapan para siswa dan orangtua yang hadir, Wihaji memilih berbicara dengan bahasa
yang ringan. Ia tidak memulai dengan data statistik atau istilah birokrasi.
Sebaliknya, ia mengajak para remaja berbincang tentang kehidupan sehari-hari,
tentang hubungan dengan orang tua, tentang cita-cita, dan tentang pentingnya
komunikasi dalam keluarga.
Percakapan
yang berlangsung santai itu justru memperlihatkan inti persoalan yang sedang
dihadapi banyak keluarga Indonesia. Anak-anak masa kini hidup di tengah dunia
yang penuh pilihan. Mereka memiliki akses terhadap pengetahuan yang nyaris tak terbatas.
Namun di saat yang sama, mereka juga berhadapan dengan tekanan sosial yang
semakin kompleks—mulai dari perundungan (bullying), kecanduan gawai, tekanan
akademik, hingga krisis kesehatan mental.
Dalam
situasi seperti itu, keluarga menjadi tempat pertama yang diharapkan mampu
memberikan rasa aman. Dan di dalam keluarga, sosok ayah memiliki posisi yang
tidak tergantikan.
"Kualitas
sebuah bangsa sangat ditentukan oleh kualitas keluarga yang dibangun hari ini.
Kalau ingin memperbaiki negara, maka yang harus diperkuat adalah keluarga
terlebih dahulu," ujar Wihaji di hadapan para siswa dan guru MAN 1
Yogyakarta.
Kalimat
tersebut sesungguhnya merupakan benang merah dari seluruh rangkaian Harganas
2026. Pembangunan keluarga dipandang bukan lagi sebagai urusan domestik,
melainkan sebagai strategi pembangunan bangsa. Negara membutuhkan sumber daya
manusia yang sehat, cerdas, tangguh, dan berkarakter. Semua itu tidak lahir
secara tiba-tiba ketika seseorang memasuki dunia kerja, melainkan dibentuk
sejak masa kanak-kanak melalui interaksi sehari-hari di rumah.
Di depan
guru, orangtua, dan siswa, Wihaji kembali mengingatkan bahwa keluarga adalah
sekolah pertama. Sebelum mengenal guru, anak telah lebih dahulu belajar dari
orang tuanya. Sebelum mengenal buku pelajaran, anak telah mengamati bagaimana
ayah dan ibunya saling menghormati. Sebelum memahami arti tanggung jawab
melalui teori, anak telah melihat bagaimana orang tuanya menepati janji.
Karena
itu, pendidikan karakter tidak pernah dimulai dari ruang kelas. Ia dimulai dari
ruang keluarga.
Kehadiran Mendukbangga di MAN 1 Yogyakarta mendapat sambutan hangat dari pihak sekolah. Kepala MAN 1 Yogyakarta, H Edi Triyanto, SAg, SPd, MPd, menyebut bahwa pendidikan tidak mungkin hanya dibebankan kepada sekolah. Menurutnya, keberhasilan membentuk generasi yang berakhlak mulia memerlukan sinergi yang erat antara keluarga, sekolah, dan pemerintah.
Pandangan
tersebut sejalan dengan kenyataan yang dihadapi dunia pendidikan saat ini. Guru
mungkin hanya bersama peserta didik selama beberapa jam setiap hari.
Selebihnya, anak kembali ke lingkungan keluarga. Di sanalah nilai-nilai yang
diperoleh di sekolah akan diperkuat, atau justru memudar.
Karena
itulah, kampanye GATI dan GEMAR dipandang sebagai angin segar. Bukan karena
menghadirkan program yang rumit, tetapi karena mengingatkan kembali hal-hal
mendasar yang mulai terlupakan: menyapa anak, mendengarkan ceritanya,
menghadiri pertemuan sekolah, mengetahui lingkungan pergaulannya, serta
menunjukkan bahwa pendidikan merupakan tanggung jawab bersama.
Tema
besar "Ayah Wajib Hadir" yang diusung dalam Harganas tahun ini
bukanlah sekadar slogan seremonial. Tema tersebut lahir dari kegelisahan yang
semakin nyata mengenai perubahan pola pengasuhan keluarga Indonesia. Di tengah
derasnya perkembangan teknologi digital, meningkatnya mobilitas pekerjaan,
serta semakin kompleksnya tantangan sosial, banyak keluarga mulai kehilangan
ruang-ruang percakapan yang selama ini menjadi fondasi utama pendidikan
karakter.
Ironisnya,
kondisi tersebut tidak selalu disebabkan oleh perpisahan ataupun kematian.
Tidak sedikit anak yang setiap hari tinggal serumah dengan ayahnya, tetapi
nyaris tidak memiliki kedekatan emosional. Ayah hadir secara fisik, tetapi
absen dalam kehidupan batin anak-anaknya.
Fenomena
inilah yang dalam berbagai kajian pengasuhan sering disebut sebagai fatherless—sebuah
keadaan ketika seorang anak tumbuh tanpa keterlibatan ayah yang memadai dalam
proses perkembangan dirinya. Fatherless bukan semata-mata berarti tidak
memiliki ayah. Lebih dari itu, fatherless menggambarkan hilangnya fungsi ayah
sebagai pendidik pertama, pelindung, sahabat berdiskusi, sekaligus teladan
dalam kehidupan sehari-hari.
Persoalan
tersebut kini menjadi perhatian serius pemerintah. Berbagai penelitian menunjukkan
bahwa keterlibatan ayah berpengaruh terhadap perkembangan psikologis anak,
kemampuan mengelola emosi, prestasi belajar, rasa percaya diri, hingga
kemampuan membangun relasi sosial ketika dewasa. Sebaliknya, minimnya interaksi
antara ayah dan anak sering kali berkorelasi dengan meningkatnya berbagai
persoalan sosial, mulai dari kenakalan remaja, penyalahgunaan narkoba,
kekerasan, hingga pernikahan usia anak.
Karena
itulah, peringatan Hari Keluarga Nasional tahun ini terasa berbeda dibandingkan
tahun-tahun sebelumnya.
Selama
ini, Harganas identik dengan kampanye keluarga kecil, pelayanan KB,
pemberdayaan keluarga, serta penguatan ketahanan keluarga. Seluruh agenda
tersebut tetap penting dan terus dilaksanakan. Namun Harganas ke-33 membawa
satu penekanan baru yang terasa lebih personal: mengajak para ayah kembali
memasuki ruang-ruang pengasuhan yang selama ini lebih banyak dipikul oleh para
ibu.
Pesan itu
sebenarnya sangat sederhana: Bahwa anak-anak tidak hanya membutuhkan biaya
sekolah, mereka juga membutuhkan teman berbicara. Anak-anak tidak hanya
membutuhkan uang saku, mereka membutuhkan seseorang yang mendengarkan cerita
tentang kegagalan, kecemasan, mimpi, dan harapan mereka. Anak-anak tidak hanya
membutuhkan rumah yang megah, mereka membutuhkan rumah yang menghadirkan rasa
aman. Dan rasa aman itu sering kali lahir dari pelukan seorang ayah yang
benar-benar hadir.
Makhluk
Baru Bernama Gawai
Perubahan
zaman membawa konsekuensi yang tidak ringan bagi kehidupan keluarga Indonesia.
Kemajuan teknologi memang menghadirkan berbagai kemudahan, tetapi sekaligus
mengubah cara manusia berinteraksi.
Di ruang
keluarga, gawai perlahan mengambil alih banyak percakapan. Meja makan yang
dahulu menjadi tempat bertukar cerita kini sering berubah menjadi ruang sunyi.
Ayah sibuk memeriksa telepon genggamnya sepulang bekerja. Ibu menyelesaikan
pekerjaan rumah sambil membalas pesan di media sosial. Anak-anak tenggelam
dalam permainan daring atau video pendek yang tidak pernah habis.
Mereka duduk berdekatan, namun sesungguhnya berjauhan. Hubungan yang semestinya dibangun melalui tatap muka perlahan digantikan oleh layar-layar digital. Padahal, tidak ada teknologi yang mampu menggantikan kehangatan tatapan mata seorang ayah ketika mendengarkan cerita anaknya.
Tidak ada
aplikasi yang mampu menggantikan rasa percaya diri yang tumbuh ketika seorang
anak mendapat tepukan bangga dari ayahnya. Tidak ada kecerdasan buatan yang
mampu menggantikan pelukan yang membuat seorang anak merasa dirinya dicintai
tanpa syarat.
Inilah
paradoks kehidupan modern. Semakin canggih teknologi komunikasi, justru semakin
banyak keluarga yang kehilangan komunikasi.
Fenomena
tersebut menjadi tantangan baru pembangunan keluarga Indonesia. Ketahanan
keluarga tidak lagi hanya berbicara mengenai kecukupan ekonomi, tetapi juga
menyangkut kualitas hubungan antaranggota keluarga. Sebab keluarga bukan
sekadar tempat tinggal bersama, melainkan ruang pertama tempat setiap manusia
belajar mengenal cinta, tanggung jawab, disiplin, empati, kejujuran, serta
nilai-nilai kehidupan.
Di
sinilah peran ayah menjadi semakin strategis.
Selama
bertahun-tahun, masyarakat sering memandang keberhasilan seorang ayah dari
seberapa besar penghasilannya. Ukuran tersebut tentu tidak salah. Nafkah
merupakan kewajiban yang tidak dapat ditinggalkan. Akan tetapi, zaman telah
menunjukkan bahwa keberhasilan finansial tidak otomatis menghadirkan keluarga
yang sehat secara emosional.
Banyak
anak tumbuh berkecukupan secara materi, tetapi miskin perhatian. Sebaliknya,
tidak sedikit keluarga sederhana yang justru berhasil membesarkan anak-anak
berkarakter karena ayah dan ibunya hadir dalam keseharian mereka.
Perubahan
cara pandang inilah yang mulai dibangun melalui Harganas ke-33. Pemerintah
ingin menggeser paradigma bahwa keberhasilan seorang ayah tidak hanya diukur
dari kemampuan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, tetapi juga dari
kesediaannya meluangkan waktu, mendampingi proses tumbuh kembang anak,
membangun komunikasi yang hangat, serta menjadi teladan dalam kehidupan
sehari-hari.
Karena
sesungguhnya, anak belajar bukan hanya dari apa yang didengar. Anak belajar
dari apa yang dilihat. Mereka memperhatikan bagaimana ayah memperlakukan ibu. Bagaimana
ayah menyelesaikan konflik. Bagaimana ayah berbicara kepada orang lain. Bagaimana
ayah menepati janji. Bagaimana ayah menghadapi kegagalan. Setiap sikap kecil
itu diam-diam sedang membentuk karakter generasi berikutnya.
Maka,
membangun keluarga pada hakikatnya bukan sekadar membangun rumah tangga.
Membangun keluarga berarti membangun manusia Indonesia di masa depan.
Negara Memanggil Ayah
Pulang
Sementara
itu, pada Jumat siang (26/6), suasana Grha Pandawa, Balai Kota Yogyakarta,
tidak terasa seperti sebuah forum resmi pemerintahan. Kursi-kursi memang
tertata rapi. Para pejabat, tokoh masyarakat, penyuluh keluarga berencana,
remaja generasi berencana (GenRe), akademisi, komunitas ayah, hingga lansia hadir
memenuhi ruangan. Namun yang berlangsung bukanlah rapat birokrasi yang penuh
istilah teknis. Forum itu justru dibangun sebagai ruang percakapan yang
hangat—tempat tiga generasi duduk bersama, saling mendengar, saling belajar,
dan saling mengingatkan.
Kegiatan
bertajuk NGOPI (Ngobrol Perkara Gerakan Ayah Teladan Indonesia/GATI) Lintas
Generasi menjadi salah satu rangkaian utama peringatan Hari Keluarga
Nasional (Harganas) ke-33 Tahun 2026 yang dipusatkan di Daerah Istimewa
Yogyakarta. Pemilihan nama NGOPI bukan tanpa makna. Budaya ngopi di
Indonesia identik dengan suasana santai, egaliter, dan terbuka. Persoalan
keluarga yang selama ini sering dianggap urusan domestik dibawa ke ruang publik
agar menjadi pembicaraan bersama.
Di forum yang
dikemas dalam acara “Angkringan”, dengan tokoh ikoniknya: Dalijo, itulah
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr Wihaji, SAg,
MPd, menyampaikan satu pesan yang berulang kali ia tekankan sepanjang rangkaian
Harganas 2026: bahwa pembangunan keluarga tidak mungkin berhasil apabila
ayah hanya hadir sebagai penyedia kebutuhan ekonomi.
"Ayah
teladan itu bukan sekadar sosok yang memberikan materi lalu selesai. Kehadiran
fisik, tatap muka, dan keterlibatan emosional ayah di rumah minimal satu hingga
dua jam setiap hari sangat menentukan pembentukan karakter anak," tegas
Wihaji.
Pernyataan
itu terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya mengandung perubahan paradigma
yang cukup mendasar.
Selama
bertahun-tahun, masyarakat Indonesia cenderung membagi peran orang tua secara
kaku. Ayah dipersepsikan sebagai pencari nafkah, sedangkan ibu menjadi
penanggung jawab utama pengasuhan. Pembagian tersebut lahir dari realitas
sosial pada zamannya dan tidak sepenuhnya keliru. Namun perubahan dunia
menghadirkan tantangan yang jauh lebih kompleks daripada sekadar memenuhi
kebutuhan sandang, pangan, dan papan.
Anak-anak
abad ke-21 menghadapi dunia yang sama sekali berbeda dibandingkan generasi
orang tuanya. Mereka tumbuh bersama internet. Bersosialisasi melalui media
digital. Belajar dari beragam sumber informasi. Berinteraksi dengan kecerdasan
buatan. Menghadapi banjir informasi yang tidak selalu benar.
Dalam
situasi seperti itu, kehadiran orang tua—terutama ayah—tidak lagi cukup
diwujudkan melalui kecukupan finansial. Anak membutuhkan seseorang yang dapat
menjadi kompas moral, teman berdiskusi, sekaligus tempat bertanya ketika dunia
digital menawarkan begitu banyak pilihan yang sering kali membingungkan.
Di
sinilah, ujar Wihaji menekankan ke sekian kalinya, letak urgensi Gerakan Ayah
Teladan Indonesia (GATI).
Gerakan ini bukan sekadar mengajak ayah lebih sering berada di rumah. Lebih jauh, GATI mengembalikan fungsi ayah sebagai pendidik utama dalam keluarga. Seorang ayah diharapkan tidak hanya mengajarkan cara mencari nafkah, tetapi juga menunjukkan bagaimana menghormati orang lain, menyelesaikan konflik dengan kepala dingin, bertanggung jawab atas setiap keputusan, dan tetap memegang nilai-nilai kehidupan di tengah perubahan zaman.
Wihaji
mengingatkan bahwa sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam
mencerdaskan kehidupan bangsa. Akan tetapi, sekolah pada hakikatnya lebih
banyak menjalankan fungsi transfer of knowledge—mentransfer ilmu
pengetahuan. Sementara itu, pembentukan karakter, moral, etika, empati, dan
nilai-nilai kehidupan justru berlangsung pertama kali di dalam keluarga.
Rumahlah
yang menjadi sekolah pertama. Orang tualah guru pertamanya. Dan ayah adalah
salah satu tokoh utama di dalamnya.
Karena
itu, ketika fungsi keluarga melemah, sekolah tidak mungkin menanggung seluruh
beban pendidikan karakter seorang anak. Sebaik apa pun kurikulum yang disusun,
sehebat apa pun guru yang mengajar, pendidikan formal tidak akan mampu
menggantikan sentuhan kasih sayang yang lahir dari rumah.
Pandangan
inilah yang menjadi benang merah seluruh rangkaian Harganas tahun ini. Bahwa pembangunan
keluarga dipandang sebagai investasi jangka panjang yang menentukan kualitas
sumber daya manusia Indonesia. Dalam konteks tersebut, keluarga tidak lagi
ditempatkan sebagai urusan privat semata, melainkan sebagai fondasi pembangunan
nasional. Sebab dari keluargalah lahir generasi yang kelak akan mengisi
ruang-ruang kepemimpinan, dunia usaha, pendidikan, kesehatan, hingga
pemerintahan.
Fakta
Fatherless
Di tengah
forum, Menteri Wihaji kemudian mengungkapkan satu fakta yang mengundang
keheningan.
Sekitar
seperempat anak Indonesia hidup dalam situasi fatherless. Data itu bukan
sekadar angka statistik. Di baliknya terdapat jutaan anak yang tumbuh tanpa
kedekatan emosional dengan sosok ayah. Ada yang kehilangan ayah karena
perceraian atau kematian. Namun tidak sedikit pula yang sesungguhnya tinggal
serumah, hanya saja hubungan emosional di antara mereka nyaris tidak pernah
terbangun.
Fenomena
inilah yang kemudian menjadi perhatian serius Kemendukbangga/ BKKBN.
Istilah fatherless
sering kali disalahartikan sebagai kondisi ketika seorang anak tidak memiliki
ayah. Padahal maknanya jauh lebih luas. Seorang anak dapat mengalami fatherless
meskipun ayahnya masih hidup, apabila interaksi, perhatian, dan pendampingan
hampir tidak pernah diberikan.
Dalam
banyak kasus, kondisi tersebut berlangsung tanpa disadari. Ayah berangkat
bekerja sebelum anak bangun tidur. Pulang ketika anak sudah tertidur. Akhir
pekan habis untuk menyelesaikan pekerjaan atau beristirahat. Hari berganti
minggu. Minggu berganti bulan. Anak tumbuh dewasa. Tetapi percakapan di antara keduanya
tidak pernah benar-benar terjadi.
Tidak ada
yang salah dengan bekerja keras. Bahkan bekerja untuk keluarga merupakan bentuk
tanggung jawab yang mulia. Namun ketika seluruh energi habis untuk pekerjaan
hingga tidak tersisa waktu bagi keluarga, maka rumah perlahan kehilangan salah
satu fungsi terpentingnya: menjadi ruang bertumbuh bersama.
Karena
itulah Wihaji berulang kali mengingatkan bahwa anak tidak cukup dilayani secara
ekonomi.
"Bayar
SPP memang penting. Memberikan kebutuhan hidup juga penting. Tetapi anak juga
membutuhkan kehadiran ayah pada sisi psikologisnya," ujar Wihaji.
Pesan
tersebut tampak sederhana, tetapi menyentuh persoalan yang selama ini jarang
dibicarakan secara terbuka. Selama ini keberhasilan seorang ayah sering diukur
dari besar kecilnya penghasilan. Padahal bagi seorang anak, ukuran keberhasilan
ayah jauh lebih sederhana. Apakah ayah mendengarkan ketika ia bercerita? Apakah
ayah datang ketika rapor dibagikan? Apakah ayah tahu siapa sahabatnya? Apakah
ayah memahami cita-citanya? Apakah ayah hadir ketika ia gagal? Pertanyaan-pertanyaan
itulah yang ingin dijawab melalui tema besar: "Ayah Wajib Hadir."
Tema ini
tidak dimaksudkan untuk menyalahkan para ayah. Sebaliknya, ia merupakan ajakan
untuk kembali menemukan keseimbangan antara tanggung jawab mencari nafkah dan
tanggung jawab mengasuh keluarga. Sebab pada akhirnya, keberhasilan pembangunan
tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kualitas manusia
yang lahir dari keluarga-keluarga Indonesia.
Di hadapan
peserta dialog, Wihaji menyampaikan apresiasinya terhadap berbagai pemerintah
daerah di DIY khususnya, juga daerah-daerah lain, yang merespons inisiatif
Kemendukbangga/BKKBN untuk mensukseskan “Gerakan Ayah Mengambil Rapor” (GEMAR).
Menurutnya, gerakan tersebut merupakan contoh nyata bagaimana keterlibatan ayah
dapat dibangun melalui langkah-langkah sederhana, tetapi berdampak besar.
Wihaji
menambahkan, bahwa Yogyakarta dinilai memiliki modal sosial yang kuat dalam
pembangunan keluarga. Angka harapan hidup yang tinggi, Indeks Pembangunan
Manusia (IPM) yang baik, serta budaya pendidikan yang telah mengakar menjadi
fondasi penting bagi lahirnya berbagai inovasi sosial.
Namun
Wihaji mengingatkan bahwa capaian-capaian tersebut tidak boleh membuat semua pihak
lengah. Tantangan keluarga modern terus berkembang, mulai dari kesehatan mental
remaja, penggunaan gawai yang berlebihan, perundungan, kekerasan, hingga
berbagai persoalan relasi dalam keluarga.
Karena
itu, pembangunan keluarga tidak pernah boleh berhenti. Ia harus terus
diperbarui mengikuti perubahan zaman. Dan salah satu langkah paling mendasar
adalah memastikan bahwa setiap anak memiliki kesempatan untuk bertumbuh bersama
ayah yang hadir, mendengar, dan membersamai mereka. Sebab pada akhirnya, kekuatan
sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh gedung-gedung pencakar langit, jalan
tol yang membentang, atau pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Bangsa yang kuat
lahir dari keluarga yang kuat. Keluarga yang kuat lahir dari hubungan yang
hangat. Dan hubungan yang hangat selalu dimulai dari kehadiran orang-orang yang
saling menyediakan waktu. Termasuk seorang ayah.
Yogyakarta
Sebagai Titik Puncak Peringatan Harganas 2026
Puncak Peringatan Harganas tahun ini dilaksanakan di Yogyakarta, persisnya di Beteng Vredeburg, Titik 0 Km, yang berdekatan dengan kompleks Malioboro. Acar ini dihadiri Mendukbangga sebagai pembina upacara, Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X dan jajaran Forkopimda, lintas lembaga terkait nasional dan provinsi, serta seluruh penyuluh KB se-Indonesia.
Pilihan
menjadikan Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai pusat peringatan Harganas 2026
juga menyimpan makna tersendiri yang terkait dengan tema, “Ayah Wajib Hadir”. Kenapa?
Karena,
sejarah Hari Keluarga Nasional (Harganas) sendiri sesungguhnya menyimpan pesan
yang sangat kuat tentang arti kehadiran seorang ayah dalam keluarga. Filosofi
yang melatarbelakangi peringatan Harganas tidak dapat dilepaskan dari
perjalanan panjang bangsa Indonesia mempertahankan kemerdekaannya. Pada masa Revolusi
Fisik 1945–1949, ribuan ayah meninggalkan rumah bukan karena mengabaikan
keluarganya, melainkan karena panggilan yang lebih besar: mempertahankan
kemerdekaan bangsa agar anak dan istrinya dapat hidup dalam kebebasan.
Perang memaksa banyak keluarga
hidup dalam keterpisahan. Anak-anak tumbuh tanpa kehadiran ayah di sisi mereka.
Seorang istri harus memikul sendiri tanggung jawab mengasuh keluarga, sembari
menanti dengan harap-harap cemas kabar dari medan perjuangan. Bagi para
pejuang, setiap langkah di garis depan sesungguhnya adalah ikhtiar untuk
menjaga masa depan keluarganya.
Karena itu, ketika pada 29 Juni
1949 pasukan Tentara Nasional Indonesia kembali memasuki Yogyakarta dan
pemerintahan Republik kembali berjalan di ibu kota perjuangan, peristiwa tersebut
tidak hanya dimaknai sebagai kemenangan diplomasi dan militer. Ia juga menjadi
simbol kembalinya para ayah ke tengah keluarganya. Tangis haru yang pecah di
berbagai sudut kampung bukan sekadar ungkapan sukacita atas berakhirnya perang,
melainkan kebahagiaan karena keluarga-keluarga Indonesia dapat kembali utuh.
Nilai historis itulah, kata
Mendukbangga Dr Wihaji, SAg, MPd, dalam sambutannya sebagai pembina upacara,
yang kemudian menjadi salah satu landasan filosofis lahirnya Hari Keluarga
Nasional. Harganas mengingatkan bahwa setelah kemerdekaan berhasil
dipertahankan, perjuangan bangsa tidak berhenti. Medan juangnya bergeser, dari
parit dan hutan gerilya menuju rumah-rumah tempat keluarga dibangun. Jika
dahulu perjuangan dilakukan dengan bambu runcing dan senjata, kini perjuangan
diwujudkan melalui kasih sayang, pendidikan, pengasuhan, dan keteladanan di
dalam keluarga.
Dalam konteks itulah tema "Ayah Wajib Hadir"
pada Peringatan Hari Keluarga Nasional ke-33 Tahun 2026 menemukan maknanya yang
paling mendalam. Kehadiran ayah hari ini memang tidak lagi dituntut di medan
perang, tetapi justru di medan kehidupan keluarga. Dulu, bangsa ini merindukan
kepulangan para ayah dari medan perang. Kini, bangsa ini merindukan kepulangan
para ayah dari berbagai "medan" yang menyita perhatian
mereka—kesibukan pekerjaan, tekanan ekonomi, gawai, media sosial, hingga
berbagai aktivitas lain yang sering tanpa disadari mengurangi waktu berkualitas
bersama keluarga.
Pada akhirnya, Harganas ke-33
Tahun 2026 mengajak kita memaknai kehadiran ayah sebagai kelanjutan dari
semangat perjuangan para pendahulu. Jika dahulu para ayah mempertaruhkan nyawa
demi mempertahankan kemerdekaan bangsa, maka ayah masa kini dipanggil untuk
memperjuangkan kualitas generasi penerus melalui kehadiran nyata dalam
kehidupan keluarga. Sebab keluarga yang kuat akan melahirkan masyarakat yang
tangguh, dan masyarakat yang tangguh akan menjadi fondasi Indonesia yang maju.
Dengan demikian, tema "Ayah Wajib Hadir"
bukan sekadar slogan. Ia adalah pesan moral yang menjembatani sejarah dan
masa depan. Dari ayah pejuang yang kembali memeluk keluarganya setelah perang,
hingga ayah masa kini yang setiap hari memilih untuk hadir mendampingi tumbuh
kembang anak-anaknya, keduanya dipersatukan oleh satu keyakinan yang sama:
bahwa keluarga adalah tempat pertama dan utama membangun peradaban bangsa.(*)





0 Comments