Ayah Hadir, Keluarga Hebat; Dari Forum RT/RW Watusigar, Menumbuhkan Gerakan Ayah yang Lebih Dekat dengan Keluarga

Oleh: Dra Lilih Eryani (PKB Kapanewon Ngawen)


NGAWEN | Suasana Balai Kalurahan Watusigar pada Rabu pagi, 24 Juni 2026, tampak berbeda dari biasanya. Puluhan Ketua RT, Ketua RW, dan para Dukuh datang memenuhi ruang pertemuan untuk mengikuti forum pembinaan yang rutin diselenggarakan Pemerintah Kalurahan Watusigar, Kapanewon Ngawen. Namun, kali ini pembahasan yang mengemuka tidak semata-mata berkutat pada administrasi kewilayahan, pembangunan, maupun pelayanan masyarakat.

Di tengah dinamika kehidupan yang semakin kompleks, forum tersebut justru mengangkat tema yang sangat dekat dengan kehidupan setiap keluarga: bagaimana menghadirkan kembali sosok ayah sebagai figur yang aktif, hangat, dan terlibat dalam tumbuh kembang anak. Sebuah gagasan sederhana, tetapi memiliki dampak yang sangat besar bagi masa depan generasi penerus.

Bagi sebagian orang, peran ayah sering kali masih dipahami sebatas pencari nafkah. Kesibukan bekerja membuat banyak ayah memiliki waktu yang terbatas untuk berinteraksi dengan anak-anaknya. Padahal, berbagai penelitian menunjukkan bahwa kehadiran ayah dalam kehidupan anak memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan karakter, kesehatan mental, rasa percaya diri, hingga prestasi belajar.


Menghadirkan Ayah sebagai Pilar Utama Keluarga

Kesadaran inilah yang kemudian menjadi semangat utama dalam forum pembinaan RT/RW yang dihadiri 69 peserta tersebut. Pemerintah Kalurahan Watusigar memanfaatkan momentum tersebut untuk memperkenalkan dua gerakan nasional yang saling menguatkan, yakni Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) dan Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR).

Melalui sosialisasi tersebut, para Ketua RT dan RW tidak hanya memperoleh informasi mengenai kedua program, tetapi juga diajak menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. Mereka diharapkan mampu menumbuhkan budaya baru yang menempatkan ayah sebagai sosok yang hadir secara utuh dalam kehidupan keluarga.

Gerakan Ayah Teladan Indonesia (GATI) mengajak para ayah untuk menjalankan peran yang lebih luas daripada sekadar memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Ayah didorong menjadi pendidik pertama, pelindung, sekaligus teladan dalam kehidupan sehari-hari. Kehadiran ayah diwujudkan melalui hal-hal sederhana, seperti meluangkan waktu untuk bercengkerama, mendengarkan cerita anak, membantu belajar, bermain bersama, hingga memberikan contoh perilaku yang baik.

Kedekatan emosional yang terbangun dari aktivitas sederhana tersebut menjadi fondasi penting bagi tumbuhnya karakter anak. Anak yang merasa diperhatikan dan dihargai cenderung memiliki rasa aman, kemampuan berkomunikasi yang lebih baik, serta lebih percaya diri dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.


GEMAR: Langkah Sederhana yang Bermakna Besar

Sementara itu, Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR) membawa pesan yang tidak kalah penting. Selama ini, pembagian rapor di sekolah lebih sering dihadiri oleh ibu. Melalui gerakan ini, para ayah diajak untuk turut hadir mengambil rapor anak, berdialog dengan guru, sekaligus memberikan apresiasi atas setiap proses belajar yang telah dijalani anak.

Kehadiran ayah pada momen tersebut bukan sekadar formalitas. Bagi seorang anak, melihat ayah datang ke sekolah merupakan bentuk perhatian yang memiliki makna emosional yang mendalam. Anak merasa bahwa usaha belajarnya dihargai, sementara rapor tidak lagi dipandang sekadar kumpulan angka, melainkan menjadi bahan komunikasi positif antara ayah, anak, dan guru untuk bersama-sama merencanakan langkah pembelajaran berikutnya.


RT/RW sebagai Penggerak Perubahan

Dalam forum tersebut, para Ketua RT dan RW didorong menjadi "duta" GATI dan GEMAR di wilayah masing-masing. Mereka diharapkan dapat mengingatkan para orang tua melalui berbagai kesempatan, baik dalam pertemuan warga maupun komunikasi sehari-hari. Kalimat-kalimat sederhana seperti, "Pak, besok jadwal ambil rapor ya," atau "Yuk Pak, malam ini temani anak membaca buku selama lima belas menit," diyakini mampu menumbuhkan kebiasaan positif apabila dilakukan secara konsisten.

Perubahan budaya memang tidak selalu dimulai dari program yang besar. Justru langkah-langkah kecil yang dilakukan bersama-sama sering kali menjadi awal lahirnya perubahan sosial yang berkelanjutan. Ketika lingkungan mulai membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya peran ayah, maka keluarga pun akan tumbuh menjadi ruang belajar yang lebih hangat dan harmonis.

Antusiasme peserta terlihat sepanjang sesi diskusi. Beberapa Ketua RT dan RW berbagi pengalaman pribadi mengenai perubahan yang mereka rasakan setelah mulai melibatkan diri dalam aktivitas anak-anak di rumah. Ada yang mengaku kini rutin mengantar dan menjemput anak sekolah. Ada pula yang mulai membiasakan diri menanyakan pekerjaan rumah, menemani belajar pada malam hari, atau sekadar mendengarkan cerita anak sepulang sekolah.

Bagi sebagian orang, aktivitas tersebut mungkin tampak sederhana. Namun, bagi seorang anak, perhatian itu menjadi bentuk kasih sayang yang sangat berarti. Hubungan yang sebelumnya terasa berjarak perlahan berubah menjadi lebih hangat, penuh kepercayaan, dan membuka ruang komunikasi yang lebih baik antara orang tua dan anak.


Keteladanan Dimulai dari Rumah

Sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut, Wahono yang mewakili Pemerintah Kalurahan Watusigar menegaskan bahwa keluarga yang tangguh selalu diawali dari hadirnya sosok ayah yang mampu menjadi teladan bagi anak-anaknya. Seorang ayah bukan hanya dilihat dari apa yang diucapkannya, tetapi terutama dari apa yang setiap hari diperlihatkannya di hadapan keluarga.

Menurutnya, anak-anak adalah peniru yang sangat baik. Apa yang mereka lihat dari ayahnya akan membentuk cara berpikir dan perilaku mereka di masa depan. Oleh karena itu, ayah perlu menunjukkan kebiasaan-kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari serta menghindari perilaku yang dapat memberikan contoh buruk, seperti merokok di depan anak, mengonsumsi minuman keras, maupun meluapkan kemarahan secara tidak terkendali. Keteladanan yang diberikan melalui tindakan nyata jauh lebih membekas dibandingkan nasihat yang hanya diucapkan.

Membangun Masa Depan Dimulai dari Kehadiran Ayah

Forum pembinaan RT/RW di Watusigar pada akhirnya bukan sekadar menjadi ruang sosialisasi program pemerintah. Lebih dari itu, forum ini menjadi pengingat bahwa pembangunan keluarga merupakan pondasi utama pembangunan bangsa. Ketika ayah hadir secara fisik, emosional, dan moral di tengah keluarga, maka anak-anak akan tumbuh dengan rasa aman, kasih sayang, serta nilai-nilai kehidupan yang kuat.

Dari balai kalurahan yang sederhana itu, lahirlah sebuah harapan besar. Harapan bahwa gerakan menghadirkan ayah tidak berhenti sebagai slogan, melainkan menjelma menjadi budaya baru yang hidup di setiap rumah, setiap RT, dan setiap RW. Sebab, ayah hebat bukanlah ayah yang sempurna, melainkan ayah yang bersedia meluangkan waktu, memberikan teladan, dan selalu hadir menemani setiap langkah tumbuh kembang anak-anaknya.

0 Viewers

Post a Comment

0 Comments

The Magazine