Oleh: Purwadi, SHI (PKB Kap Saptosari)
SAPTOSARI – Program GEMA SENJA (Gerak, Main, Seni Lansia Bersahaja) dilaksanakan bagi anggota Bina Keluarga Lansia/Sekolah Lansia (BKL/SL) Manunggal Asih Padukuhan Tritis, Kalurahan Planjan, Kapanewon Saptosari, sebagai salah satu upaya memperkuat dimensi intelektual dan vokasional dalam konsep Lansia Tangguh. Program ini dirancang untuk memberikan pengetahuan yang bermanfaat sekaligus menghadirkan kegiatan pembinaan yang melibatkan praktik dan keterampilan, sehingga para lansia dapat berpartisipasi secara aktif sesuai dengan kemampuan masing-masing.Secara substansial, GEMA SENJA tidak hanya dimaksudkan sebagai kegiatan pengisi waktu luang, tetapi juga sebagai ruang belajar yang partisipatif dan aplikatif bagi lansia. Melalui aktivitas yang menyenangkan, program ini diharapkan mampu menstimulasi kemampuan berpikir, kreativitas, keterampilan, serta produktivitas lansia melalui pengalaman belajar secara langsung. Pendekatan semacam ini penting karena proses penuaan tidak seharusnya dipandang sebagai fase menurunnya peran sosial seseorang, melainkan sebagai tahap kehidupan yang tetap dapat diisi dengan aktivitas bermakna, sehat, dan produktif.
Pada Selasa, 13 Mei 2026, mahasiswa Praktik Kerja Departemen (PKD) Pendidikan Nonformal dari Universitas Negeri Yogyakarta melaksanakan program pemberdayaan lansia bertajuk GEMA SENJA di Padukuhan Tritis, Kalurahan Planjan. Program tersebut merupakan bagian dari kegiatan PKD yang dilaksanakan di Balai Penyuluhan KB Kapanewon Saptosari.
Pelaksanaan kegiatan mendapat dukungan langsung dari mahasiswa Pendidikan Nonformal Universitas Negeri Yogyakarta, Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) Kapanewon Saptosari, kader BKL/SL Manunggal Asih, serta para lansia sebagai peserta utama kegiatan. Kolaborasi ini menjadi salah satu kekuatan program, karena pembinaan lansia pada dasarnya memerlukan keterlibatan berbagai pihak, baik dari unsur akademik, penyuluh lapangan, kader, maupun keluarga dan masyarakat sekitar. Dengan dukungan tersebut, program dirancang tidak hanya menyenangkan, tetapi juga relevan dengan kebutuhan lansia agar mereka tetap aktif, kreatif, dan produktif.
Pelaksanaan GEMA SENJA terdiri atas tiga rangkaian kegiatan utama, yaitu Gerak, Main, dan Seni. Kegiatan pertama adalah Gerak, berupa senam tangan ringan yang bertujuan meningkatkan kebugaran sekaligus mempersiapkan kondisi fisik peserta sebelum mengikuti rangkaian kegiatan berikutnya. Aktivitas fisik sederhana seperti ini memiliki nilai penting bagi lansia, karena dapat membantu menjaga kelenturan, koordinasi gerak, dan semangat untuk tetap aktif.
Rangkaian kedua adalah Main, yang diwujudkan melalui kegiatan menggambar pengalaman berkesan pada masa muda, kemudian menceritakannya kembali kepada peserta lain. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sarana hiburan, tetapi juga berfungsi sebagai stimulasi daya ingat, kreativitas, serta kemampuan komunikasi lansia. Saat para peserta diminta mengenang pengalaman masa lalu, sesungguhnya mereka sedang diajak mengaktifkan kembali memori, menyusun cerita, dan membagikan makna hidup yang pernah mereka alami. Dalam konteks pembinaan lansia, aktivitas semacam ini penting untuk menjaga kesehatan kognitif sekaligus memperkuat relasi sosial antarpeserta.Sebagai penutup, peserta mengikuti kegiatan Seni, yaitu praktik membuat gelang dari manik-manik. Aktivitas ini bertujuan melatih keterampilan motorik halus, ketelitian, kesabaran, dan kreativitas. Selain menghasilkan karya sederhana, kegiatan tersebut juga memberi pengalaman bahwa lansia tetap mampu berkarya dan menghasilkan sesuatu yang bernilai. Dari sudut pandang vokasional, keterampilan semacam ini dapat menjadi sarana untuk menumbuhkan rasa percaya diri, menambah aktivitas produktif, bahkan berpotensi dikembangkan menjadi kegiatan ekonomi sederhana apabila dilakukan secara berkelanjutan dan terorganisasi.
Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dalam suasana hangat dan penuh antusiasme. Para peserta tampak aktif mengikuti setiap sesi, mulai dari senam, menggambar, berbagi cerita pengalaman hidup, hingga merangkai gelang manik-manik. Antusiasme tersebut menunjukkan bahwa lansia pada dasarnya tetap memiliki semangat belajar dan berkegiatan apabila diberikan ruang yang ramah, menyenangkan, dan sesuai dengan kebutuhan mereka.
Melalui sesi berbagi pengalaman, para lansia juga memperoleh kesempatan untuk mengenang perjalanan hidup mereka sekaligus mempererat hubungan sosial dengan sesama anggota kelompok. Hal ini menjadi nilai tambah yang penting, sebab salah satu tantangan pada usia lanjut adalah menurunnya intensitas interaksi sosial yang dapat memengaruhi kondisi psikologis lansia. Oleh karena itu, kegiatan kelompok seperti GEMA SENJA tidak hanya berfungsi sebagai sarana pembelajaran, tetapi juga sebagai media untuk menjaga kebersamaan, mengurangi rasa sepi, dan menumbuhkan perasaan dihargai dalam komunitasnya.
Dalam perspektif Lansia Tangguh, kegiatan ini relevan untuk menguatkan setidaknya dua dimensi penting, yakni dimensi intelektual dan dimensi vokasional. Dimensi intelektual tercermin dari upaya menstimulasi daya pikir, daya ingat, kemampuan bercerita, dan kreativitas peserta. Sementara itu, dimensi vokasional tampak dalam kegiatan keterampilan yang mendorong lansia tetap produktif, telaten, dan percaya diri dalam menghasilkan karya. Dengan demikian, lansia tidak hanya diposisikan sebagai penerima layanan, tetapi juga sebagai individu yang tetap memiliki potensi untuk berkembang dan berkontribusi.
Berdasarkan hasil evaluasi melalui refleksi peserta, program GEMA SENJA mendapatkan respons positif dari para lansia. Selain memperoleh pengalaman baru, peserta juga merasa lebih percaya diri, lebih produktif, dan lebih termotivasi untuk terus mengikuti kegiatan pembinaan lansia pada masa mendatang. Respons ini menjadi indikator bahwa kegiatan yang dirancang secara sederhana, tetapi dekat dengan kebutuhan peserta, dapat memberikan dampak psikologis dan sosial yang cukup berarti.
Melalui program ini, mahasiswa tidak hanya mengimplementasikan kompetensi pemberdayaan keluarga yang diperoleh selama perkuliahan, tetapi juga turut berkontribusi dalam mendukung terwujudnya lansia yang sehat, aktif, mandiri, dan bermartabat. Kegiatan ini sekaligus memperlihatkan bahwa sinergi antara perguruan tinggi, penyuluh lapangan, kader, dan masyarakat dapat melahirkan praktik pemberdayaan yang kontekstual serta bermanfaat langsung bagi warga.
Ke depan, program GEMA SENJA diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif model pembinaan lansia yang inovatif dan berkelanjutan, baik di lingkungan BKL/SL Manunggal Asih maupun pada kelompok lansia lainnya. Dengan pendekatan yang partisipatif, menyenangkan, dan aplikatif, pembinaan lansia tidak hanya berfokus pada aspek kesehatan fisik, tetapi juga memberi ruang bagi penguatan mental, sosial, intelektual, dan keterampilan. Pada akhirnya, lansia yang tangguh bukan hanya mereka yang panjang usia, tetapi juga mereka yang tetap memiliki semangat belajar, ruang berkarya, dan kesempatan untuk merasa berarti di tengah keluarga maupun masyarakat.(*)
0 Comments