GEDANGSARI | Pagi itu, Selasa, 19 Mei 2026, suasana Pendopo Kalurahan Hargomulyo, Kapanewon Gedangsari, Kabupaten Gunungkidul, tampak lebih ramai dari biasanya. Sejak pukul 08.30 WIB, satu per satu keluarga datang membawa balita mereka. Sebanyak 60 keluarga berkumpul di pendopo dengan satu harapan yang sama: belajar menjadi orang tua yang lebih siap dalam mengasuh anak, sekaligus mengambil bagian dalam upaya mencegah stunting sejak dari rumah.
Mereka hadir dalam kegiatan “Pertemuan Penyuluhan Pola Asuh (Parenting) bagi Keluarga Berisiko Stunting”, sebuah agenda penting yang didanai melalui Dana Desa Kalurahan Hargomulyo. Kegiatan ini bukan sekadar pertemuan seremonial, melainkan wujud nyata bahwa pembangunan desa hari ini tidak hanya berbicara tentang infrastruktur fisik, tetapi juga tentang investasi jangka panjang pada kualitas manusia. Di tengah tantangan stunting yang masih menjadi pekerjaan rumah di banyak wilayah, langkah Hargomulyo menunjukkan bahwa pencegahan harus dimulai dari unit terkecil: keluarga.
Acara resmi dimulai pukul 09.00 WIB. Seluruh hadirin berdiri khidmat saat lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan. Setelah itu, Mars KB turut dinyanyikan bersama, menambah semangat para kader, orang tua, dan seluruh peserta yang hadir. Di balik rangkaian pembukaan itu, tersimpan pesan yang kuat: upaya menurunkan stunting bukan hanya tugas tenaga kesehatan atau pemerintah, melainkan gerakan bersama yang memerlukan keterlibatan keluarga, masyarakat, dan seluruh unsur desa.
Kegiatan dibuka secara resmi oleh Lurah Hargomulyo, Sumaryanta, SAP. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya pemanfaatan Dana Desa untuk hal-hal yang berdampak jangka panjang, salah satunya melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini. Menurutnya, pencegahan stunting harus dipandang sebagai investasi masa depan desa, karena anak-anak yang tumbuh sehat hari ini akan menjadi generasi produktif yang menentukan wajah Hargomulyo pada masa mendatang.
Harapan itu disampaikan dengan sederhana, tetapi sarat makna: semoga 60 keluarga yang hadir benar-benar dapat menyerap ilmu dari para narasumber, lalu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, stunting tidak selalu lahir dari kurangnya makanan semata, melainkan juga dari pola asuh, pengetahuan keluarga, kebersihan lingkungan, hingga kebiasaan makan anak yang terbentuk sejak dini.
Untuk itulah, pertemuan ini menghadirkan dua narasumber dengan sudut pandang yang saling melengkapi. Di satu sisi, keluarga diajak memahami pentingnya pola asuh yang hangat, aman, dan mendukung tumbuh kembang anak. Di sisi lain, peserta juga dibekali pengetahuan praktis tentang gizi, pola makan, dan kebiasaan sehat yang berpengaruh langsung terhadap pencegahan stunting. Kombinasi dua materi ini membuat diskusi tidak berhenti pada teori, tetapi menyentuh persoalan nyata yang dihadapi orang tua setiap hari di rumah.
Mengasuh Anak Bukan Sekadar Memberi Makan
Sesi pertama disampaikan oleh Wawan Hari Purnomo, Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) dari BKKBN, dengan topik “Cara yang Baik Mengasuh Anak dalam Keluarga”. Suasana penyuluhan terasa hangat sejak awal. Pak Wawan membuka sesi dengan interaksi ringan bersama para ibu dan balita, menciptakan ruang yang cair dan akrab sebelum masuk ke inti materi.
Dalam paparannya, Pak Wawan menegaskan bahwa pola asuh tidak bisa dipahami hanya sebagai urusan memberi makan atau memenuhi kebutuhan fisik anak. Lebih dari itu, pengasuhan adalah proses membangun kedekatan emosional, rasa aman, dan kelekatan antara orang tua dan anak. Anak yang tumbuh dalam suasana keluarga yang hangat cenderung lebih mudah berkembang, baik secara fisik maupun psikologis.
Ia mengingatkan pentingnya pengasuhan positif, yakni cara mendidik anak tanpa kekerasan verbal maupun fisik. Bentakan, ancaman, atau hukuman yang berlebihan sering kali dianggap wajar dalam praktik pengasuhan sehari-hari. Padahal, tekanan emosional yang terus-menerus dapat membuat anak mengalami stres, kehilangan rasa nyaman, bahkan memengaruhi nafsu makan dan kesehatannya. Dalam jangka panjang, situasi seperti ini bisa berdampak pada tumbuh kembang anak secara keseluruhan.
Pak Wawan juga menekankan bahwa urusan mengasuh anak bukan hanya tanggung jawab ibu. Keterlibatan ayah memegang peran yang sangat penting dalam menciptakan lingkungan keluarga yang sehat dan stabil. Kehadiran ayah tidak hanya dibutuhkan sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai figur yang terlibat dalam aktivitas harian anak—mengajak bermain, menemani makan, mendengarkan, hingga memberi dukungan emosional. Ketika ayah dan ibu berjalan bersama dalam pengasuhan, anak tumbuh dalam suasana yang lebih aman, lebih tenang, dan lebih bahagia.
Hal lain yang ditekankan adalah pentingnya memanfaatkan layanan posyandu sebagai tempat memantau pertumbuhan dan perkembangan anak. Orang tua diajak aktif datang ke posyandu, mencermati hasil penimbangan, pengukuran tinggi badan, serta berkonsultasi jika ada tanda-tanda tumbuh kembang yang perlu diperhatikan. Menurut Pak Wawan, pengasuhan yang baik bukan hanya soal kasih sayang, tetapi juga soal kepekaan orang tua dalam mengenali kebutuhan anak sesuai tahap usianya.
Stunting Bukan Hanya Soal Makan Sedikit
Sesi berikutnya disampaikan oleh Ibu Monika, Ahli Gizi dari Puskesmas Gedangsari I, dengan topik “Cegah Stunting dengan Perbaikan Pola Asuh”. Jika sesi pertama mengajak peserta memahami fondasi emosional dalam pengasuhan, maka sesi kedua membawa orang tua pada persoalan yang lebih teknis, tetapi sangat dekat dengan keseharian mereka: bagaimana memberi makan anak dengan benar.
Ibu Monika menjelaskan bahwa stunting tidak terjadi secara tiba-tiba. Kondisi ini merupakan akumulasi dari berbagai faktor, mulai dari asupan gizi yang tidak adekuat, pola makan yang kurang tepat, infeksi berulang, hingga kebiasaan pengasuhan yang belum mendukung pertumbuhan optimal anak. Karena itu, mencegah stunting tidak cukup hanya dengan “membuat anak kenyang”, tetapi memastikan anak mendapatkan gizi yang cukup, seimbang, dan sesuai kebutuhannya.
Salah satu poin penting yang disampaikan adalah tentang responsive feeding atau pola asuh makan yang responsif. Orang tua perlu peka terhadap tanda lapar dan kenyang pada anak. Anak sebaiknya tidak dipaksa makan, apalagi dengan cara membentak, menakut-nakuti, atau mengejar-ngejar sambil menyuapi. Praktik seperti ini justru dapat membuat anak trauma saat waktu makan, menolak makanan, dan akhirnya menjadi picky eater. Makan seharusnya menjadi pengalaman yang menyenangkan, bukan situasi penuh tekanan.
Ibu Monika juga menekankan pentingnya memahami prinsip “Isi Piringku” dan kebutuhan protein hewani dalam menu harian anak. Melalui contoh replika makanan, ia menunjukkan bahwa menu balita tidak cukup hanya berisi nasi dan kuah sayur. Anak membutuhkan sumber protein hewani seperti telur, ikan, ayam, hati, atau bahan pangan bergizi lainnya untuk menunjang pertumbuhan tinggi badan, perkembangan otak, dan daya tahan tubuh. Pesan ini penting, karena dalam praktik sehari-hari masih banyak keluarga yang menganggap anak sudah makan cukup ketika perutnya terisi, padahal kualitas gizinya belum tentu memadai.
Selain soal makanan, Ibu Monika mengingatkan bahwa pencegahan stunting juga erat kaitannya dengan sanitasi dan kebersihan. Mencuci tangan sebelum menyiapkan makanan, menjaga kebersihan alat makan, memastikan air yang digunakan aman, hingga membiasakan lingkungan rumah tetap bersih merupakan bagian dari pola asuh yang sering dianggap sepele, padahal sangat menentukan. Anak yang sering mengalami diare atau infeksi berulang akan lebih sulit menyerap nutrisi secara optimal. Akibatnya, makanan bergizi yang sudah diberikan pun tidak selalu dapat dimanfaatkan tubuh dengan baik.
Di titik inilah para peserta diajak memahami bahwa stunting bukan semata-mata persoalan kemiskinan atau kekurangan bahan pangan. Dalam banyak kasus, stunting juga berkaitan dengan kurangnya informasi, kebiasaan pengasuhan yang belum tepat, dan minimnya kesadaran bahwa tumbuh kembang anak harus dipantau secara konsisten. Karena itu, penyuluhan semacam ini menjadi penting: menghadirkan pengetahuan yang praktis, dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan bisa langsung diterapkan di rumah.
Saat Pertanyaan Para Ibu Menjadi Cermin Persoalan Nyata
Setelah sesi pemaparan materi, acara dilanjutkan dengan tanya jawab. Inilah salah satu bagian yang paling hidup. Para ibu memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berkonsultasi langsung mengenai persoalan yang mereka hadapi sehari-hari, mulai dari anak yang susah makan, kebiasaan Gerakan Tutup Mulut (GTM), anak yang hanya mau makanan tertentu, hingga kebingungan mengatur jadwal makan dan camilan.
Pertanyaan-pertanyaan itu memperlihatkan bahwa persoalan pengasuhan tidak pernah sesederhana teori di atas kertas. Di rumah, orang tua berhadapan dengan situasi yang sangat nyata: anak menolak makan, anak lebih suka jajan, anak rewel ketika disuapi, atau orang tua sendiri merasa bingung harus memulai dari mana. Karena itu, jawaban dari Ibu Monika dan Pak Wawan terasa penting bukan hanya karena bersifat informatif, tetapi juga menenangkan. Orang tua diberi pemahaman bahwa tantangan seperti GTM atau pilih-pilih makanan adalah hal yang cukup umum, dan ada cara-cara yang bisa dicoba secara bertahap tanpa perlu panik.
Di sela-sela diskusi, para kader posyandu tampak sigap membantu mendampingi balita yang hadir. Kehadiran mereka membuat suasana pendopo tetap relatif tertib meski dipenuhi puluhan anak kecil dengan energi yang tentu tidak sedikit. Dari sini terlihat bahwa keberhasilan kegiatan seperti ini bukan hanya bergantung pada narasumber atau peserta, tetapi juga pada kerja kolektif para kader di tingkat desa yang selama ini menjadi garda terdepan dalam mendampingi keluarga.
Mencegah Stunting Berarti Menjaga Masa Depan Desa
Kegiatan ditutup pada pukul 13.00 WIB. Namun, yang pulang dari pendopo siang itu bukan hanya para ibu yang membawa anak-anak mereka. Mereka juga membawa pulang pengetahuan, kesadaran baru, dan semoga juga keyakinan bahwa pengasuhan yang baik adalah pondasi penting bagi masa depan anak.
Penyuluhan parenting bagi keluarga berisiko stunting di Kalurahan Hargomulyo ini menunjukkan satu hal yang sangat mendasar: pencegahan stunting tidak cukup dilakukan melalui pembagian makanan tambahan atau pemeriksaan kesehatan semata. Pencegahan stunting harus menyentuh ruang paling intim dalam kehidupan anak, yaitu rumah, meja makan, pelukan orang tua, kebiasaan keluarga, dan keputusan-keputusan kecil yang diambil setiap hari.
Di situlah sesungguhnya masa depan dibentuk. Ketika orang tua memahami cara mengasuh dengan hangat, memberi makan dengan tepat, menjaga kebersihan, dan aktif memantau tumbuh kembang anak, maka mereka sedang menanam fondasi bagi generasi yang lebih sehat, lebih cerdas, dan lebih siap menghadapi masa depan.
Dari Pendopo Hargomulyo, ikhtiar itu tampak dimulai dengan sungguh-sungguh. Bukan dengan langkah besar yang spektakuler, melainkan lewat kesediaan untuk duduk bersama, belajar bersama, dan memperbaiki hal-hal kecil di rumah. Sebab, sering kali perubahan besar memang lahir dari ruang-ruang sederhana seperti itu—dari desa, dari keluarga, dan dari orang tua yang memilih untuk tidak menyerah pada masa depan anak-anaknya.(*)
0 Comments