Oleh: Sabrur Rohim, SAg. MSI (PKB Nglipar)
Sejak pukul 09.00 WIB, satu per satu peserta mulai berdatangan. Mereka bukan sekadar tamu biasa, melainkan para koordinator Penyuluh KB dari seluruh kapanewon di Kabupaten Gunungkidul. Kehadiran mereka dalam pertemuan rutin bulanan Paguyuban Koordinator Penyuluh KB bukan hanya untuk memenuhi agenda, tetapi juga menjadi ruang berbagi pengalaman, evaluasi, dan penguatan komitmen untuk memajukan program pembangunan keluarga dan percepatan penurunan stunting.
Pertemuan kali ini terasa istimewa karena dilaksanakan di Kapanewon Patuk, sesuai dengan sistem arisan bergilir yang menjadi tradisi paguyuban. Selain mempererat kebersamaan, sistem ini juga memberi kesempatan bagi setiap wilayah untuk menjadi tuan rumah sekaligus menunjukkan potensi lokalnya.
Acara dimulai dengan pembukaan yang sederhana namun khidmat melalui doa bersama. Dalam keheningan sesaat itu, terselip harapan agar setiap langkah yang diambil dalam program keluarga berencana membawa manfaat nyata bagi masyarakat.
Apresiasi
Tuan rumah, Drs Jumadal selaku Koordinator Penyuluh KB Kapanewon Patuk, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada wilayahnya untuk menjadi lokasi pertemuan bulan ini. Ia juga berbangga bisa membawa para koordinator PKB untuk berkunjung ke Hermoyo Edupark, lokasi yang sangat asri dan indah, meski jaraknya cukup jauh dan di pedalaman Patuk.
“Pertemuan seperti ini hendaknya bukan hanya sekadar rutinitas," ujar Jumadal, "... tetapi menjadi ruang untuk saling menguatkan antar koordinator dari berbagai kapanewon. Kita menghadapi dinamika yang tidak selalu mudah, tetapi dengan kebersamaan, kita bisa tetap berjalan. Di sini saya mewakili teman-teman PKB Patuk mengucapkan apresiasi dan terimakasih atas kehadiran teman-teman koordinator di tempat ini,” ungkapnya.
Senada dengan itu, Ketua Paguyuban Koordinator Penyuluh KB Kabupaten Gunungkidul, Hudoyo, SSos, yang juga menjabat sebagai Koordinator PKB Kapanewon Tepus, menyoroti pentingnya konsistensi dalam menjalankan program Bangga Kencana. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan program tidak hanya diukur dari angka, tetapi juga dari dampak nyata yang dirasakan masyarakat.
“Program Bangga Kencana bukan sekadar target administratif. Ini tentang bagaimana kita hadir di tengah masyarakat, mendampingi keluarga agar lebih berkualitas, di tengah kondisi anggaran yang mengalami efisiensi. Di tahun ini masih banyak amanah yang diletakkan di punggung kita, khususnya program-program prioritas yang dicanangkan oleh Kemendukbangga,” ujarnya.
Ragam Permasalahan
Namun, inti dari pertemuan ini tidak hanya berhenti pada sambutan. Agenda utama berupa monitoring dan evaluasi (monev) pelaksanaan program Bangga Kencana dari masing-masing kapanewon menjadi bagian penting yang dinantikan.
Dalam sesi ini, para koordinator menyampaikan perkembangan program di wilayahnya masing-masing. Diskusi berlangsung terbuka, dengan berbagai persoalan lapangan yang diangkat, mulai dari pelaksanaan kegiatan BOKB, persiapan baksos MKJP, persiapan pelayanan MOW, pelaporan kegiatan-kegiatan prioritas melalui aplikasi BKKBN, pemusnahan alat/obat KB kadaluwarsa,hingga terkait SKP, evisum penyuluh, atau kebijakan yang belakangan ini sedang disorot dan ancang-ancang akan diterapkan: WFH (work from home).
Mutasi dan Adaptasi
Di tengah dinamika tersebut, peran Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Kalurahan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPMKPPKB) Kabupaten Gunungkidul menjadi sangat strategis. Melalui pembinaan yang dilakukan secara langsung, para penyuluh mendapatkan arahan sekaligus motivasi untuk tetap bergerak.
Kabid Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana, Mohammad Ali Mas’udi, SKM, MAP, hadir bersama jajaran pejabat struktural di bidang Dalduk dan KB. Dalam arahannya, ia menyampaikan sejumlah poin penting yang menjadi perhatian bersama.
Salah satu isu utama yang dibahas adalah terkait efisiensi anggaran. Dalam situasi yang menuntut pengelolaan sumber daya secara lebih bijak, para penyuluh diminta untuk mampu beradaptasi tanpa mengurangi esensi program.
“Yang terpenting adalah progres, bahwa ada angka-angka yang dilaporkan,jangan sampai ada yang kolom yang kosong. Tidak harus selalu mendekati target pusat, tetapi bagaimana kegiatan tetap berjalan dan memberikan dampak,” tegasnya.
Pernyataan tersebut memberikan perspektif baru bagi para peserta. Dalam kondisi keterbatasan, fleksibilitas menjadi kunci agar program tetap dapat berjalan secara efektif.
Selain itu, ia juga menyinggung mengenai mutasi antar kapanewon yang menjadi bagian dari dinamika organisasi. Menurutnya, setiap penyuluh perlu memiliki kemampuan adaptasi yang baik terhadap lingkungan kerja yang baru.
“Mutasi adalah hal yang biasa. Justru di situlah kita diuji untuk bisa cepat menyesuaikan diri dan tetap memberikan kinerja terbaik,” tambahnya.
Topik lain yang tidak kalah penting adalah kebijakan Work From Home (WFH) yang diterapkan pemerintah kepada sebagian pegawai. Dalam arahannya, ia menegaskan bahwa kebijakan tersebut harus dijalankan sebagaimana mestinya, namun tidak boleh mengurangi kualitas pelayanan kepada masyarakat.
“Absensi bisa dilakukan dari rumah, tetapi pekerjaan tetap harus berjalan. Jika ada instruksi dari atasan, harus siap kapan saja,” jelasnya.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa fleksibilitas kerja bukan berarti menurunkan tanggung jawab, melainkan menuntut kedisiplinan yang lebih tinggi.
Diskusi yang berlangsung sepanjang pertemuan menunjukkan bahwa para penyuluh KB tidak hanya berperan sebagai pelaksana program, tetapi juga sebagai garda terdepan dalam pembangunan keluarga. Mereka hadir langsung di tengah masyarakat, memahami kondisi riil, dan menjadi penghubung antara kebijakan pemerintah dengan kebutuhan warga.
Di sela-sela kegiatan formal, suasana keakraban tampak begitu kental. Para peserta saling bertukar cerita, berbagi pengalaman lapangan, hingga sesekali diselingi canda ringan yang mencairkan suasana. Momen seperti ini menjadi penting untuk menjaga semangat dan mengurangi kejenuhan dalam menjalankan tugas.
Hermoyo Edupark sendiri menjadi latar yang mendukung suasana tersebut. Dengan nuansa alam yang asri, tempat ini tidak hanya menjadi lokasi pertemuan, tetapi juga ruang refleksi bagi para penyuluh untuk sejenak melepas penat dari rutinitas.
Pertemuan rutin ini pada akhirnya bukan hanya soal agenda bulanan, melainkan juga tentang membangun jejaring, memperkuat koordinasi, dan menjaga semangat pengabdian. Di tengah berbagai keterbatasan dan tantangan, para penyuluh KB di Gunungkidul terus berupaya menjalankan perannya dengan penuh dedikasi.
Program Bangga Kencana yang mereka emban bukan sekadar slogan, tetapi menjadi upaya nyata untuk meningkatkan kualitas hidup keluarga. Mulai dari perencanaan keluarga, pengendalian penduduk, hingga pembangunan ketahanan keluarga, pencegahan stunting, semuanya bermuara pada satu tujuan: menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera.
Seiring berakhirnya kegiatan, satu per satu peserta mulai meninggalkan lokasi. Namun, semangat yang terbangun selama pertemuan tampaknya akan terus terbawa hingga kembali ke wilayah masing-masing. Di balik kesederhanaan pertemuan ini, tersimpan komitmen besar untuk terus bergerak. Para penyuluh KB tidak hanya menjalankan tugas, tetapi juga membawa harapan bagi masa depan keluarga di Gunungkidul. Amin.(*)
0 Comments