Yuh Roni, "Pria Perkasa" dari Gari, Wonosari

Kontributor: Dra Umi Wasriyati, MM (PKB Kap Wonosari)

WONOSARI | Peningkatan KB Pria di Kalurahan Gari, Wonosari, sejauh ini terus dilakukan melalui kerjasama BPKB dengan lintas sektor terkait. Salah satu caranya, misalnya, adalah dengan kerjasama antara PKB dengan TP PKK Kalurahan Gari. Pada Sabtu (4/3) dilakukan KIE KB MOP dihadapan ibu-ibu PKK Padukuhan Gatak, Kalurahan Gari oleh Yuh Roni, sebagai motivator KB pria, dari kelompok KB Pria "Perkasa", Kalurahan Gari, Wonosari.

Sebagai gambaran tentang profilnya, Yuh Roni adalah seorang pria berusia 47 tahun yang berasal dari Desa Gari, Wonosari. Ia telah menikah dengan istri tercinta, Suratinah, dan memiliki dua orang anak. Sebagai seorang kepala keluarga, Yuh Roni merasa bertanggung jawab untuk menjaga kesejahteraan keluarganya. Salah satu cara yang ia pilih untuk melakukan hal tersebut adalah dengan melakukan tindakan vasektomi sebagai alat kontrasepsi jangka panjang (MKJP), atau disebut juga MOP (metode operasi pria).

Vasektomi adalah suatu tindakan medis yang dilakukan pada pria dengan tujuan menghalangi sperma untuk mencampur dengan cairan semen dan keluar melalui penis. Dalam prosedur vasektomi, seorang dokter atau ahli bedah akan melakukan operasi kecil dengan memotong dan mengikat atau menyumbat tabung-tubung kecil yang membawa sperma dari testis menuju penis.

Yuh Roni memutuskan untuk melakukan vasektomi setelah ia dan istrinya mempertimbangkan beberapa opsi kontrasepsi jangka panjang yang tersedia. Setelah melakukan diskusi dengan keluarga besar, juga bertanya kepada kader KB di Gari, serta berkonsultasi dengan penyuluh KB Wonosari, Yuh Roni memutuskan bahwa vasektomi adalah pilihan yang paling cocok bagi mereka karena efektivitasnya yang tinggi, tidak mengandung hormon, dan efek sampingnya yang relatif minim.

Sebelum melakukan vasektomi, Yuh Roni menjalani beberapa tes medis untuk memastikan bahwa ia memenuhi syarat untuk melakukan tindakan ini. Ia juga berkonsultasi dengan bidan di Puskesmas Wonosari untuk mempelajari lebih lanjut tentang prosedur dan risikonya.

Setelah memastikan bahwa ia memenuhi syarat dan memahami prosedur dengan baik, Yuh Roni melakukan operasi vasektomi di salah satu RS di Yogyakarta, yakni RS DKT (milik TNI), beserta banyak akseptor lainnya pada 2014. Prosedur tersebut berlangsung selama sekitar 30 menit dan Yuh Roni merasa tidak terlalu sakit selama dan setelah tindakan. Dalam hal biaya, operasi vasektomi ini gratis karena difasilitasi oleh penyuluh KB pembina Kalurahan Gari, Dra Umi Wasriyati, MM. Yuh Roni hanya dibebani biaya untuk transportasi ke RS, sehingga tidak terlalu membebani keuangan keluarganya. Yuh Roni menganggap bahwa biaya yang ia keluarkan jauh lebih murah dan efektif dibandingkan dengan biaya yang harus dikeluarkan untuk merawat anak-anak dalam jangka panjang.

Setelah melakukan vasektomi, Yuh Roni tetap menjalani kehidupan normal seperti biasa. Ia merasa lebih tenang karena tidak perlu lagi khawatir akan kehamilan yang tidak diinginkan. Meskipun demikian, ia tetap mematuhi aturan dan anjuran yang diberikan oleh dokter setelah tindakan, seperti tidak berhubungan seksual selama beberapa waktu (kecuali dengan memakai pelindung) dan menghindari aktivitas yang terlalu berat atau membebani area panggul. Dalam hal berhubungan seks, maka pada 16 x ejakulasi pertama harus menggunakan kontrasepsi kondom.

Setelah beberapa bulan, Yuh Roni melakukan tes AS (analisis sperma) untuk memastikan bahwa tindakan vasektomi yang ia lakukan berhasil. Tes tersebut menunjukkan bahwa ia benar-benar steril dan tidak menghasilkan sperma yang bisa membuahi sel telur.

Pada prinsipnya, Yuh Roni merasa puas dengan keputusannya untuk melakukan vasektomi sebagai alat kontrasepsi jangka panjang. Ia merasa bahwa tindakan ini memberikan banyak manfaat bagi dirinya dan keluarganya. Selain itu, Yuh Roni juga berharap bahwa pengalaman dan keputusannya ini dapat menjadi inspirasi bagi orang lain yang sedang mempertimbangkan untuk melakukan vasektomi.

Menurut Yuh Roni, kesadaran akan pentingnya penggunaan alat kontrasepsi jangka panjang masih belum tinggi di Indonesia, terutama di daerah pedesaan seperti tempat tinggalnya. Ia berharap bahwa dengan berbagi pengalaman dan informasi tentang vasektomi, ia dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya perencanaan keluarga dan kontrasepsi jangka panjang.

"Saya berharap bahwa pemerintah dapat memberikan dukungan lebih besar dalam hal penyediaan informasi dan akses terhadap MKJP seperti vasektomi ini, terutama bagi masyarakat Gari," katanya kepada PKB.

Dalam kehidupan sehari-hari, Yuh Roni adalah seorang yang berprofesi sebagai tukang, khususnya yang terkait dengan perkayuan. Ia sangat mencintai keluarganya dan selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi mereka. 

Yuh Roni adalah contoh nyata dari seorang pria yang bertanggung jawab dalam menjaga kesejahteraan keluarga dan masyarakatnya. Keputusannya untuk melakukan vasektomi sebagai alat kontrasepsi jangka panjang merupakan salah satu tindakan konkret yang ia lakukan untuk mencapai tujuan tersebut. Ia berharap bahwa pengalaman dan keputusannya ini dapat memberikan manfaat dan inspirasi bagi orang lain yang membutuhkan informasi tentang kontrasepsi jangka panjang dan perencanaan keluarga.

Itulah kenapa, selain berprofesi sebagai tukang untuk mencukupi nafkah anak dan istrinya, Yuh Roni juga telah menjadi seorang motivator kontrasepsi bagi para pria di Kalurahan Gari. Ia menyadari bahwa masih banyak pria yang enggan ikut KB Pria, dalam hal ini vasektomi. Oleh karena itu, Yuh Roni tidak keberatan untuk menjadi seorang motivator untuk mengedukasi masyarakat tentang pentingnya kontrasepsi MOP bagi kaum pria. Ia juga tergabung dalam poktan kelompok KB Pria "Perkasa", Kalurahan Gari, Wonosari.

Sebagai seorang motivator, Yuh Roni seringkali diundang untuk memberikan presentasi dan diskusi (tanya jawab) tentang kontrasepsi jangka panjang MOP di berbagai acara pertemuan kader dan masyarakat di kalurahannya. Dalam setiap kesempatan, ia berusaha untuk menyampaikan informasi tentang alasan ikut MOP, pengalaman saat tindakan operasi, serta pengalaman setelah menjadi akseptor MOP. Ia berbicara dengan cara yang mudah dipahami dan tidak terlalu teknis. Ia juga mengajak para pria untuk menjadi prias sejati, pria perkasa, yang sayang istri dengan menjadi akseptor MOP. 

Menurut Yuh Roni, banyak pria yang awalnya enggan ikut KB jangka panjang, tetapi setelah mendengarkan presentasi yang ia berikan soal pengalamannya, mereka mulai menyadari manfaat dari MKJP MOP dan akhirnya memutuskan untuk ikut MOP. Yuh Roni merasa senang dan bangga dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kontrasepsi jangka panjang vasektomi.

Dalam banyak paparannya, Yuh Roni mengatakan bahwa keputusan untuk menggunakan alat kontrasepsi jangka panjang seperti vasektomi harus dilakukan bersama-sama oleh suami dan istri, dengan mempertimbangkan kondisi kesehatan dan situasi keuangan keluarga. Dalam hal ini, Yuh Roni berharap MOP dapat menjadi sebuah solusi yang tepat bagi pasangan yang ingin menunda atau mengatur jumlah anak yang mereka miliki.

Pada pertemuan dengan ibu-ibu kader TP PKK Gari beberapa waktu lalu, Yuh Roni menyampaikan pengalamannya (testimoni) sebagai peserta KB Pria yang disambut dengan antusiame Ibu-ibu PKK untuk mendengarkan dan menyimak apa yang disampaikan oleh Yuh Roni.


Dikatakan Yuh Roni, bahwa selama ber-KB MOP sejak tahun 2014, hal itu tak mengurangi keharmonisan, tidak mengurangi hubungan suami istri. Ia tetap bugar dan sehat. Yuh Roni sebagai pekerja keras juga merasa tidak ada keluhan sama sekali, tidak ada kendala dalam kegiatan sehari-hari. "MOP tidak sama dengan kebiri," tambah Yuh Roni. "Kalau tidak percaya, lihat 'barang' saya...!" Gelak tawa ibu-ibu pun mewarnai terdengar membahana menanggapi penjelasan Yuh Roni.

Sekilas diuraikan Yuh Roni dalam paparan kepada kader TP PKK, antara lain, bahwa program KB memiliki banyak manfaat, yakni: 

1. Manfaat untuk kesehatan: (a) meningkatkan kesehatan keluarga melalui perencanaan keluarga, melalui pengaturan jumlah, jarak dan waktu kehamilan; (2) mencegah risiko kesakitan dan kematian ibu dan anak; (3) memungkinkan menyusui eksklusif pada bayi; (4) membebaskan wanita dari rasa khawatir terhadap terjadinya kehamilan yang tidak direncanakan.
2. Manfaat Sosio-ekonomi; (a) menciptakan keluarga yang sejahtera, hal mana orangtua memiliki lebih banyak waktu untuk memberikan perhatian terhadap tumbuh kembang dan pendidikan anak yang berkualitas; (b)  ibu memiliki lebih banyak waktu untuk mengurus diri sendiri dan keluarga, karena dengan ber-KB  memberikan kesempatan perempuan untuk berperan di bidang sosial dan ekonomi; serta (c) memudahkan perencanaan keuangan dan menghemat pengeluaran keluarga.

Terkait dengan MOP, Yuh Roni mengatakan bahwa  prosedurnya ringan dan cepat hanya 15 menit, MOP tidak mempengaruhi kejantanan pria, bersifat, permanen, cocok untuk pasangan yang tidak ingin memiliki anak lagi, tetapi penting untuk diperhatikan bahwa setelah tindakan operasi perlu untuk dilakukan pemeriksaan analisis sperma setelah 3 blan untuk memastikan efektivitas vasektomi.

Menurut Yuh Roni, vasektomi dapat disebut juga sterilisasi pria adalah metode kontrasepsi untuk pria berupa tindakan medis pemotongan dan pengikatan saluran sperma kanan dan kiri.

Cara kerjanya, kata Yuh Roni, adalah melalui pemotongan dan pengikatan saluran sperma menyebabkan cairan mani yang keluar tidak lagi mengandung sel sperma. Prosedur ini dapat dikembalikan melalui proses rekanalisasi namun kemungkinan untuk kembali subur seperti semula terbilang rendah.


Ok, terimakasih sharing wawasan dan pengalamannya, ya, Yuh Roni. Semoga tetap jadi pria "perkasa" yang bermanfaat bagi keluarga dan sesama.(*) 
0 Viewers

Post a Comment

0 Comments

The Magazine